Bursa Pagi: Lanjutkan Penurunan Global, Asia Dibuka Melemah, Adang Peluang Laju IHSG
Wednesday, September 03, 2025       08:23 WIB

Ipotnews - Bursa saham Asia hari ini, Rabu (3/9), dibuka cenderung turun melanjutkan tren kejatuhan indeks saham acuan pada sesi penutupan bursa saham utama Eropa dan Wall Sreet. Investor mencermati kenaikan imbal hasil obligasi global dan perkembangan terbaru di sektor perdagangan.
Investor juga akan mencermati pidato Presiden China Xi Jinping pada parade militer di Shanghai untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II pada hari ini. Acara tersebut akan dihadiri 26 pemimpin dunia, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Rilis data PDB kuartal II Australia, yang berakhir Juni, akan dirilis hari ini. Survei ekonom Reuters memperkirakan pertumbuhan 1,6% dibandingkan tahun sebelumnya, lebih tinggi dari 1,3% pada kuartal sebelumnya yang berakhir Maret.
Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan penurunan indeks ASX 200 Australia sebesar 0,52%. Indeks berlanjut turun 0,57% (-51,1poin) ke 8.849,5 pada pukul 8:15 WIB.
Indeks Kospi, Korea Selatan, dibuka menguat 0,16%, sedangkan Kosdaq relatif stagnan. Kospi berlanjut berbalik melemah 0,13% menjadi 3.168,08.
Pada ja yang sama, indeks Nikkei 225, Jepang berkurang 0,22% (-93,1 poin) menjadi 42.217,39, setelah dibuka turun 0,43%, dan Topix berkurang 0,35%.
Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) hari ini diperkirakan masih berpeluang melanjutkan kenaikan namun rawan berbalik arah, setelah mengakhiri sesi perdagangan kemarin dengan melaju 0,85% ke 7.801. Harga ETF saham Indonesia,  iShares MSCI Indonesia ETF    ( EIDO ), di New York Stocks Exchange naik 0,25% menjadi USD17,74.
Beberapa analis memperkirakan pergerakan IHSG hari ini rawan terkoreksi, seiring berlanjutnya penurunan nilai transaksi meski tetap berpotensi melanjutkan kenaikan, ditopang sentimen positif dari kenaikan harga emas dan komoditas global. Secara teknikal indeks rawan terkoreksi ke bawah 7.700 dan berpeluang naik ke atas 7.875.
Amerika Serikat dan Eropa
Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi berakhir lesu. Investor mencerna putusan pengadilan banding federal yang menyatakan sebagian besar kebijakan tarif Trump ilegal, menambah ketidakpastian di pasar. Pasar menanti rilis data payrolls AS dan rapat the Fed 17 September yang diperkirakan akan memangkas suku bunga 25 bps. Indeks Volatilitas Cboe (VIX) melonjak 6,51% atau 1,05 poin menjadi 17,17.
Sektor real estat anjlok terbesar (-1,7%), sejalan lonjakan imbal hasil US Treasury 30-tahun ke level tertinggi sejak pertengahan Juli. Saham Kraft Heinz terjungka 7% setelah mengumumkan rencana pemisahan perusahaan menjadi dua entitas. PepsiCo melaju 1,1%, setelah Elliott Management mengumumkan kepemilikan saham senilai USD4 miliar.
  • Dow Jones Industrial Average turun 0,55% (-249,07 poin) ke 45.295,81.
  • S&P 500 melorot 0,69% (-44,72 poin) ke posisi 6.415,54.
  • Nasdaq Composite merosot 0,82% (-175,92 poin) ke level 21.279,63.

