- Barclays menilai kenaikan pasar saham global mulai sulit dibenarkan tanpa penurunan signifikan harga energi.
- Pasar saham dinilai terlalu optimistis dan mengabaikan sinyal risiko dari pasar minyak dan obligasi.
- Potensi kesepakatan damai AS-Iran bisa menjadi katalis penting untuk meredakan tekanan harga minyak dan menopang reli pasar.
Ipotnews - Reli pasar saham global dinilai mulai memasuki fase kritis. Barclays memperingatkan, kelanjutan penguatan bursa akan sangat bergantung pada penurunan harga energi, terutama minyak, yang selama beberapa bulan terakhir melonjak akibat konflik di Timur Tengah.
Dalam riset yang dipublikasikan Rabu (6/5), tim strategi ekuitas Eropa Barclays yang dipimpin Emmanuel Cau menyebut pasar saham saat ini bergerak berlawanan arah dengan pasar minyak dan obligasi.
"Jika saham ingin terus naik, maka harga energi harus mulai turun," tulis Barclays.
Menurut Barclays, laporan yang menyebut Amerika Serikat dan Iran mendekati kesepakatan untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk dapat menjadi sentimen positif bagi pasar. Kesepakatan tersebut dinilai berpotensi meredakan lonjakan harga energi yang selama ini membebani ekonomi global.
Indeks saham Eropa STOXX 600 tercatat telah melonjak sekitar 10% dari titik terendah pada Maret. Namun, Barclays menilai ruang kenaikan lebih lanjut semakin terbatas jika risiko energi tidak mereda secara berarti.
Bank investasi itu menyebut reli pasar sejak awal perang di Timur Tengah banyak didorong oleh euforia kecerdasan buatan (AI frenzy). Selain itu, investor juga meyakini adanya "Trump put", yakni keyakinan bahwa Presiden AS Donald Trump akan mengambil langkah apa pun untuk menjaga pasar saham tetap stabil.
Faktor lain yang menopang reli adalah fenomena fear of missing out ( FOMO ), ketika investor ikut membeli saham karena khawatir tertinggal dari tren kenaikan pasar.
Meski demikian, Barclays melihat pasar saham mulai terlepas dari fundamental ekonomi. Kenaikan saham dinilai tidak sejalan dengan pergerakan harga minyak dan imbal hasil obligasi yang masih mencerminkan tingginya risiko.
Selama dua bulan konflik Iran berlangsung, ekonomi global masih relatif terlindungi berkat penggunaan cadangan energi. Namun Barclays mengingatkan bantalan tersebut semakin menipis dan risiko pelemahan permintaan mulai meningkat seiring harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel.
Valuasi saham yang sudah tinggi juga dinilai mempersempit ruang kesalahan apabila kondisi ekonomi global memburuk.
Barclays menambahkan, penguatan pasar saat ini terlalu bergantung pada segelintir saham teknologi besar. Di sisi lain, sejumlah indikator aktivitas ekonomi mulai menunjukkan perlambatan, khususnya di Eropa.
Bank tersebut memperkirakan revisi turun laba perusahaan di Eropa semakin mungkin terjadi, terutama pada sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan konsumen.
Sebaliknya, prospek laba korporasi di Amerika Serikat dinilai masih lebih kuat berkat siklus investasi teknologi berbasis AI dan ketahanan energi domestik AS. Karena itu, Barclays masih lebih memilih saham-saham AS dibandingkan saham Eropa.(Market Wartch)
Sumber : admin