7 Prinsip untuk Menjadi Kaya (Dengan Mengontrol Keinginan) – (II)
Thursday, October 01, 2026       15:26 WIB
  • Nilai diri Anda berdasarkan proses dan keputusan finansial yang baik, bukan semata-mata dari hasil yang cepat.
  • Jadikan setiap hambatan sebagai pelajaran, lindungi waktu seperti uang, dan gunakan kekayaan untuk memperoleh kebebasan.
  • Tentukan arti "cukup" agar tujuan membangun kekayaan tidak berubah menjadi keinginan yang terus meningkat.

Prinsip No.4: Nilai diri Anda berdasarkan proses yang dijalani, bukan hasilnya saja
Membangun kekayaan dapat sangat membuat kita frustasi karena keputusan yang baik tidak selalu langsung menunjukkan hasil yang cepat. Misalnya, Anda telah berinvestasi secara rutin sesuai anjuran perencana keuangan, tetapi pasar saham bisa tetap menunjukkan situasi lesu ( bearish ). Atau, Anda telah berusaha mempelajari berbagai ketrampilan kerja yang berguna, tetapi surat-surat lamaran yang Anda kirim belum juga dibalas oleh HRD.
Bagi orang yang membangun kekayaan dengan prinsip mengontrol keinginan, ada perbedaan antara hasil yang buruk dengan keputusan yang buruk.
Tugas Anda adalah membuat keputusan yang baik: berbelanja lebih sedikit daripada penghasilan, selalu memiliki Dana Darurat ( Emergency Fund ), hindari pinjaman berbunga tinggi, selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar, dan tetap berinvestasi secara konsisten untuk jangka panjang.
Berinvestasi mengikuti indeks saham secara luas, misalnya dengan membeli ETFyang berinvestasi dalam Indeks LQ45 secara pasif, memang terasa membosankan. Sangat jauh bedanya jika dibandingkan dengan investasi dalam saham-saham individual yang harganya dapat naik secara spektakuler.
Tetapi, Anda harus ingat juga bahwa pertumbuhan angka indeks relatif konstan mengikuti pertumbuhan ekonomi nasional, sementara harga saham individual dapat naik atau turun dalam sekejap mata.
Yang harus Anda lakukan hanyalah berinvestasi secara teratur setiap kali Anda menerima gaji, dan sesekali meningkatkan jumlah investasi Anda ketika pendapatan gaji Anda bertambah. Jadikan tindakan membangun kekayaan ini sebagai sesuatu yang terjadi secara otomatis bahkan ketika Anda sedang lelah, atau perhatian Anda sedang tertuju ke hal-hal lain.
Prinsip No.5: Mengubah halangan (hambatan) menjadi pelatihan untuk sukses
Hambatan yang ada di sepanjang jalan menuju kesuksesan sesungguhnya adalah sekumpulan informasi tentang hal-hal apa yang harus dimiliki untuk sampai pada posisi yang kita impikan. Jadi, kita harus bisa memandang setiap hambatan sebagai informasi tentang ketrampilan-ketrampilan yang harus ada dan menjadikannya sebagai pelatihan. Hambatan tidak harus dibenci tetapi harus dipandang sebagai sarana pelatihan dimana kita dapat mempersiapkan diri.
Sebagai contoh, dalam hal perencanaan keuangan, hambatan yang terjadi misalnya adalah kerusakan yang cukup parah (mogok) pada kendaraan yang kita pakai sehari-hari ke kantor. Kerusakan tak terduga pada mobil kita yang membutuhkan biaya perbaikan cukup besar, dan ongkos taksi sebagai penggantinya, akan menunjukkan apakah Dana Cadangan ( Reserve Fund ) yang disimpan sudah cukup untuk menghadapi situasi tak terduga.
Contoh lain, kejadian PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) yang terjadi tiba-tiba merupakan pertanda bahwa penghasilan Anda masih bergantung terlalu besar pada satu sumber saja, dan kejadian pasar saham (atau pasar obligasi) yang ambruk menunjukkan bahwa perencanaan investasi ( investment plan ) yang Anda buat masih terlalu optimis akan situasi pasar yang  bullish .
Tetapi hal ini tidak berarti bahwa mengalami hambatan sengaja harus dicari. Kehilangan banyak uang untuk perbaikan mobil itu tentu menyakitkan, dan terkena PHK tentu membuat diri kita stress.
Adanya hambatan harus membuat kita melatih diri untuk mengambil langkah-langkah yang berguna. Memotong biaya-biaya yang tidak mendesak, melindungi posisi likuiditas keluarga, mempelajari berbagai ketrampilan kerja yang baru, membentuk Dana Darurat ( Emergency Fund ) yang lebih besar, dll merupakan langkah-langkah yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dari kejadian timbulnya biaya-biaya yang tidak terduga dan kejadian PHK.
