Apakah Anda Mengkhawatirkan Keadaan Ekonomi Saat Ini?
Tuesday, August 12, 2025       15:12 WIB

Keadaan ekonomi Indonesia belakangan ini terasa sangat mengkhawatirkan. Angka pertumbuhan ekonomi sudah menunjukkan tanda-tanda melambat, dan angka pengangguran semakin tinggi (bahkan untuk golongan terdidik sekali pun).
Angka pengangguran yang tinggi tentu tak dapat dilepaskan dari kesulitan mencari pekerjaan. Kesempatan kerja (lowongan kerja) berkurang karena pertumbuhan ekonomi yang melambat. Mencari penyebab pertumbuhan ekonomi melambat tentu sangat kompleks karena melibatkan banyak sekali faktor, yang tidak seluruhnya ada di dalam negeri.
Intinya, kita semua pantas khawatir dengan keadaan ekonomi saat ini. Tetapi, khawatir saja tentu tidak akan mengubah apa-apa. Kita harus mengambil langkah-langkah nyata untuk mengubah kekhawatiran itu menjadi kesempatan untuk masa depan kita yang lebih baik.
Berikut ini kami ajukan enam tindakan yang dapat membantu Anda mengambil langkah-langkah positif yang akan membuat situasi keuangan pribadi Anda cukup aman, sekali pun kondisi perekonomian kita masih belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang berarti.
1. Tinjau ulang Sasaran Keuangan Anda ( review your financial goals )
Jika Anda telah memiliki Perencanaan Keuangan ( Financial Planning ), maka di tengah-tengah kekhawatiran akan keadaan ekonomi saat ini, Anda perlu untuk meninjau ulang sasaran-sasaran keuangan yang ada.
Jika Anda belum memiliki Perencanaan Keuangan ( Financial Planning ), maka saat ini adalah momen yang tepat untuk segera membuat perencanaan keuangan, demi masa depan yang aman dan tertata rapi.
Anda mungkin berpikir bahwa sasaran keuangan yang perlu ditinjau ulang hanyalah sasaran keuangan jangka panjang saja, karena target yang ingin dicapai masih jauh. Sementara sasaran keuangan jangka pendek dan jangka menengah sebaiknya dibiarkan saja karena sudah tercapai atau hampir tercapai.
Tetapi menurut kami sebagai perencana keuangan, sasaran-sasaran keuangan yang perlu Anda tinjau ulang adalah semua sasaran-sasaran keuangan yang ada, baik sasaran keuangan jangka pendek, sasaran keuangan jangka menengah, maupun sasaran keuangan jangka panjang.
Sasaran keuangan jangka pendek, misalnya menyimpan Dana Darurat sebesar enam bulan pengeluaran rutin perlu Anda tinjau ulang dan diganti menjadi sembilan bulan pengeluaran rutin atau bahkan satu tahun pengeluaran rutin.
Sasaran keuangan jangka menengah, misalnya mengumpulkan uang untuk biaya kuliah S-2 (strata dua), perlu ditinjau ulang apakah kuliah lagi akan berkorelasi langsung dengan kenaikan pangkat atau gaji. Kemudian, sasaran keuangan jangka panjang, misalnya mengumpulkan uang untuk pesta pernikahan anak bungsu, apakah memang sesuatu yang benar-benar dibutuhkan saat ini.
2. Cari cara untuk berhemat dan menambah penghasilan
Setelah kita meninjau ulang sasaran-sasaran keuangan yang ada, kita mungkin dapat menemukan beberapa pos pengeluaran yang dapat dihemat atau dikurangi. Tetapi, di samping penghematan, kita juga harus berusaha untuk terus menambah penghasilan. Cara mencari tambahan penghasilan berbeda-beda untuk setiap individu. Tetapi, harus diakui bahwa sekarang semakin sulit untuk mencari tambahan penghasilan bagi seorang karyawan perusahaan yang bekerja bukan pada bidang penjualan ( back office ).
Tapi, jangan dikira bahwa bagi karyawan bagian penjualan ( front-office ) - yang penghasilannya dihitung sebagai persentase dari besarnya penjualan yang dilakukan - menambah penghasilan dengan berusaha untuk menjual lebih banyak akan mudah. Pada kondisi perekonomian yang sedang tidak baik-baik saja, setiap Perusahaan dan individu tentu akan berusaha untuk mengurangi pengeluaran yang tidak terlalu penting (memaksa). Hal ini yang menyebabkan bekerja di bidang penjualan pada saat sekarang, pada umumnya, sangatlah menantang.
Belasan tahun yang lalu, saya masih bisa merekomendasikan Anda untuk menambah penghasilan dengan cara mengajar paruh waktu di setiap akhir minggu ( week-end ) seperti yang dulu saya lakukan sendiri. Sekarang saya tidak yakin bahwa peluang seperti itu masih ada. Mungkin juga Anda bisa mencoba untuk menjadi guru privat yang mengajarkan matematika, fisika, bahasa Inggris, atau bahasa Mandarin.
Untuk Anda yang tingkat pendidikannya tidak terlalu tinggi, mungkin Anda bisa menambah penghasilan dengan cara mengkoordinir pembayaran PAM, PLN atau iuran sampah/ iuran satpam di lingkungan Anda. Tentu Anda adalah pihak yang paling tahu cara-cara untuk menambah penghasilan yang cocok untuk diri Anda sendiri.
