- Orang bisa bangkrut karena tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak disiplin mengelola uang, serta tidak memiliki tabungan atau dana darurat yang memadai.
- Kebangkrutan juga dipicu oleh tumpukan utang, tidak adanya sasaran keuangan, dan kegagalan belajar dari kesalahan finansial yang pernah dilakukan.
- Selain itu, kebiasaan berbelanja secara emosional dan impulsif membuat pengeluaran tidak terkendali hingga mengganggu kondisi keuangan.
Artikel iniakan membahas tentang tujuh penyebab mengapa orang menjadi bangkrut - padahal mereka telah bekerja keras. Semula ada sembilan penyebab orang menjadi bangkrut yang hendak kami diskusikan.
Akan tetapi, ada dua penyebab orang menjadi bangkrut yang kami hapuskan, yaitu (1) Orang menjadi bangkrut karena terjebak dalam tindakan kejahatan atau kriminal, baik akibat tindakan kejahatan yang dilakukan sendiri, atau kejahatan yang dilakukan oleh pihak lain kepada dirinya, dan (2) Orang menjadi bangkrut karena usahanya tidak mendapatkan restu dari Tuhan yang maha kuasa.
Penyebab orang menjadi bangkrut karena terjebak atau terlibat dalam tindakan kejahatan atau tindakan kriminal, kami keluarkan karena jika tidak, ruang lingkup pembahasan akan melebar keluar dari topik perencanaan keuangan. Kemudian, orang menjadi bangkrut karena usahanya tidak mendapatkan restu dari Tuhan yang maha kuasa, juga harus kami keluarkan karena masalah keyakinan atau masalah agama menurut pendapat kami harus dipisahkan dari masalah perencanaan keuangan.
1. Orang menjadi bangkrut karena mereka tidak memiliki pekerjaan tetap
Penyebab pertama orang menjadi bangkrut adalah karena mereka tidak memiliki pekerjaan tetap. Dalam bahasa sehari-hari, mereka disebut pekerja lepas atau ada pula yang menyebutnya pekerja serabutan. Pekerja serabutan diupah secara harian, dan tidak punya pilihan pekerjaan apa pun selain yang disodorkan kepada mereka.
Pekerja lepas tidak mendapatkan perlindungan apa pun atas resiko kecelakaan kerja selain dari upah yang mereka terima setiap hari. Pekerja lepas tidak mendapatkan asuransi keselamatan kerja, asuransi kesehatan, dan jaminan pensiun sebagaimana pekerja tetap. Jika pekerja lepas tidak masuk kerja, atau pemberi kerja memutuskan untuk tidak menerimanya bekerja, maka pekerja lepas tidak akan menerima upah untuk hari itu.
2. Orang menjadi bangkrut karena mereka tidak disiplin dalam mengeluarkan uang
Disiplin dalam mengeluarkan uang artinya hanya membeli barang yang benar-benar mampu dibeli , bukan membeli barang apa saja yang ingin dibeli . Keinginan manusia tidak ada habisnya, sehingga kita harus memiliki disiplin dalam menentukan barang yang dibeli.
Apakah suatu barang itu dibeli hanya karena kita ingin membeli dan mampu untuk membelinya, ataukah suatu barang dibeli karena memang kita membutuhkan barang tersebut, dapat menjelaskan mengapa orang dapat menjadi bangkrut.
Seringkali orang salah mengartikan kemampuan membeli ( affordability ) dengan kemampuan untuk membayar ( ability to pay ). Kita baru bisa dianggap mampu membeli ( can afford to buy ), terutama jika kita sanggup membayar barang itu secara tunai (walau pun untuk alasan-alasan tertentu, kita mungkin memilih untuk membayarnya secara angsuran).
Sebagai patokan, barang-barang untuk tujuan konsumsi ( consumer goods ) harus selalu dibeli secara tunai. Sementara itu, barang-barang yang dapat membantu kita menghasilkan uang, upah, atau gaji ( investment goods ) dapat dibeli secara angsuran.
Pada kejadian yang lain, misalnya membeli rumah (barang investasi), jarang ada orang yang sanggup untuk membayar secara tunai. Tetapi, seseorang masih bisa dianggap sanggup untuk membeli ( can afford to buy ) rumah itu jika ia diproyeksikan akan sanggup membayar semua cicilan dengan lancar, katakanlah sampai dengan satu tahun ke depan, tanpa kesulitan yang berarti.
Sebaliknya, ada orang yang sesungguhnya tidak mampu untuk membeli ( can't afford to buy ), tetapi orang itu masih memiliki kemampuan untuk membayar ( ability to pay ). Misalnya, Anda melihat sebuah motor sport yang dikendarai orang lain di jalan raya dan ingin membelinya. Untuk membayar secara tunai, uang Anda tidak cukup, tetapi Anda sanggup untuk membayar secara angsuran dengan bunga yang tinggi kepada perusahaan pembiayaan ( leasing ) terkait.
Membeli motor sport (barang konsumsi), jika tidak dilakukan secara tunai, artinya Anda sesungguhnya tidak sanggup membelinya ( can't afford to buy ), tetapi Anda memiliki kemampuan untuk membayarnya secara angsuran dengan bunga yang tinggi ( ability to pay ).
3. Orang menjadi bangkrut karena mereka tidak memiliki tabungan
Tabungan artinya uang yang disisihkan untuk menghadapi keperluan-keperluan yang tidak terduga ( emergencies ). Menabung berarti menyisihkan uang secara berkala sehingga membentuk Dana Cadangan ( Reserve Fund ), atau Dana Darurat ( Emergency Fund ) dengan jumlah yang cukup untuk kajadian-kejadian darurat yang tidak terduga. Menabung bertujuan untuk mengamankan diri Anda dari segala kebutuhan finansial yang tidak terduga.