Prinsip No.6: Lindungi waktumu seperti Anda melindungi uangmu
Prinsip berikutnya untuk menjadi kaya adalah harus melindungi waktu yang Anda miliki seperti melindungi uang yang Anda punya. Seringkali terjadi orang-orang bersedia untuk mengeluarkan banyak uang hanya untuk melindungi harta benda miliknya tetapi memboroskan waktu miliknya yang berharga. Memahami makna dari prinsip No.6 ini mungkin akan mengubah tujuan Anda mencari kekayaan.
Tujuan menjadi kaya tidak lagi untuk mengumpulkan lebih banyak harta benda. Tujuan (sasaran) membangun kekayaan berubah menjadi untuk mendapatkan kembali keleluasaan untuk mengatur waktu.
Dengan uang (kekayaan) yang Anda miliki, Anda tidak akan ragu-ragu lagi untuk meninggalkan pekerjaan yang membuat Anda tertekan ( toxic job ), dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga, dan dapat beristirahat dengan tenang di rumah tanpa harus merisaukan pekerjaan yang menumpuk di kantor. Intinya, Anda dapat memilih pekerjaan yang sungguh-sungguh berarti untuk Anda dan keluarga.
Contoh lain tentang melindungi waktu yang Anda miliki adalah, ketika sebelum membeli sesuatu yang mahal Anda harus menghitung terlebih dahulu harga barang atau jasa tersebut jika dihitung dalam jumlah jam kerja dalam hidup Anda.
Suatu barang yang berharga Rp10 juta, katakanlah telepon genggam model mutakhir, jika dihitung dalam bentuk jumlah jam untuk bekerja, maka jumlah itu menjadi kurang lebih 2X UMR per bulan seorang buruh di Jakarta.
Membeli barang yang mahal harus dipikirkan benar-benar manfaat dan harganya. Pastikan dulu bahwa sebelum Anda menukarkan waktu Anda untuk suatu barang, Anda harus telah yakin bahwa barang itu memiliki nilai yang sepadan dengan waktu yang Anda buang untuk itu.
Uang Anda tidak boleh dihabiskan hanya untuk membuat orang lain kagum kepada Anda saja. Kekaguman orang lain cuma bertahan sebentar saja tetapi beban keuangan pembelian barang tersebut dapat bertahan sampai bertahun-tahun.
Prinsip No.7: Definisikan arti kata cukup
Terakhir, prinsip membangun kekayaan dengan cara mengontrol keinginan, yang juga sangat penting untuk dipahami adalah definisi arti kata cukup. Tanpa memahami arti kata cukup itu, maka semua usaha kita untuk membangun kekayaan menjadi seperti seperti hewan pengerat  marmut  yang berlari di atas  treadmill --mula-mula  treadmill  itu bergerak perlahan, lalu  treadmill  itu berputar semakin cepat ketika marmut berlari kencang di atasnya.
Demikian juga dengan hidup manusia--mula-mula kita puas dengan gaji setara UMR, lalu meningkat gaji harus minimal Rp10 juta per bulan baru kita merasa cukup. Selanjutnya harapan kita akan gaji yang ideal itu, terus meningkat lagi. Katakanlah menjadi Rp30 juta per bulan.
Untuk mengatasi hal itu, definisikan terlebih dahulu kehidupan macam apa yang Anda inginkan, hitung berapa banyak uang yang diperlukan untuk membangun kehidupan semacam itu, dan mulailah membangunnya.
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa perencana keuangan, hal itu berarti Anda harus menghitung (1) Berapa banyak uang tunai yang Anda perlukan untuk membentuk Dana Cadangan ( Reserve Fund ) untuk berjaga-jaga atas kebutuhan darurat yang memadai, (2) Berapa banyak yang uang gaji yang harus Anda sisihkan untuk diinvestasikan sebagai Dana Pensiun ( Retirement Fund ) nanti, dan (3) Berapa banyak uang lebih ( discretionary fund ) yang dapat Anda belanjakan tanpa merasa bersalah.
Prinsip menjadi kaya yang kami paparkan di sini mungkin tidak terlihat menarik bagi sebagian orang. Prinsip menjadi kaya yang kami paparkan di sini adalah prinsip menjadi kaya dengan jalan mengontrol keinginan: kendalikan keputusan, kurangi keinginan untuk memiliki barang-barang mewah, praktekkan ketidaknyamanan secara sadar, belajar dari hambatan-hambatan yang ada, lindungi waktu milikmu, dan pahami arti kata cukup.
Jika Anda telah menguasai tujuh prinsip tersebut, maka Anda telah berada di jalan yang tepat untuk menjadi kaya. Bahkan sebelum Anda benar-benar menjadi kaya, Anda sudah menjadi pribadi yang tidak gampang untuk dimanipulasi, tidak mudah diintimidasi, tetapi lebih mudah untuk merasa puas.
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA  

Sumber : IPS
An error occurred.