- Rupiah ditutup terperosok 0,63% ke Rp18.128 per dolar AS akibat ancaman serangan baru Trump terhadap Iran dan eskalasi konflik di Selat Hormuz.
- Tekanan bertambah dari risalah The Fed yang kurang dovish dan inflasi AS yang tetap tinggi, sehingga membuka peluang kenaikan suku bunga.
- Dari domestik, pasar mencermati cepatnya serapan APBN , membengkaknya subsidi BBM, serta IKK Juni yang turun ke 117,8.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah Kembali mencatat rekor terendah baru sepanjang masa di penutupan perdagangan hari ini, Kamis (9/7), tertekan sentimen kembali pecahnya perang AS-Iran serta sejumlah faktor domestik termasuk pelemahan indeks keyakinan konsumen.
Mengutip data Bloomberg, pada Kamis (9/7) pukul 15.00 WIB, rupiah akhirnya ditutup melemah 114 poin atau 0,63% ke level Rp18.128 per dolar AS, dibandingkan akhir perdagangan Rabu (8/7) di posisi Rp18.014 per dolar AS. Level penutupan itu menjadi rekor terendah baru bagi rupiah.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, eskalasi konflik AS-Iran kembali menjadi tekanan utama bagi pasar keuangan global. Ancaman Trump memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan energi strategis di Selat Hormuz dan mendorong penguatan indeks dolar AS.
"Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran segera setelah serangan Rabu malam," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Serangan terbaru AS ditujukan untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas pelayaran, beberapa jam setelah Trump menyatakan kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang telah berakhir. Washington menyebut serangan tersebut sebagai tanggapan atas serangan terhadap tiga kapal tanker yang melintasi selat itu pada Selasa.
Serangan AS mengguncang sejumlah kota di sepanjang pantai selatan Iran dan menyebabkan beberapa wilayah mengalami pemadaman listrik. Iran kemudian menyatakan telah menyerang situs militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan atas serangan sebelumnya terhadap infrastruktur negara tersebut.
Meningkatnya risiko keamanan di kawasan itu turut memukul aktivitas pelayaran. "Beberapa perusahaan asuransi perang telah menyarankan perusahaan pelayaran untuk menghentikan sementara pelayaran melalui Selat Hormuz, dan yang lainnya sedang meninjau ketentuan polis mereka setelah serangan kapal Iran yang diperbarui, kata sumber industri asuransi pada hari Rabu," ujar Ibrahim.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari risalah rapat Federal Reserve periode Juni yang dinilai tidak selunak kekhawatiran pasar. Para pembuat kebijakan The Fed sebagian besar terpecah mengenai perlunya kenaikan suku bunga tahun ini, sementara kekhawatiran terhadap inflasi yang tetap tinggi semakin meningkat.
"Inflasi AS telah meningkat tajam sejak dimulainya perang AS-Iran pada akhir Februari, dengan pertumbuhan harga tetap jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2%," tutur Ibrahim.
Ketua The Fed Kevin Warsh juga kembali menegaskan komitmen bank sentral untuk mencapai target inflasi tersebut. Kondisi itu memperkuat kekhawatiran bahwa suku bunga AS dapat kembali dinaikkan pada akhir tahun apabila tekanan harga tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.
Dari dalam negeri, pasar juga mencermati pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN ) 2026 yang lebih cepat pada semester pertama. APBN tahun ini tetap dirancang sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendukung delapan agenda prioritas nasional.
Agenda tersebut mencakup penguatan ketahanan pangan dan energi, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan, pembangunan desa serta pemberdayaan koperasi dan UMKM , penguatan sistem pertahanan semesta, serta percepatan investasi dan peningkatan perdagangan global.
"Dalam laporan serapan APBN , terlihat banyak yang mengarah ke MBG terlalu cepat. Banyak yang akhirnya diambil orang atau dikorupsi. Selain itu terlihat bahwa subsidi BBM juga semakin besar akibat kenaikan harga minyak dunia," tambah Ibrahim lewat rekaman suara.
Selain itu, pelemahan sentimen konsumen turut menjadi perhatian pasar. Survei Konsumen Bank Indonesia periode Juni 2026 menunjukkan penurunan tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi perekonomian nasional.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 turun ke level 117,8 dari 120,9 pada Mei 2026 dan 127,0 pada Januari 2026. Pelemahan tersebut menempatkan sentimen konsumen pada level terendah sejak September tahun lalu.
"Meskipun mengalami penurunan berturut-turut dalam beberapa bulan terakhir, BI menegaskan bahwa kondisi psikologis ekonomi masyarakat secara umum masih berada di zona aman," ucap Ibrahim.(Adhitya/AI)
Sumber : admin