3. Perkuat Dana Darurat
Pada kondisi normal, Anda mungkin hanya membutuhkan Dana Darurat ( Emergency Fund ) sebesar enam kali dari pengeluaran rutin setiap bulan. Perlu diingat bahwa termasuk pengeluaran rutin adalah setiap cicilan hutang yang ada, baik hutang kartu kredit, hutang KKB, atau pun hutang KPR.
Pada kondisi perekonomian yang buruk seperti sekarang ini, Dana Darurat ( Emergency Fund ) yang perlu Anda sediakan harus ditambah menjadi sembilan bulan atau dua belas bulan dari pengeluaran rutin Anda. Salah satu sebab utamanya adalah bayang-bayang resiko PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) yang dapat terjadi pada siapa saja.
4. Jangan habiskan semua rezeki yang ada
Pada kondisi perekonomian yang sedang tidak baik-baik saja, di mana pertumbuhan ekonomi melambat, lowongan kerja sulit diperoleh, sementara bayang-bayang PHK melintas di benak karyawan yang masih memiliki pekerjaan, maka jalan yang harus ditempuh setiap orang adalah membatasi pengeluaran yang tidak perlu.
Kita harus dapat memilah pengeluaran menjadi pengeluaran wajib ( essential ) dan pengeluaran tidak wajib ( discretionary ). Pengeluaran wajib ( essential ) bisa disebut juga sebagai kebutuhan ( needs ), sementara pengeluaran tidak wajib bisa disebut sebagai keinginan ( wants ).
Saya tidak mengatakan bahwa kita dapat terus mengabaikan pengeluaran yang tidak wajib ini ( wants ), karena biar bagaimana pun, pengeluaran-pengeluaran yang tidak wajib ( discretionary ) yang dapat kita penuhi akan menambah kualitas hidup kita.
Pada kondisi perekonomian yang buruk seperti sekarang ini, dan kita tidak tahu berapa lama kondisi yang buruk ini akan tetap ada, maka pertama-tama hitunglah berapa banyak uang yang kita butuhkan untuk menutupi pengeluaran-pengeluaran wajib.
Selanjutnya, jumlah uang yang tersisa, harus dibelanjakan dengan sangat hati-hati ( discretionary expenses ). Misalnya, pada setiap hari raya keagamaan, kita memperoleh tambahan gaji ke-13, biasanya tembahan gaji ini langsung dibelanjakan untuk baju baru, untuk biaya mudik, atau untuk oleh-oleh buat keluarga di kampung. Sekarang, pengeluaran-pengeluaran yang tidak wajib ( discretionary ) harus diawasi dengan ketat.
5. Lunasi terlebih dahulu utang-utang berbunga tinggi
Pada situasi perekonomian yang sulit, bahkan untuk Anda yang masih memiliki pekerjaan, Anda harus berhati-hati ketika menerima tawaran kredit dari pihak lain, baik berupa kartu kredit, KKB, atau pun KPR. Perlu diingat bahwa kredit, dalam bentuk apa pun, adalah utang yang wajib dibayar kembali.
Sekarang kita akan membahas bunga kartu kredit saja karena kartu kredit merupakan kredit yang bunganya paling tinggi di antara kredit-kredit yang lain. Umumnya, supaya terlihat bahwa kredit yang ditawarkan itu murah, maka pembayaran bunga kartu kredit hanya dihitung per hari. Tetapi, pembayaran bunga kartu kredit selalu dilakukan per bulan.
Lagi pula, mana ada karyawan yang digaji harian? Selalu hitung ulang bunga kartu kredit itu menjadi per bulan, lalu per tahun, sehingga kita bisa melihat lebih jelas betapa tingginya bunga kartu kredit yang harus kita bayarkan.
Mengambil utang kartu kredit pada situasi ekonomi yang tidak pasti, adalah sama dengan berutang pada situasi yang buruk. Pertama adalah suku bunga kartu kredit yang tinggi. Kedua adalah suku bunga kartu kredit yang mengambang ( floating ).
Pada situasi ekonomi yang buruk, suku bunga pinjaman yang mengambang dapat dengan mudah melonjak dari tinggi menjadi ekstrim ( extremely high ). Dan itu semua ada di luar control Anda. Jadi, jika Anda masih memiliki hutang kartu kredit, pada situasi ekonomi yang buruk ini, segeralah menyusun rencana untuk melunasi hutang tersebut.
6. Perbaiki terus kemampuan untuk pekerjaan baru
Langkah terakhir yang dapat kami sarankan bagi Anda yang masih bekerja sebagai karyawan tetap Perusahaan, tetaplah selalu meningkatkan keahlian yang Anda miliki. Perkembangan teknologi saat ini sangat cepat, dan kita tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa ilmu yang kita miliki sekarang, dari bangku kuliah atau pun dari pengalaman kerja puluhan tahun, akan tetap dibutuhkan Perusahaan di tahun depan.
Oleh karena itu, kita harus selalu memperbaiki kemampuan kita supaya tetap relevan dan dibutuhkan Perusahaan. Jangan hanya berharap bahwa karena Anda karyawan yang loyal, karyawan yang rajin bekerja, atau karyawan yang tidak pernah merugikan Perusahaan, maka Perusahaan tidak akan mem-PHK Anda. Pada kasus PHK karyawan PT Sritex, semua karyawan Perusahaan itu (sebelas ribu orang) di PHK. Dan itu terjadi bukan karena kesalahan karyawan.
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS