- Generasi milenial dan Gen Z mendominasi pengguna pinjaman online di Indonesia, mencapai 86,6% dari total peminjam.
- Kemudahan akses pinjol dan layanan buy now pay later ( BNPL ) membuat banyak anak muda terjebak utang berlapis.
- Meski regulasi diperketat, lemahnya pengawasan dan tingginya bunga membuat gagal bayar pinjol terus meningkat.
Ipotnews - Indie, seorang pekerja kesehatan berusia 28 tahun, pernah tenggelam dalam utang.
"Semua pakaian yang saya pakai, dari kepala sampai kaki, saya beli dengan cicilan," kata Indie, yang hanya ingin disebut dengan nama panggilannya.
Ia menceritakan bagaimana dirinya terjebak dalam spiral utang pada 2025 setelah tergoda diskon yang ditawarkan bagi pengguna layanan buy now, pay later ( BNPL ) di sebuah marketplace populer.
Awalnya, cicilan tersebut masih terasa ringan. Namun lama-kelamaan, ia harus meminjam uang dari aplikasi pinjaman daring (peer-to-peer lending atau pinjol) untuk membayar cicilan BNPL sebelumnya. Setelah itu, ia meminjam lagi dari aplikasi lain, lalu aplikasi lain lagi.
Dalam waktu dua bulan, total utangnya membengkak menjadi 50 juta rupiah -- sekitar 10 kali gaji bulanannya.
"Saya merasa sangat bodoh karena tidak memikirkan bunga dan biaya yang terus menumpuk," ujarnya kepada The Straits Times (ST).
Pinjaman daring atau yang dikenal luas di Indonesia sebagai pinjol kini menjadi industri yang berkembang pesat. Namun kemudahan akses dan penggunaannya memicu kekhawatiran banyak anak muda Indonesia, termasuk kalangan profesional, terjebak dalam utang.
Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025, generasi milenial dan Gen Z menyumbang 86,6% dari total peminjam online. Mayoritas di antaranya meminjam bukan untuk kebutuhan mendesak.
Terjebak "Treadmill" Utang
Kisah Indie bukanlah kasus yang langka.
Mawar, pekerja administrasi berusia 26 tahun, juga mulai terlilit utang setelah menggunakan layanan BNPL pada 2024 karena tertarik promo diskon.
Seperti Indie, ia awalnya hanya membeli barang kecil secara cicilan, seperti lipstik dan kosmetik lain, tanpa benar-benar memahami besarnya bunga yang dikenakan.
Ketika limit pinjamannya meningkat, Mawar mulai membeli barang yang lebih mahal, termasuk laptop senilai lima juta rupiah.
Lama-kelamaan, total cicilan menyedot sebagian besar gajinya yang hanya sekitar 2,5 juta rupiah per bulan. Ia lalu meminjam uang melalui aplikasi pinjol agar tetap memiliki dana tunai.
Karena rutin membayar cicilan, limit pinjamannya otomatis naik hingga lebih dari 20 juta rupiah -- hampir 10 kali pendapatan bulanannya.
Pada September 2025, Mawar berniat meminjam tambahan 1,8 juta rupiah. Namun ia tidak sengaja menambahkan satu angka nol dan malah meminjam 18 juta rupiah.
Alih-alih langsung mengembalikan dana tersebut, ia menggunakan sebagian uang untuk melunasi cicilan lama tanpa menyadari bunga akan terus berbunga.
"Untuk sementara cicilan bulanan saya memang turun karena banyak utang kecil lunas," katanya.
Namun pada Januari, ia terkejut ketika cicilan bulanan untuk pinjaman besar itu mencapai empat juta rupiah. Saat menghitung total kewajiban, Mawar sadar dirinya memiliki utang hampir 30 juta rupiah kepada empat pemberi pinjaman.
Peneliti Institute for Economic and Social Research Universitas Indonesia, Dr Prani Sastiono, mengatakan banyak orang terjebak "treadmill utang" karena faktor psikologis.
"Ada kecenderungan present bias, di mana peminjam merasa manfaat memiliki uang sekarang lebih besar daripada beban utang yang harus dibayar di masa depan," katanya kepada Straits Times.
Selain itu, banyak peminjam terlalu percaya diri mampu melunasi utang mereka.
Pinjol Sangat Mudah Diakses
Prani juga menyoroti desain aplikasi pinjol yang membuat proses pinjaman terasa sangat mudah.
"Desain aplikasinya sangat menarik secara perilaku. Syaratnya minimal dan informasi soal biaya serta bunga sering kali tidak dijelaskan secara jelas," ujarnya.
