Emas Melesat ke Puncak Tujuh Pekan, Depresiasi Dolar dan Asa Damai Iran Angkat Pasar
Thursday, August 06, 2026       03:47 WIB
  • Emas naik 4,4% ke level tertinggi hampir tujuh pekan.
  • Reli didorong dolar AS melemah dan optimisme AS-Iran.
  • Perak, platinum, dan paladium ikut menguat.

Ipotnews - Harga emas melesat ke level tertinggi dalam hampir tujuh pekan, Rabu, mencatat kenaikan harian terbesar sejak Februari. Reli tersebut didorong pelemahan dolar AS, turunnya imbal hasil US Treasury, serta meningkatnya optimisme bahwa konflik di Timur Tengah mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.
Emas spot melambung 4,4 persen menjadi USD4.253,36 per ons pada pukul 01.15 WIB, setelah menyentuh USD4.264,93, level tertinggi sejak 18 Juni. Penguatan tersebut juga membawa emas menembus rata-rata pergerakan (moving average) 50 hari yang kini berada di kisaran USD4.160 per ons dan menjadi area penopang teknikal, demikian laporan  Reuters,  di Bengaluru, Rabu (5/8) atau Kamis (6/8) dini hari WIB.
Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Desember ditutup melompat 3,7 persen ke posisi USD4.305,20 per ons.
Trader logam independen, Tai Wong, mengatakan investor mulai kembali masuk ke pasar logam mulia karena peluang kenaikan suku bunga AS semakin mengecil dibandingkan pekan lalu.
Menurutnya, pelemahan tajam dolar AS menjadi faktor utama yang mendukung kenaikan harga emas. Selain itu, jeda ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran juga memberikan sentimen positif bagi pasar.
Dolar AS diperdagangkan di dekat level terendah dalam enam pekan terhadap mata uang utama lainnya. Pada saat yang sama, imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun bertahan di sekitar level terendah dalam sepekan setelah Presiden Donald Trump menyatakan pemerintahannya telah menggelar pembicaraan yang "sangat baik" dengan Iran dalam perundingan yang berlangsung sepanjang hari.
Pernyataan tersebut memicu harapan bahwa konflik yang telah berlangsung selama lima bulan dapat segera menemukan jalan menuju penyelesaian.
Pelemahan dolar membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sementara turunnya imbal hasil obligasi mengurangi biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Meski mencatat reli kuat, harga emas masih berada sekitar 24 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa di USD5.594,82 per ons yang dicapai pada Januari. Sejak pecahnya perang Iran yang sempat memicu kekhawatiran terhadap inflasi energi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga, harga logam kuning juga masih merosot sekitar 19 persen.
Data World Gold Council menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral sepanjang semester pertama 2026 menjadi yang terendah sejak 2022. Sementara itu, ETF berbasis emas mencatat arus keluar 45 ton pada kuartal kedua, ketika harga emas mengalami penurunan kuartalan terdalam sejak 2013 dengan koreksi sekitar 14 persen.
Dalam laporannya, J.P. Morgan menyebut bahwa dengan pembelian bank sentral yang masih terbatas, minat investor ritel yang beralih ke aset lain, serta permintaan fisik di Asia yang relatif lemah, arus investasi ke ETF berbasis emas yang sensitif terhadap prospek suku bunga kini kembali menjadi faktor utama yang menentukan arah harga emas.
Tai Wong menambahkan bahwa agar reli logam mulia berlanjut lebih kuat, pasar memerlukan ekspektasi pemangkasan suku bunga yang lebih nyata. Namun, menurutnya, skenario tersebut kemungkinan baru akan terjadi paling cepat pada 2027.
Logam mulia lainnya, harga perak spot melambung 4,4 persen menjadi USD62,11 per ons setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 6 Juli.
Harga platinum naik tipis 0,2 persen menjadi USD1.740,04 per ons, sedangkan paladium menguat 1,5 persen jadi USD1.373,24 per ons. Kedua logam tersebut masing-masing sempat mencapai level tertinggi sejak 17 Juni dan 2 Juni, didorong optimisme atas pembicaraan damai terkait konflik Iran.
Analis Standard Chartered, Suki Cooper, mengatakan harga platinum dan paladium sebelumnya telah mencerminkan berbagai sentimen negatif sejak pecahnya konflik, mulai dari kekhawatiran perlambatan produksi otomotif, meningkatnya pangsa pasar kendaraan listrik, hingga prospek pertumbuhan pasokan dari daur ulang logam.
Cooper memperkirakan pasar platinum masih akan mengalami defisit pasokan sepanjang tahun ini, sedangkan pasar paladium diproyeksikan berbalik mengalami surplus pada 2026. (Reuters/AI)

Sumber : Admin