-
Ada yang Belum Masuk ke Hitungan Saham ADRO, Harga Mestinya Segini
Saturday, August 09, 2025 14:34 WIB
JAKARTA, investor.id - Meskipun dikenal sebagai eksportir bersih batu bara, transisi ke energi terbarukan tetap menjadi fokus utama dalam bauran energi Indonesia. Beberapa jenis energi terbarukan utama seperti panas bumi, pengolahan limbah menjadi ( waste to energy /WTE), dan panel surya akan menjadi fokus utama investor dalam beberapa tahun mendatang.
Menurut riset Indo Premier Sekuritas yang dipublikasikan pada 7 Agustus 2025, saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk () menjadi yang tertinggal secara year to date (ytd) (-23%), dibandingkanPT Pertamina Geothermal Energy Tbk () danPT TBS Energi Utama Tbk () (+73/170% ytd). Namun, analis Indo Premier Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan menilai ada komponen besar yang belum dimasukkan dalam perhitungan harga saham . Apa itu?
Energi terbarukan global dan Indonesia telah menguat sejakLiberation DayiShares Global Clean Energy ETF - yang sebagian besar terdiri dari pemain energi terbarukan dan industri pendukungnya, telah mengungguli S&P500 secara ytd (+19% vs. +7% milik S&P), meskipun sempat tertinggal sebelum pengumuman tarifLiberation Dayoleh Trump pada Apr25.
Menurut riset Indo Premier, tren ini terutama didorong oleh kombinasi ketidakpastian di awal FY25F pasca terpilihnya kembali Trump, yang dianggap tidak mendukung energi bersih, ketidakpastian regulasi terhadap penyewaan pembangkit listrik tenaga angin, dan tingginya biaya modal (tanpa adanya narasi mengenai pemangkasan suku bunga).
Demikian pula di Indonesia,(hold),(not rated),PT Barito Pacific Tbk () (not-rated), semuanya menguat +72-167%, mengungguli IHSG sebesar +66-161% ytd, meskipun ini juga didorong oleh rumor M&A pada, dan inisiatif baru pemerintah pada WTE untuk.
Target Harga
Berdasarkan peta jalan NZE yang diterbitkan oleh IEA dan Kementerian ESDM , Indonesia menargetkan pencapaian emisi nol bersih pada 2060, dengan energi surya menyumbang 50-60% dari pembangkitan listrik.
Pada saat yang sama, Kementerian ESDM berencana mengatasi kelebihan kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara (2022: 57% dari total kapasitas), kontribusi kapasitas diperkirakan akan mencapai puncaknya pada 2030 sebesar 50%, dan proses pensiun dini akan dipercepat setelah 2030. Meskipun terdapat cetak biru yang jelas untuk transisi energi terbarukan ( RUEN , RUKN , RUED , RUKD , RUPTL), Indonesia terus gagal mencapai target tahunan bauran energi terbarukan, terutama karena tingginya biaya investasi.
Sebagai contoh, IEA melaporkan bahwa biaya instalasi pembangkit energi surya/angin sekitar dua kali lebih mahal dibanding negara lain karena hambatan regulasi. Namun, dorongan terbaru terhadap adopsi waste-to-energy menunjukkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk merealisasikan target NZE ini, dan mudah-mudahan akan ada lebih banyak lagi upaya untuk mempercepat transisi ini.
"Selain itu, peta jalan ini juga menyoroti kebutuhan untuk mengadopsi teknologi seperti hidrogen, nuklir, dan CCUS pada 2050 untuk mencapai NZE, bersama dengan panas bumi," papar riset Indo Premier.
Berdasarkan kasus terdahulu, sambung Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan, narasi positif terhadap jenis energi terbarukan tertentu telah mendorong lonjakan harga saham tertentu - contohnyadan(not-rated) melalui inisiatif waste-to-energy .
Di antara potensi permainan energi terbarukan, sebut mereka,menjadi yang paling tertinggal dibandingkan,, dan. Indo Premier menilai proyek panel surya terapungdengan kapasitas dasar 2 GW akan menambah nilai sekitar Rp 535/saham terhadap harga saham, menurut estimasi Indo Premier.
Namun, Indo Premier menilai pasar belum sepenuhnya menghitung nilai dari proyek panel surya PV ini, yang menurut mereka bisa memberikan potensi peningkatan terhadap harga saham.
"Jika kami menempatkan valuasi proyek solar PV sebesar US$ 1,3 miliar, TP kami dapat dinaikkan ke Rp 2.500/saham (dari awalnya Rp 2.300/saham)," pungkas riset Indo Premier Sekuritas.
Saham Alamtri Resources Indonesia () pada perdagangan Jumat (9/8/2025) melemah 4,28% ke Rp 1.790. Tekanan jual cukup intens lantaran sentimen turunnya dari MSCI Global Standard Indexes ke MSCI Global Small Cap Indexes untuk tinjauan Agustus 2025.
Sumber : investor.id