Aluminium Melompat, Tensi AS-Iran Kembali Picu Kekhawatiran Pasokan Global
Wednesday, July 08, 2026       15:30 WIB
  • Aluminium naik 0,33% akibat risiko pasokan Timur Tengah.
  • Ketegangan AS-Iran kembali memicu kekhawatiran gangguan suplai.
  • Tembaga melemah karena kekhawatiran suku bunga tinggi.

Ipotnews - Aluminium menguat, Rabu, setelah meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan. Serangan terbaru Amerika Serikat terhadap target di Iran menimbulkan risiko terganggunya kembali gencatan senjata yang sebelumnya rapuh.
Harga aluminium untuk kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,33% menjadi USD3.148 per ton metrik pada pukul 14.00 WIB, demikian laporan  Reuters,  di Singapura, Rabu (8/7).
Di bursa Shanghai Futures Exchange ( SHFE ), kontrak aluminium paling aktif juga melompat 0,68% menjadi 23.075 yuan (USD3.394,38) per ton.
Penguatan harga aluminium terjadi setelah Amerika melancarkan serangan terbaru terhadap sejumlah target di Iran. Pada saat yang sama, sejumlah kapal di Selat Hormuz dilaporkan terkena serangan proyektil, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa upaya pemulihan pasokan di kawasan tersebut dapat kembali terganggu.
Timur Tengah memiliki peran penting dalam industri aluminium global karena kawasan tersebut menyumbang sekitar 9% dari kapasitas peleburan aluminium dunia.
Meski kembali menguat, harga aluminium sebelumnya mengalami tekanan berat. Sepanjang Juni, logam industri tersebut anjlok 16%, menjadi penurunan bulanan terbesar sejak krisis keuangan global 2008.
Penurunan itu terjadi setelah perkembangan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran membuat pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko perang dalam harga komoditas.
Namun, ING memperkirakan pasar aluminium masih akan mengalami defisit pasokan sepanjang tahun ini. Harga yang lebih rendah juga mulai menarik minat pembelian, terutama dari China, sehingga memberikan dukungan terhadap pergerakan harga.
Berbeda dengan aluminium, harga tembaga bergerak melemah menjelang publikasi risalah rapat Federal Reserve periode Juni. Investor menunggu petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Kekhawatiran bahwa suku bunga akan bertahan tinggi dalam waktu lebih lama masih membebani harga tembaga. Logam merah tersebut sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi global karena banyak digunakan dalam sektor konstruksi, manufaktur, dan energi.
Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menekan aktivitas ekonomi dunia dan mengurangi permintaan terhadap tembaga.
Harga tembaga di LME turun 0,19%, sementara kontraknya di SHFE melemah 0,11%.
Di sisi lain, permintaan tembaga dari China masih menunjukkan ketahanan. China merupakan konsumen tembaga terbesar dunia, dan premi tembaga Yangshan yang mencerminkan tingkat permintaan impor mencatatkan level tertinggi dalam 13 bulan sebesar USD80 per ton, Selasa.
Perdagangan logam dasar lainnya di LME bergerak variatif. Harga seng (zinc) turun 0,34%, timbal (lead) naik 0,64%, nikel melemah 0,72%, dan timah menyusut 0,3%.
Sementara itu, di bursa Shanghai Futures Exchange, harga seng turun 0,14%, timbal melonjak 1,1%, nikel melemah 0,98%, sedangkan timah menguat 0,55%. (Reuters/AI)

Sumber : Admin