- Emas naik 0,64% ke USD4.132 setelah turun ke level terendah sepekan.
- Geopolitik AS-Iran dan kekhawatiran inflasi menopang emas, namun dolar kuat menekan.
- Pasar menanti risalah FOMC terkait arah suku bunga the Fed.
Ipotnews - Harga emas bangkit dari level terendah hampir seminggu, Rabu, ketika investor menantikan risalah pertemuan Federal Reserve dengan kekhawatiran inflasi yang kembali muncul akibat serangan Amerika-Iran yang membatasi kenaikan logam tersebut.
Emas spot naik 0,64% menjadi USD4.132,38 per ons pada pukul 13.25 WIB, setelah menyentuh level terendah sejak 2 Juli di awal sesi, demikian laporan Reuters dan Bloomberg, di Bengaluru, Rabu (8/7).
Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Agustus turun 0,37% menjadi USD4.141,90 per ons.
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Garda Revolusi Iran menyatakan telah menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Pernyataan tersebut muncul setelah Washington melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran dan mencabut izin yang sebelumnya memungkinkan negara tersebut menjual minyak mentah. Langkah itu diambil setelah tiga kapal tanker dilaporkan terkena serangan proyektil di Selat Hormuz.
Kepala Strategi Makro Global Tastylive, Ilya Spivak, mengatakan dalam 24 jam terakhir pasar kembali dihantui kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut mendorong harga obligasi melemah, sementara dolar AS melesat sehingga sempat menekan harga emas sebelum akhirnya kembali stabil.
Menurut Spivak, pasar saat ini tengah mengamati apakah harga emas mampu membentuk titik dasar (bottom) setelah mengalami koreksi dalam beberapa hari terakhir.
Di pasar keuangan global, harga minyak mentah melambung lebih dari 3% di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Imbal hasil US Treasury turut naik, sementara Indeks Dolar (Indeks DXY) menguat hingga mencapai level tertinggi dalam sepekan.
Pelaku pasar kini meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan tersebut meningkat menjadi lebih dari 63%, dibandingkan sekitar 57% sehari sebelumnya.
Fokus investor selanjutnya tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee ( FOMC ) yang digelar pada 16-17 Juni dan dijadwalkan dirilis hari ini. Dokumen tersebut diperkirakan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga di bawah kepemimpinan Chairman Kevin Warsh.
Spivak menilai risalah rapat FOMC akan menjadi perhatian utama pasar karena dapat menjelaskan apakah pejabat bank sentral lebih mengkhawatirkan lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik atau perlambatan siklus bisnis yang mulai terlihat.
Logam kuning selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi sekaligus aset safe-haven yang banyak diburu ketika ketidakpastian geopolitik meningkat. Namun, prospek suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi faktor penekan karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Pergerakan logam mulia lainnya cenderung bervariasi. Harga perak spot melompat 1,3% menjadi USD60,77 per ons, platinum turun 0,2% ke posisi USD1.636,72 per ons, sedangkan paladium melemah 0,3% jadi USD1.272,75 per ons. (Reuters/Bloomberg/AI)
Sumber : Admin