- Harga minyak naik hampir 1%; BrentUSD79,55 dan WTI USD76,79.
- Kenaikan dipicu ketidakpastian gencatan senjata AS-Iran.
- Penguatan tertahan oleh kekhawatiran surplus pasokan global.
Ipotnews - Harga minyak melompat hampir 1%, Rabu, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata baru dengan Iran belum bersifat final dan perang dapat kembali berlanjut apabila dirinya tidak puas terhadap hasil perundingan. Namun, kenaikan harga minyak tertahan oleh kekhawatiran pasar mengenai potensi kelebihan pasokan global tahun depan.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup naik 59 sen atau 0,75% menjadi USD79,55 per barel, demikian laporan Reuters, di New York, Rabu (17/6) atau Kamis (18/6) pagi WIB.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menguat 74 sen atau 0,97% ke posisi USD76,79 per barel.
Trump mengatakan nota kesepahaman dengan Iran belum mencapai tahap final dan dirinya dapat kembali melancarkan kampanye pengeboman apabila tidak menyukai hasil kesepakatan atau jika Teheran tidak "berperilaku baik". Sebelumnya, AS dan Iran pada Minggu menyatakan telah menyepakati syarat-syarat untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Analis City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, mengatakan masih terdapat ketidakpastian terkait situasi di Amerika sehingga wajar jika harga minyak kembali menguat setelah mengalami penurunan yang cukup tajam dalam beberapa hari terakhir.
Di kawasan Timur Tengah, ketegangan juga kembali meningkat setelah terjadi serangan udara dan tembakan artileri Israel di sejumlah wilayah Lebanon Selatan, Rabu. Sumber keamanan Lebanon menyebut kelompok Hizbullah juga melancarkan dua serangan pesawat nirawak terhadap pasukan Israel di wilayah selatan.
Nota kesepahaman yang disepakati tersebut menyerukan penghentian permusuhan antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.
Dari sisi pasokan, Badan Informasi Energi (EIA) Amerika melaporkan persediaan minyak mentah AS menyusut selama 10 pekan berturut-turut pada pekan lalu seiring lonjakan permintaan. Penurunan itu mendorong total stok minyak AS ke level terendah sejak 1985, di tengah berlanjutnya dampak perang Iran terhadap pasar energi global.
Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, mengatakan Amerika dan negara-negara lain terus mengurangi cadangan strategis maupun persediaan komersial dalam upaya meredam gangguan pasokan energi di Timur Tengah.
Meski demikian, pasar juga dibayangi potensi surplus pasokan dalam jangka menengah. Dalam proyeksi awal untuk 2027, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasar minyak akan menghadapi kelebihan pasokan yang signifikan. Pasokan global diproyeksikan melonjak hingga 8 juta barel per hari, sedangkan permintaan hanya meningkat sekitar 2 juta barel per hari.
Dalam jangka pendek, IEA menilai kesepakatan antara Iran dan AS dapat menjadi peluang bagi negara-negara konsumen untuk mengisi kembali persediaan yang telah menipis atau membangun cadangan strategis baru.
Analis Empire FX, Crispus Nyaga, menilai pelaku pasar kemungkinan masih meremehkan besarnya potensi surplus pasokan yang akan memasuki pasar dalam beberapa tahun mendatang.
Meski demikian, pelaku industri memperkirakan pemulihan produksi dan kapasitas pengolahan minyak ke tingkat sebelum perang tidak akan berlangsung cepat dan kemungkinan membutuhkan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. (Reuters/AI)
Sumber : Admin