- Defisit APBN Rp135,7 triliun (0,53% PDB) masih sesuai desain.
- Pendapatan negara tumbuh 12,8% jadi Rp358 triliun.
- Belanja naik 41,9%, tetap dorong target pertumbuhan 6%.
Ipotnews - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa hingga akhir Februari 2026 angka defisit APBN sebesar Rp135,7 triliun atau setara dengan 0,53 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Besaran defisit ini diklaim masih tetap terjaga dan terkendali sebagaimana desain yang ditetapkan.
"Defisit APBN sekitar Rp135,7 triliun itu masih dalam koridor desain APBN tahun 2026, jadi jangan bilang tahun lalu kan surplus kenapa sekarang defisit?, ya karena desainnya seperti itu," tegas Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA, Rabu (11/3).
Meskipun mencatatkan defisit di awal tahun, secara keseluruhan APBN 2026 tetap berfungsi secara optimal sebagai stabilisasi sekaligus motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Dengan defisit yang tetap terkendali ia optimis APBN akan tetap mendukung momentum pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2026.
"Sekarang kita paksakan belanja pemerintah merata di sepanjang tahun hingga dampak belanja pemerintah dan lainnya terhadap perekonomian bisa lebih terasa, maka kita berani bilang bahwa target pertumbuhan ekonomi 6 persen masih bisa (dicapai)," ucapnya.
Secara rinci, Purbaya menyebutkan angka pendapatan negara pada periode tersebut sebesar Rp358 triliun. Realisasi ini mengalami pertumbuhan 12,8 persen dari periode yang sama di tahun sebelumnya.
Ia menegaskan sumber pendapatan ini berasal dari penerimaan perpajakan sebesar Rp290 triliun serta Penerimaan Negara Bukan Pajak ( PNBP ) sebesar Rp68 triliun.
Sementara itu untuk realisasi belanja negara mencapai Rp493,8 triliun atau naik lebih tinggi 41,9 persen. Belanja tersebut terbagi untuk belanja pemerintah pusat sebesar Rp346,1 triliun dan transfer ke daerah sebesar Rp147,7 triliun. Untuk keseimbangan primer mencatatkan defisit sebesar Rp35,9 triliun.
(Marjudin/ AI)
Sumber : admin