Aksi Ambil Untung Tekan Kedelai, Harga Gandum Naik Dipicu Konflik Laut Hitam
Wednesday, July 22, 2026       05:57 WIB
  • Kedelai turun akibat aksi ambil untung.
  • Jagung menguat meski kondisi tanaman AS tetap baik.
  • Gandum naik karena kekhawatiran pasokan.

Ipotnews - Harga kedelai berjangka Chicago melemah pada perdagangan Selasa akibat aksi ambil untung setelah sehari sebelumnya mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Tekanan juga datang dari laporan kondisi tanaman Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan pasar.
Kontrak kedelai paling aktif di Chicago Board of Trade ( CBOT ) ditutup merosot USD3,50 atau 0,29% menjadi USD1.222,75 per bushel. Sebaliknya, jagung menguat USD2,25 atau 0,48% ke posisi USD475,25 per bushel, sementara gandum naik USD4,00 jadi USD678,00 per bushel, demikian laporan  Reuters,  di Chicago, Selasa (21/7) atau Rabu (22/7) pagi WIB.
Menurut Karl Setzer, salah satu pendiri Consus Ag Consulting, pelemahan kedelai terutama dipicu aksi realisasi keuntungan investor setelah reli kuat pada sesi sebelumnya. Senin, harga kedelai melesat ke level tertinggi dalam beberapa bulan berkat kuatnya permintaan dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Pergerakan jagung berlangsung fluktuatif sebelum akhirnya ditutup menguat. Namun, pasar masih dibayangi laporan terbaru Departemen Pertanian Amerika Serikat ( USDA ) yang menunjukkan kondisi tanaman jagung dan kedelai tetap relatif baik.
USDA mempertahankan penilaian kondisi tanaman jagung AS pada level 67 persen dalam kategori baik hingga sangat baik, hanya turun satu poin persentase dibanding pekan sebelumnya. Angka tersebut lebih tinggi dari ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan ke level 66 persen.
Untuk kedelai, USDA melaporkan 66 persen tanaman berada dalam kondisi baik hingga sangat baik, naik satu poin persentase dari pekan sebelumnya dan melampaui ekspektasi pasar. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa prospek produksi kedelai AS masih cukup solid, sehingga menekan harga berjangka.
Sementara itu, harga gandum mendapat dukungan dari memburuknya kondisi tanaman di Amerika Serikat serta berlanjutnya ketegangan geopolitik yang mengancam pasokan global.
USDA melaporkan hanya 53 persen tanaman gandum musim semi AS yang berada dalam kondisi baik hingga sangat baik, turun dari 58 persen pada pekan sebelumnya. Penurunan tersebut memicu kekhawatiran terhadap potensi hasil panen dan mendukung kenaikan harga.
Sentimen positif bagi gandum juga datang dari kawasan Laut Hitam. Analis menyebut harga ekspor gandum Rusia melonjak pekan lalu akibat kondisi pelayaran yang semakin sulit di Laut Hitam serta gelombang baru serangan di Selat Hormuz yang meningkatkan risiko logistik perdagangan global.
Di sisi lain, perusahaan konsultan pertanian Sovecon memangkas proyeksi produksi gandum Rusia tahun ini menjadi 88,3 juta ton dari sebelumnya 88,9 juta ton. Revisi turun tersebut didasarkan pada prospek panen yang lebih lemah di wilayah selatan Rusia serta berkurangnya luas area tanam gandum musim semi. (Reuters/AI)

Sumber : Admin