Bubble AI Picu Aksi Jual Semikonduktor, Konflik AS-Iran Tambah Tekanan Pasar Global
Tuesday, July 21, 2026       10:18 WIB
  • Aksi jual global dipicu kekhawatiran bubble AI, seiring tingginya belanja modal perusahaan teknologi berbasis utang yang memicu sentimen risk-off di pasar keuangan.
  • Indeks Semikonduktor Philadelphia (SOX) turun lebih dari 18% sepanjang Juli dan masuk zona bearish, meski masih mencatat kenaikan hampir 65% secara year-to-date (YTD).
  • Eskalasi konflik AS-Iran mengganggu pasokan energi global, mendorong lonjakan harga minyak, meningkatkan tekanan inflasi, dan berpotensi memicu kenaikan suku bunga bank sentral.

Ipotnews - Co-Founder PasarDana sekaligus praktisi pasar modal Hans Kwee menilai koreksi tajam di pasar saham global dipicu kombinasi kekhawatiran terhadap potensi bubble sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memicu sentimen risk-off.
Menurut Hans, aksi jual masif terutama menghantam saham-saham semikonduktor setelah pelaku pasar mulai mempertanyakan keberlanjutan investasi besar-besaran perusahaan teknologi di sektor AI.
"Kekhawatiran pelaku pasar saham terhadap potensi bubble sektor teknologi khususnya AI telah memicu aksi jual masif yang menjatuhkan harga saham semikonduktor di berbagai bursa dunia. Tingginya belanja modal (CapEx) perusahaan teknologi raksasa yang didanai oleh utang tanpa diimbangi kepastian arus pendapatan masa depan untuk membayar bunga dan pokok pinjaman. Perlambatan belanja AI yang meluas menjadi sentimen risk-off menyeluruh di pasar finansial global," kata Hans dalam publikasi risetnya, Selasa (21/7).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut tercermin pada Indeks Semikonduktor Philadelphia (SOX) yang turun lebih dari 18% sepanjang Juli dan telah memasuki zona bearish setelah terkoreksi lebih dari 20% dari puncaknya. Meski demikian, secara year-to-date (YTD) indeks tersebut masih mencatat kenaikan hampir 65%, jauh melampaui penguatan indeks S&P 500 yang sekitar 9%.
Di sisi lain, Hans menilai tekanan terhadap pasar keuangan global juga diperburuk oleh memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan ketidakpastian ekonomi dunia.
"Selain dibayangi kekhawatiran sektor teknologi, pasar saham dunia saat ini turut terkoreksi tajam oleh kembalinya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu sentimen risk-off dan mendorong pengetatan kebijakan moneter," ujar Hans.
Menurutnya, eskalasi konflik telah mengganggu jalur distribusi energi global, terutama setelah meningkatnya ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia. Kondisi tersebut mendorong Arab Saudi mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya ke pelabuhan Yanbu sebagai langkah mitigasi risiko.
Hans menambahkan, gangguan pasokan energi global berpotensi memicu lonjakan harga minyak yang pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi arah kebijakan moneter bank-bank sentral.
"Pada akhirnya, disrupsi hebat dan ancaman blokade energi berlapis ini memicu lonjakan harga minyak global, memperparah ekspektasi tekanan inflasi baru, dan secara langsung memaksa jajaran bank sentral dunia bersiap menaikkan suku bunga acuan mereka demi meredam gejolak ekonomi makro," jelas Hans.(Adhitya/AI)

Sumber : Admin