Ditopang Harapan Damai AS-Iran, Rupiah Melejit 128 Poin Sekaligus Bukukan Kenaikan Sepekan Pertama Sejak Maret
Friday, June 12, 2026       15:57 WIB
  • Rupiah ditutup menguat tajam 128 poin atau 0,71% ke level Rp17.860 per dolar AS setelah Donald Trump mengisyaratkan kesepakatan damai dengan Iran yang meredakan kekhawatiran pasar global.
  • Penguatan rupiah didukung pelemahan dolar AS, meski pasar masih mencermati tingginya inflasi AS yang meningkatkan peluang Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga pada akhir 2026.
  • Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari Bank Dunia yang menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,0% didorong kuatnya konsumsi, belanja pemerintah, dan investasi.

Ipotnews - Nilai tukar rupiah ditutup menguat tajam terhadap dolar di akhir pekan, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan isyarat kesepakatan damai dengan Iran akan segera terjadi.
Mengutip data Bloomberg pada Jumat (12/6) pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup di level Rp17.860 per dolar AS, menguat 128 poin atau 0,71% dibandingkan penutupan Kamis (11/6) yang berada di posisi Rp17.988 per dolar AS. Dengan kenaikan di penutupan hari ini, untuk pertama kalinya sejak Maret rupiah membukukan penguatan sepekan, yakni sekitar 0,9%.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS setelah muncul optimisme meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Menurut Ibrahim, sentimen utama berasal dari langkah Presiden AS Donald Trump yang membatalkan rencana serangan terhadap Iran karena adanya kemajuan dalam proses negosiasi.
"Trump membatalkan serangan yang direncanakan pada hari Kamis, mengatakan bahwa diskusi dengan Iran telah mengalami kemajuan dan kesepakatan damai yang akan membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran dapat ditandatangani paling cepat akhir pekan ini, meskipun Teheran mengatakan belum membuat keputusan akhir," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Ia menjelaskan, sebelumnya Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan mengancam akan menembak kapal yang mencoba melintasi jalur strategis tersebut. Kondisi itu sempat memicu kekhawatiran pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur penting yang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.
Meski demikian, situasi di kawasan tersebut masih menjadi perhatian. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa pasukan negara itu telah mencegah sebuah kapal tanker melintasi Selat Hormuz tanpa koordinasi. Di sisi lain, militer AS menyatakan kapal-kapal komersial masih terus melintasi jalur pelayaran tersebut.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Ibrahim menuturkan data terbaru menunjukkan tekanan inflasi di Negeri Paman Sam masih tinggi.
"Selain itu, data ekonomi AS terbaru pada hari Kamis memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi tetap tinggi. Harga produsen naik lebih dari yang diperkirakan pada bulan Mei, mencatatkan kenaikan tahunan terbesar dalam tiga setengah tahun karena biaya energi yang lebih tinggi memengaruhi perekonomian," ujar Ibrahim.
Menurut dia, data tersebut mendorong pelaku pasar meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang melanjutkan pengetatan kebijakan moneter pada akhir tahun.
"Data tersebut mendorong para pedagang untuk meningkatkan taruhan bahwa Federal Reserve dapat melanjutkan pengetatan kebijakan akhir tahun ini, dengan pasar memperkirakan sekitar 60% kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan Desember," tambah Ibrahim.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia. Lembaga tersebut menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,0%, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,7%.
Kenaikan proyeksi tersebut didorong oleh kinerja ekonomi pada kuartal I-2026 yang lebih kuat dari perkiraan. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tercatat mencapai 5,6% secara tahunan, menjadi pertumbuhan triwulanan tertinggi sejak kuartal II-2021.
Ibrahim menjelaskan, kuatnya pertumbuhan pada awal tahun terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang mendapat dorongan dari momentum Ramadan dan Idul Fitri, percepatan pembayaran tunjangan hari raya (THR) aparatur sipil negara, serta akselerasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sepanjang 2026, konsumsi swasta diperkirakan tetap tumbuh sekitar 5,0% dengan dukungan stimulus fiskal pemerintah. Sementara itu, konsumsi pemerintah diproyeksikan tumbuh lebih tinggi hingga 8,7%. Dari sisi investasi, pembentukan modal tetap bruto pada kuartal I-2026 juga mencatat pertumbuhan solid sebesar 6,0%.
Meski demikian, Bank Dunia tetap mengingatkan adanya sejumlah risiko terhadap prospek ekonomi nasional. Risiko tersebut antara lain berasal dari ruang fiskal yang semakin terbatas, potensi kenaikan beban subsidi akibat lonjakan harga minyak global yang dipicu konflik Timur Tengah, serta potensi gejolak sentimen pasar keuangan terkait evaluasi indeks MSCI .(Adhitya/AI)

Sumber : admin