Akar dari Kemiskinan yang Kita Alami (Bukan Hanya Soal Uang, Tapi Juga Soal Pola Pikir)
Thursday, June 18, 2026       14:26 WIB

Banyak orang mengira bahwa kemiskinan hanya soal uang saja. Padahal, seringkali akar masalahnya ada pada kerangka berpikir kita sendiri. Di bawah ini kami ajukan beberapa hal yang sebelumnya mungkin tidak dianggap sebagai pola pikir ( mind set ) yang keliru. Tetapi saat ini, semakin banyak orang yang sadar bahwa pola pikir tersebut salah dan merupakan akar dari persoalan kemiskinan yang kita alami.
1. Kerja keras pasti berbuah kekayaan
Pola pikir ( mind-set ) lama mengatakan bahwa kerja keras pasti berbuah kekayaan. Orang bekerja keras, lalu mendapatkan bayaran (gaji atau upah) sesuai dengan banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan. Tetapi, kita semua tahu bahwa kita hanya memiliki 24 jam dalam sehari, dan 7 hari dalam seminggu.
Pola pikir ( mind-set ) yang baru mengatakan bahwa kerja keras memang penting, tapi tanpa strategi dan pengetahuan akan ilmu keuangan yang baik, Anda selamanya hanya menukar waktu yang Anda miliki untuk mendapatkan uang (gaji atau upah). Singkatnya, dengan pola pikir lama, Anda bisa bertahan hidup ( survive ), tetapi untuk bisa berhasil, maju, dan sukses ( thrive ) Anda membutuhkan pengetahuan keuangan yang baik.
2. Uang yang dihasilkan untuk dibelanjakan
Pola pikir lama mengatakan bahwa uang yang diperoleh sebagai hasil dari bekerja adalah untuk dibelanjakan. Akibatnya, pada setiap tanggal gajian, uang gaji dihabiskan untuk konsumsi dan mungkin juga untuk pamer. Uang (gaji) dipandang sebagai  hasil,  bukan sebagai  aset  untuk menghasilkan uang yang lebih banyak lagi. Pola pikir lama menekankan pada konsumsi dan pamer.
Tetapi, pola pikir baru mengatakan bahwa uang gaji yang Anda terima harus dipergunakan untuk membeli aset baru dan membangun masa depan. Uang gaji selalu disisihkan sebagian untuk ditabung dan diinvestasikan.
Menabung uang dalam Dana Cadangan ( Reserve Fund ) atau Dana Darurat ( Emergency Fund ) dapat menghindarkan Anda dari jebakan untuk berhutang jika terdapat kebutuhan mendadak atau jika terjadi hal-hal yang bersifat darurat.
Setelah jumlah tabungan dalam Dana Cadangan ( Reserve Fund ) atau Dana Darurat ( Emergency Fund ) telah memadai, kelebihan uang gaji kemudian diinvestasikan untuk membangun masa depan yang lebih baik, bukan untuk dipamerkan kepada orang lain.
3. Jangan mengambil resiko kalau tidak ingin hidup miskin
Pola pikir lama mengatakan bahwa kita jangan mengambil resiko karena kegagalan akan membuat kita hidup miskin. Pola pikir lama mengajarkan kita untuk tetap tinggal dalam zona nyaman ( comfort zone ), hanya melakukan hal-hal yang telah kita kenal dengan baik.
Tetapi, pola pikir baru mengatakan bahwa jika kita takut mengambil resiko, takut gagal, takut mengalami kerugian, atau takut untuk memulai sesuatu yang baru, maka hal itu justru akan membuat kita tidak pernah bisa maju dan hidup kita akan tetap berada di tempat yang sama.
Jadi, baik dalam pola pikir lama, mau pun dalam pola pikir baru, orang sama-sama berusaha menghindari terjadinya kemiskinan. Bedanya, dalam pola pikir lama, kemiskinan dianggap berasal dari kerugian akibat kegagalan usaha. Karena itu, pola pikir lama berusaha meminimalkan terjadinya kemiskinan dengan jalan menghindari resiko.
Sebaliknya, dalam pola pikir baru, kemiskinan dianggap berasal dari ketakutan untuk mengambil resiko, takut gagal, takut mengalami kerugian, dan takut untuk memulai sesuatu yang baru. Mengambil resiko dan melakukan sesuatu yang baru, pada satu sisi mengandung resiko kegagalan.
Tetapi, pada sisi yang lainnya, imbal hasil ( reward ) yang akan diperoleh jika usaha itu berhasil, juga akan semakin menarik. Pada intinya, resiko selalu ada dalam setiap usaha yang kita lakukan. Anda hanya perlu mengambil resiko yang terukur, bukan mengambil resiko dengan ceroboh.
4. Bersekolah tinggi akan menjamin kesuksesan
Pola pikir lama mengatakan bahwa kita harus bersekolah setinggi mungkin, karena bersekolah tinggi akan menjamin kesuksesan (finansial). Tidak ada orang bodoh yang menjadi kaya, selain menjadi kaya karena warisan atau menang lotere.
Untuk menjadi kaya, Anda haruslah menjadi pintar lebih dahulu, dan kepintaran tidak hanya berasal dari pendidikan semata. Pendidikan yang baik merupakan syarat yang diperlukan, tetapi bukan merupakan syarat yang cukup untuk sukses.
Seorang dokter menjadi kaya dan terkenal bukan karena gelar yang dia punya, tetapi pada kemampuannya untuk mendiagnosis penyakit dan meresepkan obat yang tepat. Seorang insinyur teknik sipil dipercaya untuk menghitung kekuatan pondasi gedung bertingkat bukan karena gelar insinyur yang disandangnya, tetapi dari pengalaman dan keahliannya menghitung kedalaman dan jumlah titik tiang pancang yang dibutuhkan untuk menopang beban dari suatu struktur gedung bertingkat tinggi.
Jadi, pola pikir lama yang mengatakan bahwa pendidikan itu penting memang benar, tetapi pendidikan saja tidak cukup. Pendidikan tinggi saja (pola pikir lama) harus dibarengi dengan kreativitas, keterampilan, pola pikir yang tepat (pola pikir baru), karena ijazah dan gelar saja tidak cukup.
5. Rezeki setiap orang sudah ditentukan Tuhan
Pola pikir lama mengatakan bahwa rezeki manusia sudah ada yang mengatur (Tuhan YME). Bahwa rezeki tidak akan tertukar, rezeki pasti akan menemukan jalannya ke pihak yang akan menerimanya, tepat pada waktu yang sudah ditentukan. Ini pola pikir lama yang masih sering kita temui di masyarakat kita yang terkenal  religious  dan taat berdoa.
Pola pikir baru mengatakan bahwa usaha, disiplin, dan perencanaan yang baik, tetap merupakan kewajiban dari setiap pribadi untuk lepas dari kemiskinan. Kemiskinan tidak berawal dari dompet yang kosong, tetapi kemiskinan berawal dari pembatasan-pembatasan yang timbul dari pola pikir kita sendiri yang keliru.
Jika Anda ingin hidup Anda berubah, maka pertama-tama ubahlah dulu pola pikir Anda. Jika pola pikir Anda sudah meningkat menjadi lebih tinggi, maka taraf kehidupan Anda pun akan berubah. Singkat kata, jika rezeki udah ada yang menentukan, maka pastikan bahwa Anda lah orang yang menentukan rezeki Anda sendiri.
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS