AI News - Bank Central Asia (BCA) melalui program Corporate Shared Value (CSV) "Bakti BCA" menyelenggarakan workshop peningkatan keterampilan gastronomi bagi sembilan pengelola desa di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, pada 8 Juli 2026, dengan pendekatan end-to-end serta dukungan fasilitator Dapur Tara.
Poin Penting
- Jumlah pengelola desa yang dilatih: 9 orang.
- Tanggal pelaksanaan workshop: 8 Juli 2026.
- Program CSV "Bakti BCA" memperkuat ekonomi desa melalui pelatihan terstruktur.
- Tiga pilar utama inisiatif Desa Bakti BCA: usaha berbasis kemasyarakatan, peningkatan kapasitas, dan akses pasar.
- Workshop mengadopsi pendekatan gastronomi end.
Mengapa BCA Memilih Gastronomi sebagai Fokus Pemberdayaan di Labuan Bajo?
Gastronomi dipilih karena kuliner lokal memiliki kedekatan kuat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat desa serta potensi besar untuk menarik wisatawan, kata Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, seperti dilaporkan Detik. Dengan menekankan sejarah, seni, dan budaya dalam setiap hidangan, program berupaya menjadikan kuliner sebagai motor pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Pendekatan ini sejalan dengan strategi BCA untuk memanfaatkan aset budaya sebagai nilai tambah bagi sektor pariwisata NTT, yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama wilayah. Bagi investor dan pemangku kepentingan, pengembangan gastronomi dapat memperluas basis pendapatan desa dan menciptakan peluang kerja baru yang lebih stabil.
Bagaimana Pendekatan End-to-End Workshop Membekali Pengelola Desa dengan Keterampilan Praktis?
Pendekatan end-to-end mencakup seluruh rantai produksi kuliner, mulai dari pemilihan bahan baku lokal, teknik memasak, hingga penataan dan penyajian yang menarik bagi wisatawan, menurut Investor.id. Dapur Tara berperan sebagai fasilitator utama, memberikan pelatihan langsung dan demonstrasi praktis pada setiap tahap, sehingga peserta dapat menginternalisasi standar penyajian profesional. Selain itu, sesi praktek menggabungkan pengetahuan tentang keberlanjutan bahan baku dengan teknik estetika, yang memberi nilai tambah pada produk kuliner desa. Dengan metodologi ini, peserta tidak hanya memperoleh teori, melainkan pengalaman nyata yang dapat diterapkan segera di usaha mereka, meningkatkan kualitas layanan dan daya saing di pasar wisata.
Apa Dampak Jangka Panjang Inisiatif ini Terhadap Ekonomi Desa di NTT?
Inisiatif ini diproyeksikan meningkatkan pendapatan desa melalui peningkatan daya tarik kuliner wisata, sebagaimana Hera menyatakan dalam keterangannya kepada Investor.id. Dengan standar penyajian yang lebih baik, desa-desa diharapkan dapat menarik lebih banyak kunjungan wisatawan, memperluas penjualan produk kuliner, dan menciptakan lapangan kerja bagi penduduk lokal. Dukungan tiga pilar utama-kepemilikan usaha oleh masyarakat, pelatihan berkelanjutan, serta akses pasar melalui ekosistem BCA-memungkinkan efek multiplikatif yang memperkuat ketahanan ekonomi desa. Secara keseluruhan, program ini berpotensi menjadikan kuliner sebagai pilar ekonomi baru yang berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada sektor tradisional dan meningkatkan kesejahteraan jangka panjang masyarakat Labuan Bajo.
Sumber : AI News