Bursa saham utama Eropa tadi malam ditutup menurun tajam seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tekanan fiskal global yang mendorong lonjakan imbal hasil obligasi. Imbal hasil obligasi 30 tahun Jerman dan Prancis mencapai level tertinggi sejak 2011 dan 2009; yan diperparah rencana pemilu kilat di Prancis. Inflasi zona euro naik 2,1% mendukung ekspektasi ECB menahan suku bunga.
Indeks STOXX 600 anjlok 1,50% ke 543,17, dipimpin kejatuhan sektor real estat (-3,5%) akibat kekhawatiran fiskal dan lonjakan imbal hasil obligasi Jerman serta Prancis. Hampir semua sektor melemah kecuali saham  luxury brand  yang naik 0,5%. Kering dan LVMH meloncat 3,8% dan 1,8%. Ferrari melonjak 1,9% setelah  upgrade rating  ke tiga saham tersebut. Technip Energies melompat 3,2%. Nestle melorot 0,7%, InPost rontok 12,5%.
  • DAX 40 Jerman terperosok 2,29% (-550,00 poin) ke 23.487,33.
  • FTSE 100 Inggris merosot 0,87% (-79,65 poin) ke 9.116,69.
  • CAC 40 Prancis melorot 0,70% (-53,65 poin) ke 7.654,25.

Nilai Tukar Dolar AS
Kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tadi berkahir menguat. Dolar terangkat kejatuhan poundsterling dan yen akibat kekhawatiran fiskal Inggris dan ketidakpastian politik Jepang. Penguatan dolar AS juga didorong kenaikan imbal hasil US Treasury, seiring gejolak di pasar obligasi global. Indeks Dolar (Indeks DXY) meningkat 0,74% ke 98,37.
Pasar menunggu data payrolls AS Jumat sebagai penentu arah dolar dan peluang pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 bps bulan ini (probabilitas 91%). Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 1998, memperburuk sentimen pasar terhadap stabilitas fiskal Inggris. Komentar  dovish  Deputi Gubernur Bank of Japan , Ryozo Himino mendorong spekulan mengambil posisi jual yen.
Kurs spot dolar

Currency

Value

Change

% Change

Time (ET)

Euro (EUR-USD)

1.1634

-0.0006

-0.05%

7:25 PM

Yen (USD-JPY)

148.48

0.1200

+0.08%

7:25 PM

Poundsterling (GBP-USD)

1.3386

-0.0008

-0.06%

7:25 PM

Rupiah (USD-IDR)

16,414

-4.500

-0.03%

3:59 AM

Yuan (USD-CNY)

7.1383

0.0006

+0.01%

2:59 PM

Sumber : Bloomberg.com, 2/9/2025 (ET)
Komoditas
Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea dini hari tadi ditutup menguat. AS menjatuhkan sanksi baru pada jaringan pelayaran yang diduga menyelundupkan minyak Iran. Investor menunggu pertemuan OPEC +, Minggu, yang diperkirakan tidak akan mencabut pemangkasan sukarela delapan anggota utama, termasuk Arab Saudi dan Rusia, untuk menjaga harga tetap stabil.
Gangguan produksi akibat serangan drone di kilang Rusia dan kenaikan output Kazakhstan memengaruhi prospek pasokan. KTT Shanghai Cooperation Organisation (SCO) yang dihadiri Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan PM India Narendra Modi menguatkan dorongan bagi tatanan ekonomi alternatif non-Barat, berpotensi memicu sanksi sekunder AS
  • Harga Brent berjangka melonjak 99 sen (1,45%) ke USD69,14 per barel.
  • Harga WTI berjangka melompat USD1,58 (2,47%) ke USD65,59 per barel.

Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange dini hari tadi ditutup melonjak. Harga emas spot sempat menembus level tertinggi sepanjang sejarah, di USD3.529,93, didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga the Fed dan ketidakpastian geopolitik serta ekonomi. Kenaikan harga emas juga ditopang pembelian bank sentral, pelemahan dolar AS, permintaan  safe-haven. 
Kepemilikan SPDR Gold Trust, ETF melaju 1,01% menjadi 977,68 ton, Jumat lalu, tertinggi sejak Agustus 2022. Pasar menunggu rilis data tenaga kerja non-pertanian AS yang akan mempengaruhi peluang pemangkasan suku bunga 25 bps (92%) pada rapat 17 The Fed September. Harga perak spot naik 0,4% menjadi USD40,84 per ounce, platinum turun 0,2% di USD1.397,16, sementara paladium stabil di USD1.137,33
  • Harga emas di pasar spot melonjak 1,5% ke USD3.529 per ounce.
  • Harga emas berjangka AS melompat 2,2% ke USD3.592,20 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)