AI News - Tiga anggota dewan PT Amman Mineral Internasional Tbk (
) meningkatkan kepemilikan masing-masing dengan membeli sekitar 2 juta lembar saham pada 6-7 Juli 2026, senilai kira-kira Rp 7,5 miliar, sementara harga saham turun 2,26 % menjadi Rp 3.460 pada sesi pertama Selasa 8 Juli 2026.Poin Penting
- Total pembelian saham oleh tiga direktur pada 6-7 Juli 2026 mencapai sekitar 2 juta lembar dengan nilai transaksi kira-kira Rp 7,5 miliar.
- Saham ditutup pada Rp 3.460 per lembar pada sesi pertama Selasa 8 Juli 2026, turun 2,26 %.
- Penurunan harga tahun ini mencapai 49,26 % YTD dan 58,8 % selama 12 bulan terakhir.
- Rasio P/E sebesar 23,23 kali, hampir dua kali lipat rata-rata industri logam (12,98 kali); PBV 2,69 kali versus 2,15 kali industri.
- Produksi konsentrat Batu Hijau fase 8 naik 110 % YoY pada kuartal I 2026, memperkirakan pendapatan USD 4 miliar (+117 %) dan EBITDA USD 2 miliar (+97 %).
Mengapa Direktur Membeli Saham di Tengah Penurunan Harga?
Menurut IDN Financials, ketiga direktur membeli saham dengan tujuan investasi pribadi meskipun harga saham mengalami penurunan. Aditya Sasmito mengakuisisi 850.000 lembar pada Rp 3.530 per lembar, Naveen Chandralal menambah 1.000.000 lembar pada Rp 3.565 per lembar, dan Anthony Mathias memperoleh 272.700 lembar melalui empat transaksi dengan harga antara Rp 3.480-3.510. Total pembelian mencapai sekitar 2 juta lembar dengan nilai transaksi perkiraan Rp 7,5 miliar, sementara pada 8 Juli 2026 saham berharga Rp 3.460, turun 2,26 % pada sesi pertama. Pembelian ini menunjukkan keyakinan internal terhadap potensi pemulihan perusahaan meski pasar memperlihatkan tekanan negatif. Dengan menambah kepemilikan, para direktur berupaya memperkuat posisi mereka dan memberikan sinyal positif kepada investor eksternal.
Bagaimana Pembelian Saham Direktur Mempengaruhi Struktur Kepemilikan ?
IDN Financials melaporkan bahwa setelah transaksi, kepemilikan masing-masing direktur meningkat menjadi 0,102 % untuk Aditya Sasmito, 0,073 % untuk Naveen Chandralal, dan 0,002 % untuk Anthony Mathias. Meskipun persentase tersebut tetap kecil dalam keseluruhan struktur modal, peningkatan ini menambah jumlah saham yang dimiliki secara langsung oleh manajemen. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan pasar karena insider menambah eksposur mereka pada saham perusahaan. Pada tingkat keseluruhan, akumulasi kepemilikan insider tetap di bawah satu persen, namun pergerakan tersebut mencerminkan dukungan internal terhadap strategi pertumbuhan yang sedang dijalankan.
Apa Dampak Penurunan Harga Saham Terhadap Penilaian Valuasi ?
Data dari IDN Financials menunjukkan bahwa penurunan harga saham selama tahun ini mencapai 49,26 % dan selama 12 bulan terakhir mencapai 58,8 %, sementara pada penutupan 8 Juli 2026 harga berada di Rp 3.460. Valuasi perusahaan tetap lebih tinggi daripada rata-rata industri: rasio price-to-earnings (P/E) tercatat 23,23 kali, hampir dua kali lipat dibandingkan nilai industri logam sebesar 12,98 kali, dan price-to-book value (PBV) berada pada 2,69 kali versus 2,15 kali rata-rata industri. Tingginya kelipatan tersebut mengindikasikan bahwa pasar masih menilai prospek laba yang kuat meski harga saham berada pada level terendah tahun ini. Bagi investor, kombinasi penurunan harga dan valuasi premium menimbulkan risiko overvaluasi, namun juga membuka peluang pembelian pada harga yang lebih rendah.
Apa Prospek Pertumbuhan di Tahun 2026 Berdasarkan Riset BRI Danareksa?
Menurut IDX Channel, riset terbaru BRI Danareksa Sekuritas menilai telah memasuki siklus pertumbuhan baru pada 2026 setelah fase transisi operasional 2025 selesai. Produksi bijih segar meningkat menjadi 38 juta ton pada kuartal I 2026, melonjak dari sekitar 1 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga konsentrasi produksi mencapai 167,8 ribu metrik ton kering, naik 110 % secara tahunan. Peningkatan ini menghasilkan sekitar 101 juta pon tembaga dan 136 ribu ons emas, yang memperkirakan pendapatan perusahaan mencapai sekitar USD 4 miliar, meningkat 117 % dibandingkan tahun sebelumnya, serta EBITDA diproyeksikan tumbuh 97 % menjadi sekitar USD 2 miliar. Dengan dasar produksi yang kuat dan nilai tambah dari bisnis hilirisasi, prospek laba diperkirakan mengalami pemulihan signifikan sepanjang 2026.
Sumber : AI News