AI News - Pada Rabu 8 Juli 2026, harga minyak mentah Brent melonjak 5,70 % menjadi US$ 78.385 per barel, sementara Bitcoin turun ke kisaran US$ 62.657 setelah menembus level US$ 63.900 pada hari sebelumnya.
Poin Penting
- Harga Brent naik ke US$ 78.385 per barel (+5,70 %) pada 8 Juli 2026.
- Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$ 62.657, menurun hampir 1 % dalam sesi perdagangan Asia.
- Harga minyak WTI mencapai US$ 72,27 per barel (+2 %).
- Indeks Dolar AS berada di atas 101,00, memperkuat safe.
- Level teknikal penting Bitcoin terletak antara US$ 60.000 dan US$ 62.000.
Mengapa Harga Minyak Brent Melonjak Tajam pada 8 Juli 2026?
Menurut Kontan, lonjakan tajam Brent disebabkan oleh keputusan Amerika Serikat mencabut lisensi ekspor minyak Iran setelah serangan tiga kapal komersial di Selat Hormuz, yang memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan. Penarikan lisensi itu meningkatkan premi risiko energi, memaksa pasar menilai kembali prospek produksi global dan menambah tekanan pada harga. Data Trading Economics mencatat kenaikan harian sebesar 4,225 poin dan peningkatan mingguan 9,50 %, meski harga bulanan masih terkoreksi 14,31 %. Investor menginterpretasikan pergerakan ini sebagai sinyal ketidakpastian geopolitik yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi, sehingga memicu permintaan akan aset safe-haven seperti dolar dan obligasi pemerintah.
Bagaimana Kenaikan Harga Minyak Memengaruhi Harga Bitcoin pada Hari yang Sama?
Menurut Kontan, analis Andri Fauzan menjelaskan bahwa kenaikan harga energi meningkatkan ekspektasi inflasi, sehingga peluang Federal Reserve menurunkan suku bunga menjadi lebih kecil dan bahkan dapat berbalik arah. Investor kripto menanggapi kebijakan moneter yang lebih ketat dengan mengalihkan dana dari aset berisiko, menyebabkan Bitcoin turun ke US$ 62.657 pada sesi Pasifik, hampir 1 % lebih rendah dari nilai sebelumnya. Investor.id menambahkan bahwa penurunan Bitcoin diikuti oleh koreksi 1-2,3 % pada Ether, XRP, dan Solana, sementara dolar AS menguat di atas level 101,00. Kombinasi tekanan inflasi dan penguatan dolar menurunkan daya tarik aset digital, memperkuat hubungan negatif antara harga minyak yang naik dan nilai Bitcoin yang melemah.
Apa Dampak Tekanan Moneter Terhadap Sentimen Investor Kripto di Tengah Kenaikan Suku Bunga?
Investor.id menyoroti bahwa ekspektasi kenaikan atau tetapnya suku bunga tinggi oleh The Fed menimbulkan lingkungan "risk-off" di pasar keuangan global. Ketika suku bunga acuan tinggi, obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil yang lebih menarik, sehingga institusi keuangan memindahkan alokasi dari aset volatil seperti Bitcoin ke instrumen yang lebih aman. Data DXY di atas 101,00 memperkuat posisi dolar sebagai safe-haven, mengurangi likuiditas yang tersedia untuk kripto. Karena Bitcoin kini diperdagangkan dekat level dukungan teknikal US$ 60.000-62.000, investor harus memantau apakah tekanan jual berlanjut atau terjadi rebound; namun, volatilitas tetap tinggi selama kebijakan moneter ketat berlanjut.
Sumber : AI News