Bursa Sore: Pasar Cemaskan Aksi Jual Obligasi, Saham Asia dan IHSG Kompak Terkoreksi
Wednesday, September 02, 2026       16:43 WIB
  • IHSG ditutup turun tipis 0,06% ke 6.595, sektor teknologi melonjak 3,74% berkat dan
  • Bursa Asia dan Eropa anjlok dipicu imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang melonjak ke level tertinggi
  • Harga minyak Brent menembus $95,68 per barel karena pasar mulai memperhitungkan biaya perang yang tak kunjung usai

Ipotnews - Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) menukik tipis pada akhir perdagangan hari Rabu (2/9). IHSG turun 0,06 persen (4 poin) ke posisi 6.595.
Volume perdagangan yang tercatat mencapai 630,4 juta lot saham. Dengan volume perdagangan tersebut, nilai transaksi yang dibukukan Rp16,3 triliun.
Saham top gainers LQ45: , , , , , , .
Saham top losers LQ45: , , , , , , .
Sektor basic industry (bahan baku) paling lesu, turun 1,34%. Saham dari sektor ini yang melemah adalah , , , , , , , . Sementara sektor teknologi di posisi terkuat naik 3,74% ditopang saham dan .
Bursa Asia
Saham-saham Asia merosot pada hari Rabu setelah serangan udara baru AS terhadap Iran mendorong harga minyak ke level tertinggi.
Lonjakan harga minyak ini mengangkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun ke tingkat tertinggi dalam hampir tiga tahun. Sehingga memperparah aksi jual di pasar obligasi global.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi intraday di angka 4,8122%--level tertinggi dalam hampir tiga tahun. Sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 3,015%, melanjutkan tren kenaikan setelah mencapai level tertinggi dalam tiga dekade awal pekan ini.
"Ancaman gangguan lebih lanjut di Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran baru mengenai inflasi, yang mendorong aksi jual saham di sebagian besar pasar utama dan kejatuhan harga di pasar obligasi global," tulis analis Westpac seperti dikutip reuters.
"Bulan September dimulai dengan kondisi yang tidak stabil seiring berlanjutnya aksi jual obligasi pemerintah di pasar negara maju," tulis analis DBS.
"Bersiaplah menghadapi bulan yang penuh volatilitas ke depan karena tingginya imbal hasil memicu kekhawatiran di berbagai kelas aset," ujar mereka. "Jika kejatuhan pasar obligasi tidak dapat dibendung, para pembuat kebijakan kemungkinan harus mengambil langkah-langkah yang lebih agresif untuk membatasi kenaikan imbal hasil."
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan mata uang tersebut terhadap sekeranjang enam mata uang lainnya, naik 0,1% ke level 99,79, angka tertinggi sejak 17 Agustus.
Data dari Institute for Supply Management yang dirilis pada hari Selasa menunjukkan aktivitas manufaktur AS melambat pada bulan Agustus akibat penurunan pesanan baru, meskipun sektor ini masih berada dalam zona ekspansi.
Para pelaku pasar meyakini Federal Reserve kemungkinan akan menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya dalam dua minggu ke depan, meskipun kenaikan tersebut belum dapat dipastikan.
Data Fedwatch dari CME Group menunjukkan probabilitas the Fed menaikkan suku bunga 25bps pada 16 September mendatang mencapai 67%. Kemungkinan tersebut naik dari sebelumnya 39,6% pada seminggu sebelumnya.
Indeks Saham Asia
Indeks Nikkei225 (Jepang) -2,85% ke 64.325
Indeks Topix (Jepang) -2,40% ke 4.081
Shanghai Composite (China) -0,97% ke 3.941
Shenzhen Component (China) -1,88% ke 13.611
CSI 300 (China) -1,38% ke 4.547
Hang Seng (Hong Kong) -0,07% ke 25.311
Indeks Kospi (Korsel) -3,99% ke 6.562
Taiex (Taiwan) -1,67% ke 46.164
S&P/ASX200 (Australia) -0,97% ke 8.978
Asia Currencies
Yen up 0,29% menjadi 159,71 per USD
SGD turun 0,01% menjadi 1,2733 per USD
AUD down 0,17% ke posisi 0,7133 per USD
Rupiah down 0,11% menjadi 17.763 per USD
Rupee drop 0,02% ke 94,9675 per USD
Yuan down 0,01% ke 6,7231 per USD
Ringgit turun 0,11% ke 4,0433 per USD
Baht melaju 0,02% ke 33,3010 per USD
Bursa Eropa
Market saham Eropa bergerak di dekat level terendah satu bulan pada hari Rabu (2/9), tertekan oleh lonjakan imbal hasil obligasi seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran akan inflasi akibat harga energi.
Indeks acuan pasar saham Eropa, STOXX 600 stagnan di angka 647,87 poin. Sementara indeks DAX Jerman turun 0,2%.
Amerika Serikat dan Iran kembali berada dalam situasi siaga perang pekan ini, yang mendorong harga minyak mentah Brent melampaui US$95 per barel--level tertinggi dalam enam minggu--serta memicu kekhawatiran inflasi di tengah tingginya utang pemerintah.
Imbal hasil obligasi Jerman tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak April 2011
Oil
Harga minyak naik pada perdagangan hari Rabu (2/9) sore karena kekhawatiran akan gangguan pasokan meningkat setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan semalam, yang meredupkan harapan akan meredanya ketegangan di Timur Tengah dengan cepat.
Harga minyak mentah Brent berjangka naik 1,1%, menjadi $95,68 per bareldan harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berjangka naik menjadi $90,83/barel.
"Pasar minyak tidak lagi hanya memperhitungkan risiko perang; tetapi semakin memperhitungkan biaya perang yang belum terselesaikan," kata Priyanka Sachdeva, Head Market Phillip Nova seperti dikutip reuters.
(reuters/cnbc/bloomberg/idx/AI)

Sumber : admin
An error occurred.