Bobot AMMN, ARCI, BRMS Naik di GDX-GDXJ, Konstituen Indonesia Tetap
Monday, September 14, 2026       09:27 WIB

IDXC hannel - Sejumlah saham emas Indonesia berpotensi mendapat tambahan aliran dana pasif setelah evaluasi indeks Global Gold Miners Index ( GDX ) dan Global Junior Gold Miners Index ( GDXJ ) mengubah faktor free float beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).

MarketVector Index Solutions, penyedia indeks yang menjadi benchmark bagi VanEck , menetapkan hasil evaluasi tersebut berlaku mulai 18 September 2026. Tidak ada emiten Indonesia yang dikeluarkan maupun ditambahkan ke dalam GDX dan GDXJ .

Perubahan justru terjadi pada faktor free float. PT Archi Indonesia Tbk (

) mengalami kenaikan free float factor dari 10 persen menjadi 16 persen, sedangkan PT Amman Mineral Internasional Tbk ( ) naik dari 21 persen menjadi 26 persen.

PT Bumi Resources Minerals Tbk (

) juga naik dari 51 persen menjadi 60 persen.

Sebaliknya, free float factor PT Merdeka Gold Resources Tbk (

) dipangkas dari 37 persen menjadi 31 persen. Sementara itu, faktor free float PT J Resources Asia Pasifik Tbk () tidak berubah di level 10 persen.

Perubahan tersebut ikut menggeser bobot masing-masing saham dalam indeks dan berpotensi memengaruhi transaksi dana pasif yang mengikuti GDX maupun GDXJ .

Investment Analyst Stockbit Theodorus Melvin mengatakan revisi free float factor menjadi faktor pembeda utama dalam evaluasi indeks kali ini.

Menurut dia, perubahan tersebut terutama menjadi tantangan bagi

yang sebelumnya diperkirakan memiliki peluang masuk ke GDX.

"Meski harga penutupan

pada 31 Agustus di Rp9.600 per saham telah melampaui estimasi batas bawah kami sebesar Rp9.100 per saham, pemangkasan free float dari 37 persen menjadi 31 persen, yang kami duga karena IPO di Hong Kong dan/atau pembelian saham oleh , menaikkan batas bawah harga yang dibutuhkan untuk masuk GDX," kata Melvin, Senin (14/9/2026).

Di sisi lain,

masih mampu bertahan di GDXJ meskipun terdapat penambahan 44 emiten dalam evaluasi indeks junior gold miners tersebut.

Kondisi ini membuat batas harga yang dibutuhkan

untuk mempertahankan posisinya di indeks menjadi lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya, yakni Rp640 per saham.

Perubahan bobot tersebut juga tercermin dalam estimasi arus dana pasif.

berpotensi menjadi penerima inflow terbesar dari emiten emas Indonesia, dengan estimasi sekitar USD43 juta.

menyusul dengan potensi inflow sekitar USD37 juta, sedangkan diperkirakan menerima sekitar USD3 juta.

Sebaliknya, penurunan free float factor

berpotensi memicu outflow sekitar USD18 juta.

juga diperkirakan menghadapi outflow, meski relatif kecil, sekitar USD0,2 juta.

Dengan demikian, meski tidak ada perubahan konstituen Indonesia dalam evaluasi kali ini, pergeseran free float membuat dampaknya tetap terasa pada saham-saham terkait.

Kenaikan faktor free float

dan menjadi katalis bagi peningkatan bobot sekaligus potensi pembelian pasif, sementara menghadapi arah sebaliknya.

Evaluasi konstituen GDX berikutnya dijadwalkan diumumkan pada 11 Desember 2026 dan berlaku efektif 18 Desember 2026. Adapun peninjauan GDXJ selanjutnya diperkirakan diumumkan sekitar Maret 2027. (Aldo Fernando)

Disclaimer : Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor. (TIM RISET IDX CHANNEL)

Sumber: IDX Channel

Sumber : IDX Channel

An error occurred.