Bursa Saham EM Asia Berkumpul di Zona Hijau, Mata Uang Masih Melemah
Friday, January 09, 2026       15:39 WIB
  • Bursa saham EM Asia menguat menjelang akhir pekan, dipimpin Korea Selatan. Indeks MSCI EM Asia relatif datar
  • Investor menanti rilis data tenaga kerja AS yang diperkirakan memberi petunjuk arah kebijakan The Fed.
  • Mata uang regional tetap tertekan akibat penguatan dolar; rupiah, won Korea, dan dolar Taiwan melemah.

Ipotnews - Bursa saham  emerging market  Asia bergerak menguat menjelang akhir sesi perdagangan pekan ini, Jumat (9/1). Indeks saham Korea Selatan memimpin kenaikan, sekaligus mencatatkan kenaikan mingguan.
Namun mata uang regional masih melemah, di tengah penguatan dolar menjelang rilis data ketenagakerjaan AS, Jumat ini.
Indeks saham MSCI EM Asia dan indeks  emerging market  global secara keseluruhan relatif tidak berubah, namun masih berada di jalur kenaikan mingguan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
Laporan  nonfarm payrolls  AS untuk Desember diperkirakan akan mengungkap ketidakjelasan data yang tersisa akibat penutupan pemerintahan AS, dan memberikan sinyal baru terkait prospek kebijakan Federal Reserve.
"Jika tidak ada kejutan kenaikan yang sangat kuat pada data  nonfarm payrolls , pasar kemungkinan masih akan berpandangan bahwa The Fed pada akhirnya akan memangkas suku bunga pada 2026," ujar Michael Wan, analis mata uang senior MUFG , seperti dikutip Reuters.
Instrumen swap menunjukkan peluang lebih dari 86% bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada rapat Januari, namun mematok probabilitas 38% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Maret.
Laman Reuters melaporkan, sekitar pukul 15:00 WIB, indeks KOSPI Korea Selatan ditutup meningkat 0,8%, memangkas pelemahan awal berkat kenaikan 0,1% saham produsen chip Samsung Electronics. KOSPI juga mencatatkan kenaikan mingguan ketiga berturut-turut.
Di Taiwan, indeks saham TAIEX mencatatkan kenaikan mingguan ketiga beruntun, meski ditutup melemah 0,2% pada hari ini, seiring penurunan saham produsen chip TSMC .
"Ketika valuasi dibangun atas ekspektasi agresif terhadap laba masa depan, apa pun yang mempertanyakan jalur pertumbuhan dapat memicu volatilitas harga saham yang besar," kata Ecaterina Bigos, CIO untuk investasi inti Asia ex-Jepang di Axa IM, BNP Paribas Asset Management. Ia merujuk pada volatilitas aset terkait AI.
Di pasar Asia Tenggara, IHSG naik 0,4%, sementara indeks saham KLCI Malaysia menguat 0,6%.
Indeks saham SET Thailand naik 0,2%, dan baht menguat tipis.
Perdana Menteri Thailand mengatakan kantor anti pencucian uang akan ditugaskan mengawasi perdagangan emas setelah bank sentral menyalahkan pedagang emas atas lonjakan baht pada 2025.
Secara keseluruhan mata uang EM Asia berada di bawah tekanan karena indeks dolar berlanjut naik memaskui hari keempat berturut-turut.
Dolar Taiwan turun ke 31,668 per dolar AS, level terlemahnya sejak awal Mei tahun lalu. Rupiah Indonesia melorot hingga 0,4% ke level terendah sejak akhir April 2025, menembus 16.800 per dolar AS.
Won Korea Selatan melemah untuk sesi kedelapan berturut-turut, susut 0,5%.
Won menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan sejauh 2026 ini, meski para pembuat kebijakan pekan ini berjanji menstabilkan pasar dan menyatakan pelemahan tersebut tidak mencerminkan fundamental. (Reuters)
 Asia stock indexes and currencies at 0725 GMT 

Country

FX Daily %

FX YTD %

Stocks Daily %

Stocks YTD %

Japan

-0.37

-0.51

1.61

1.82

China

+0.02

+0.08

0.92

3.82

India

-0.21

-0.37

-0.70

-1.66

Indonesia

-0.27

-0.95

0.35

3.58

Malaysia

-0.12

-0.22

0.59

-0.04

Philippines

-0.12

-0.65

0.43

4.88

South Korea

-0.51

-1.35

0.75

8.83

Singapore

-0.16

-0.08

0.08

2.08

Taiwan

-0.14

-0.55

-0.24

4.58

Thailand

+0.06

+0.13

0.21

-0.27


Sumber : admin