Sebagai contoh, bunga 0,3% per hari terlihat kecil, padahal jika dihitung tahunan bisa melebihi 100%.
Kemudahan inilah yang membuat Krisna Bagus, 33 tahun, menggunakan pinjol untuk membiayai usaha laundry miliknya di Salatiga, Jawa Tengah.
Pada 2023, bisnis laundry miliknya telah berkembang menjadi tujuh gerai. Namun ketika arus kas mulai bermasalah, ia enggan menutup cabang karena gengsi.
"Saya sebenarnya bisa mengajukan pinjaman bank yang bunganya lebih rendah, tapi prosesnya lama," katanya.
Ia lalu tergoda iklan pinjol yang sering dilihatnya setiap pulang kerja.
Saat mendaftar di aplikasi AdaKami pada Maret 2023, ia mendapati dirinya bisa langsung mencairkan pinjaman hingga 16 juta rupiah -- padahal total penghasilannya hanya sekitar 12 juta rupiah per bulan.
"Saya awalnya tidak berniat menarik sebanyak itu, tapi ketika tahu bisa, saya pikir kenapa tidak?" katanya. "Uangnya masuk ke rekening dalam waktu kurang dari satu menit."
Regulasi Diperketat, Tapi Masih Banyak Celah
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengatakan regulasi pinjol kini jauh lebih ketat dibanding masa awal booming sekitar 2016.
Dulu, beberapa aplikasi hanya mencantumkan bunga 0,6%-0,8% tanpa menjelaskan bahwa itu bunga harian.
Kini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membatasi bunga harian pinjol menjadi maksimal 0,3% pada 2024, turun menjadi 0,2% pada 2025, dan 0,1% mulai 2026.
OJK juga menetapkan total biaya pinjaman -- termasuk bunga, biaya administrasi, dan denda keterlambatan -- tidak boleh melebihi 100% dari pokok pinjaman.
Selain itu, pemberi pinjaman dilarang memberikan pinjaman kepada peminjam yang sudah memiliki utang aktif di lebih dari tiga aplikasi.
Namun dalam praktiknya, aturan tersebut belum sepenuhnya berjalan efektif. Seluruh enam narasumber yang diwawancarai ST mengaku pernah memiliki utang di lebih dari tiga aplikasi pinjol sekaligus. Empat di antaranya bahkan memiliki pinjaman di lebih dari 12 aplikasi.
Prani menilai penegakan aturan yang konsisten menjadi kunci untuk mengurangi jumlah masyarakat yang terjebak utang.
Komunitas "Penyintas Pinjol"
Seiring pertumbuhan industri pinjol, angka gagal bayar juga meningkat.
OJK mencatat rasio kredit macet di atas 90 hari (TWP90) mencapai 4,54% pada Februari 2026, naik tajam dari 2,78% setahun sebelumnya.
Sebagian peminjam kini membentuk komunitas daring dan menyebut diri mereka "pinjol survivors" atau "debt-free warriors".
Salah satunya Cocoa, manajer media sosial lepas berusia 31 tahun, yang memutuskan berhenti membayar utangnya pada Februari setelah berbagi pengalaman di media sosial.
Awalnya ia takut diteror penagih utang. Namun setelah mendengar pengalaman pengguna lain, ia merasa ancamannya tidak seseram yang dibayangkan.
Cocoa memiliki utang lebih dari 100 juta rupiah di delapan aplikasi pinjol. Ia memilih melunasi utang kecil terlebih dahulu dan menghentikan pembayaran pinjaman besar.
"Saya sampai harus mengaktifkan mode pesawat di ponsel karena dalam 15 menit bisa menerima 70 telepon dari debt collector," katanya.
Krisna juga menggunakan strategi serupa untuk keluar dari utang yang sempat mencapai lebih dari 150 juta rupiah. Ia berhenti membayar sementara pada awal 2024, menabung dana pokok dan bunga, lalu meminta penghapusan denda keterlambatan.
"Saya akhirnya bisa melunasi semuanya pada akhir 2024," katanya.
Kini Krisna aktif berbagi pengalaman melunasi utang melalui media sosial Threads dan bahkan menulis e-book singkat tentang strategi keluar dari jerat pinjol.
"Saya ingin membantu karena saya tahu rasanya terlilit utang besar," ujarnya. "Saya berharap bisa membantu setidaknya beberapa orang keluar dari utang lebih cepat."(Businesstimes.com.sg)
Sumber : Admin