Besarnya Dana Cadangan ( Reserve Fund ) yang kami anjurkan adalah minimal 6 bulan dari pengeluaran rutin Anda. Jika Anda masih memiliki angsuran KPR atau KKB, maka jumlah itu harus Anda masukkan sebagai pengeluaran rutin.
Pada kondisi ekonomi yang buruk dan serba tidak pasti seperti sekarang ini, kami sarankan supaya besarnya tabungan berupa Dana Cadangan ( Reserve Fund ) ditingkatkan hingga 9 bulan atau 12 bulan dari pengeluaran rutin.
Kejadian tak terduga, misalnya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) saat ini merupakan resiko besar yang dihadapi semua karyawan. Jika seorang karyawan tidak memiliki Dana Cadangan ( Reserve Fund ) yang memadai, maka perekonomian keluarga dapat terancam runtuh sewaktu-waktu terjadi PHK pada kepala keluarga.
4. Orang menjadi bangkrut karena mereka tenggelam dalam tumpukan utang
Utang berarti kewajiban untuk membayar kembali. Tanpa kemampuan untuk membayar yang jelas, kita tidak boleh meminjam uang hanya berdasarkan harapan akan rezeki yang akan datang besok. Jika Anda berutang tidak berdasarkan kemampuan untuk membayar kembali utang tersebut berdasarkan sumber-sumber penghasilan yang sudah ada sekarang , maka sesungguhnya Anda sedang berjalan menuju kebangkrutan finansial.
5. Orang menjadi bangkrut karena mereka tidak mempunyai sasaran keuangan yang ingin diraih
Orang dapat menjadi bangkrut karena mereka tidak mempunyai sasaran keuangan yang ingin diraih di masa depan. Bagi orang yang tidak mempunyai sasaran keuangan yang jelas, setiap uang kelebihan di atas uang yang diperlukan untuk biaya sehari-hari akan menjadi uang yang bebas dipergunakan untuk tujuan apa saja.
Dari sudut pandang Perencana Keuangan ( Financial Planner ), ini hal yang berbahaya. Orang bekerja dan menghasilkan uang, lalu mereka membelanjakan uang gajinya membeli barang-barang yang disukainya. Mereka tidak memiliki sasaran-sasaran keuangan yang ingin diraih.
Tidak memiliki sasaran keuangan yang ingin diraih hanya boleh dilakukan oleh pensiunan. Jika Anda masih muda dan masih aktif bekerja, Anda harus selalu memiliki sasaran keuangan untuk diraih di masa depan, karena hal itu akan memberikan Anda alasan ( purpose ) untuk bangun setiap hari, dan bekerja dengan giat.
6. Orang menjadi bangkrut karena mereka tidak belajar dari kesalahan
Kesalahan finansial dapat dilakukan oleh siapa pun, terutama oleh mereka yang masih muda dan belum berpengalaman. Melakukan kesalahan adalah hal yang normal. Misalnya, karena kurang berpengalaman, maka kita bersedia mengambil pinjaman KPR yang berbunga mengambang ( floating rate ) untuk jangka waktu panjang.
Pada waktu KPR itu diambil, utang itu terlihat murah karena bunganya lebih rendah, tetapi bunga KPR itu tidak tetap ( floating rate ), dan jangka waktu pinjaman sangat lama. Pada waktu suku bunga di pasar bergerak naik, keuntungan dari suku bunga rendah itu akan hilang dan berubah menjadi kerugian ketika bunga bergerak naik dan bertahan lama di level yang tinggi.
Contoh lain, kesalahan keuangan yang mungkin pernah dilakukan oleh hampir semua orang, adalah ceroboh meminjamkan uang kepada teman atau kerabat yang datang memintanya. Teman atau kerabat itu seringkali meminjam dengan asumsi kebaikan hati kita ( kindness ), bukan kewajiban ( commitment ) dari dirinya untuk mengembalikan uang pinjaman tersebut pada waktunya.
Akibatnya, ketika pinjaman sudah jatuh tempo dan kita meminta uang pinjaman untuk dikembalikan, kita sering kali malah dinilai sebagai pihak yang jahat ( villain ), dan bukan pihak baik ( good people ) yang telah menolong orang lain.
Kadang-kadang orang melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang tanpa menyadarinya. Jika Anda melakukan kesalahan keuangan, Anda harus belajar dari pengalaman itu, dan menghindari melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari. Tetapi, ada orang yang tidak pernah belajar. Orang-orang seperti itu adalah orang yang dapat menjadi bangkrut, walau pun mereka telah bekerja keras.
7. Orang menjadi bangkrut karena mereka sering emosional sewaktu berbelanja
Orang yang sering terlibat secara emosional pada waktu memutuskan untuk membeli sesuatu, dapat terjebak ke dalam perilaku membeli yang tidak sehat. Orang membeli sesuatu karena emosi sesaat ( impulsive ), bukan karena membutuhkan barang tersebut. Karena ia melihat suatu barang, dan dia suka dengan barang itu, maka ia membelinya.
Misalnya, seseorang merasa bosan di rumah lalu pergi ke pusat perbelanjaan. Semula tujuannya hanya jalan-jalan mencuci mata, tetapi barang-barang di mall tersebut ditata sedemikian rupa sehingga menarik minat orang untuk mencoba dan membelinya. Pembelian barang secara impulsive (melibatkan emosi), tanpa melalui konsultasi dengan anggaran ( budget ) yang ada, dapat mengakibatkan seseorang menjadi bangkrut pada akhir bulan.
Oleh : Fredy Sumnedap, CFA
Sumber : IPS