AI News - Dollar AS menguat ke level dua mingguan dengan indeks 99,865 pada 2 September 2026, sementara yen naik tajam 0,79% menjadi 158,92 per dolar, mencerminkan tekanan pasar atas konflik energi di Timur Tengah dan perbedaan kebijakan moneter antara Federal Reserve dan Bank of Japan.
Poin Penting
- Indeks dolar tercatat 99,865, naik 0,20% pada sesi 2 September 2026.
- Indeks dolar juga dilaporkan 99,59, turun 0,09% pada sesi yang sama.
- Yen menguat 0,79% ke 158,92 per dolar.
- Yen naik 0,25% ke 159,89, menembus ambang 160 per dolar.
- Governor BOJ Kazuo Ueda menandakan kemungkinan kenaikan suku bunga pada September.
Mengapa Dollar AS Menembus Level Dua Mingguan pada 2 September 2026?
Business Times melaporkan bahwa penguatan dolar dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah sekitar 1% setelah serangan militer antara AS dan Iran, yang meningkatkan permintaan aset berbasis dolar karena ekonomi Amerika kurang terpapar guncangan energi. Di samping itu, pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve yang kini diperkirakan meningkat signifikan, memperlebar selisih suku bunga dengan bank sentral lainnya. Kombinasi tekanan inflasi global dan prospek kebijakan moneter yang lebih ketat mendorong investor beralih ke dolar, mengangkat indeks dolar ke titik tertinggi dalam dua minggu terakhir. Akibatnya, mata uang lain seperti euro dan yen mengalami tekanan jual, menurunkan nilai tukarnya terhadap dolar.
Apa Faktor yang Mendorong Penguatan Yen pada Hari yang Sama?
Menurut Reuters, pergerakan yen yang tajam dipengaruhi oleh kemungkinan "rate check" setelah intervensi gabungan AS-Jepang pada akhir Juli, yang meskipun hanya memberikan dukungan sementara, berhasil menurunkan yen dari level terendah 40-tahun di angka 163,98. Komentar hawkish dari anggota dewan BOJ, Hajime Takata, serta pernyataan Governor Ueda yang membuka kemungkinan kenaikan suku bunga secara responsif, menambah sentimen positif bagi yen. Analisis tambahan menunjukkan bahwa likuiditas pasar yang tipis pada pekan ini memperbesar dampak intervensi potensial, meskipun ukuran pergerakan masih di bawah ekspektasi intervensi resmi. Kombinasi faktor-faktor tersebut memberi yen ruang untuk pulih hingga hampir 159 per dolar.
Bagaimana Perbedaan Kebijakan Moneter BOJ dan Fed Mempengaruhi Pasar Mata Uang?
Kebijakan moneter yang divergen antara BOJ dan Fed menjadi pendorong utama pergerakan nilai tukar, sebagaimana dijelaskan oleh Business Times. BOJ diperkirakan akan melanjutkan kenaikan suku bunga secara bertahap, memperketat kebijakan untuk menahan inflasi yang terpengaruh oleh harga energi yang lebih tinggi. Sementara itu, prospek Fed yang semakin kuat untuk menaikkan suku bunga pada September meningkatkan selisih suku bunga nyata antara kedua bank sentral, menjadikan dolar lebih menarik bagi investor. Selisih ini menurunkan daya tarik yen dan euro, sementara dolar memperoleh aliran modal yang meningkatkan indeks dolar. Pada akhirnya, perbedaan strategi kebijakan ini menciptakan dinamika volatilitas pada pasangan mata uang utama di sesi perdagangan.
Sumber : AI News