Biayai Rencana Ekspansi, GPSO Kaji Skema Share Swap Hingga Rights Issue
Wednesday, March 11, 2026       12:50 WIB
  • sedang mengkaji aksi korporasi untuk ekspansi usaha, termasuk opsi share swap dan rights issue, namun masih tahap awal dan belum ada keputusan final
  • Rencana transaksi sekitar Rp700 miliar, mencakup akuisisi beberapa perusahaan komponen/logam, serta pembelian aset tanah dan pabrik di kawasan Jababeka dan EJIP
  • Target jadwal transaksi: due diligence selesai April 2026, persetujuan RUPS -LB Juni 2026, rights issue dan penyelesaian transaksi diharapkan pada Desember 2026

Ipotnews - Di tengah sorotan atas volatilitas sahamnya, PT Geoprima Solusi Tbk () mengungkapkan tengah menjajaki sejumlah opsi aksi korporasi sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha. Langkah tersebut masih berada pada tahap awal, sehingga belum ada keputusan final yang diambil manajemen.
Direktur Utama , Dionysius Tjokro mengungkapkan, penjajakan tersebut disampaikan sebagai respons atas permintaan klarifikasi dari Bursa Efek Indonesia terkait volatilitas transaksi saham perseroan. "Perseroan saat ini sedang melakukan penjajakan terhadap beberapa opsi rencana korporasi," ujar Dionysius dalam keterangannya, Kamis (11/3).
Sebelumnya, telah menandatangani kesepakatan awal pada 20 Januari 2026 dengan pihak terafiliasi, yakni PT Morita Tjokro Gearindo, PT Tjokro Bersaudara Cikarangindo, dan PT Jaya Indah Casting. Kesepakatan tersebut terkait rencana pengalihan sejumlah aset dan saham perusahaan dengan nilai transaksi sekitar Rp700 miliar.
Dalam skema awal, berencana mengakuisisi sejumlah entitas usaha seperti 75 persen saham PT Pulogadung Tempajaya senilai Rp385 miliar, 70 persen saham PT Tjokro Bersaudara Komponenindo sebesar Rp90 miliar, serta 70 persen saham PT Jakarta Marten Logamindo senilai Rp65 miliar. Selain itu, perseroan juga berencana membeli aset tanah dan bangunan pabrik di kawasan industri Jababeka serta EJIP dengan nilai total sekitar Rp160 miliar.
Untuk pendanaan transaksi tersebut, manajemen menyampaikan, pihaknya tengah mengkaji berbagai alternatif, mulai dari pinjaman perbankan, penerbitan instrumen utang, hingga penerbitan saham baru melalui Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PM-HMETD).
Selain itu, perseroan juga mempertimbangkan skema share swap atau inbreng saham, penerbitan surat utang berbunga rendah, hingga opsi pembelian hak pengelolaan jangka panjang dengan opsi beli. Adapun proses kajian dan persiapan transaksi sedang berlangsung.
Manajemen menyebutkan, perseroan menargetkan pelaksanaan due diligence hingga April 2026, diikuti pengajuan pendanaan dan persetujuan RUPS -LB pada Juni 2026. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, maka pelaksanaan rights issue dan penyelesaian transaksi pada Desember 2026.
(Budi/AI)

Sumber : admin
An error occurred.