- Akbar Susamto menilai asumsi RAPBN 2027 harus berbasis bukti, bukan sekadar harapan optimistis, terutama terkait harga minyak yang rawan dipengaruhi geopolitik.
- Satria Ramli meragukan target nilai tukar Rp17.500/USD karena belum ada rencana konkret untuk memperkuat rupiah.
- Respon ekonom menegaskan pentingnya kebijakan makro yang realistis dan kredibel agar RAPBN 2027 dapat menjaga kepercayaan pasar.
Ipotnews - Pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto yang menetapkan asumsi makro RAPBN 2027 mendapat sorotan dari kalangan ekonom. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen, inflasi 2,5 persen (1 persen), suku bunga SBN 10 tahun 6,9 persen, nilai tukar rupiah Rp17.500 per USD, serta harga minyak mentah (ICP) USD75 per barel.
Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal dan Moneter CORE Indonesia, A. Akbar Susamto, menilai asumsi makro RAPBN 2027 tersebut terdapat beberapa yang cukup realistis khususnya untuk terutama untuk tingkat inflasi dan suku bunga SBN. Selebihnya beberapa target terkesan ambisius dan rentan tidak tercapai karena kondisi geopolitik yang memburuk khususnya terkait dengan harga ICP.
Dengan kondisi geopolitik yang sangat fluktuatif seperti saat ini, asumsi RAPBN untuk minyak sulit dicapai. Hingga saat ini saja harga minyak mentah dunia berada di atas level USD80 per barel. "Harga minyak internasional ini cukup agresif, ketika angkanya ditetapkan USD75 (per barel) dengan harapan masih ada harapan bisa lebih rendah, tapi pemerintah harus hati-hati kalau itu melampaui target," ujarnya dalam diskusi secara virtual menanggapi RAPBN 2027, Jumat (14/8).
Akbar menekankan pentingnya penyusunan asumsi yang realistis. Menurutnya masih ada waktu yang cukup bagi pemerintah untuk menilik kembali target RAPBN yang disampaikan pemerintah secara resmi dalam agenda kenegaraan.
"Asumsi harus disusun serealistis mungkin, bukan harapan yang menggebu. APBN kita harus lebih evidence-based, bukan sekadar keinginan mereka yang sedang diberikan amanah," tegasnya.
Sementara itu, Ekonom CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menyoroti asumsi nilai tukar rupiah yang dinilai terlalu optimistis. Hingga hari ini saja nilai tukar rupiah terhadap dolar sudah di atas Rp17.500 per USD. Meskipun akan ada pergantian pucuk pimpinan Bank Indonesia (BI), ia meragukan target asumsi nilai tukar rupiah bisa dicapai.
"Yang sangat berat adalah asumsi rupiah. Saya skeptis kalau soal rupiah karena ini juga berkaitan dengan kepercayaan pasar. Saya rasa walau Gubernur BI akan berganti, belum ada plan konkret dari tim ekonomi untuk menguatkan rupiah ke 16.000-17.500 sesuai target," ucapnya.
(Marjudin/ AI)
Sumber : admin