7 Kategori Pengeluaran yang Perlu Diperhatikan dalam Perencanaan Anggaran Pensiun
Tuesday, July 29, 2025       19:01 WIB

Perencanaan Keuangan kali ini akan membahas tentang tujuh kategori pengeluaran yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pensiun. Membuat anggaran pengeluaran-pengeluaran yang akan terjadi pada waktu kita pensiun akan memberikan keamanan keuangan ( financial security ) dan menambah rasa percaya diri pada waktu kita memasuki masa pensiun.
Dengan bertambahnya usia harapan hidup manusia, adanya anggaran ( budget ) yang kita susun, membuat kita merasa mampu untuk menghadapi masa depan yang lebih panjang dan tidak pasti.
Untuk menyusun perencanaan anggaran pensiun, kita harus terlebih dahulu memperkirakan pengeluaran-pengeluaran yang akan terjadi pada masa pensiun. Setelah mengetahui besarnya pengeluaran-pengeluaran yang akan terjadi, kita kemudian harus memperkirakan besarnya pendapatan pada masa pensiun.
Salah satu cara yang baik untuk memperkirakan besarnya pengeluaran kita pada masa pensiun adalah dengan memperhatikan pos-pos (kategori) pengeluaran kita setiap bulan. Akan tetapi, pada masa pensiun, ada pos-pos (kategori) pengeluaran tertentu yang sering terlewatkan dari perhatian kita.
Suatu pengeluaran mungkin sebelumnya tidak pernah muncul pada waktu kita masih aktif bekerja. Atau, suatu pos pengeluaran mungkin hanya muncul sekali dalam lima tahun (misalnya pos penggantian mobil baru), atau hanya muncul sekali dalam sepuluh tahun (misalnya pos penggantian  kitchen set  yang sudah aus). Dengan mengetahui pos-pos (kategori) pengeluaran itu, kita akan dapat menyusun anggaran pada masa pensiun dengan baik dan lengkap.
I. Bagaimana cara memulai menyusun anggaran pensiun?
Kita dapat memulai untuk menyusun anggaran masa dengan membagi pengeluaran-pengeluaran dalam masa pensiun menjadi dua golongan besar:  mandatory  ( needs ) dan  discretionary  ( wants ). Penting juga untuk membandingkan total pengeluaran ( expenses ) pada masa pensiun dengan total pendapatan ( income ) kita pada masa pensiun.
Perlu diingat bahwa baik pengeluaran maupun pendapatan kita dapat tidak sama setiap bulan. Oleh karena itu, pengeluaran dan pendapatan kita harus ditinjau ulang setiap tahun.
 a. Mulailah dari pengeluaran-pengeluaran yang wajib kita keluarkan (mandatory expenses). 
Pengeluaran yang wajib pisahkan adalah semua pengeluaran dari golongan  needs  ( mandatory ), seperti untuk biaya rumah, biaya transportasi, biaya hidup sehari-hari, dan biaya pengobatan (pemeliharaan kesehatan).
 b. Kemudian hitunglah pengeluaran-pengeluaran yang tidak wajib kita keluarkan (discretionary expenses). 
Pengeluaran yang tidak wajib untuk dipisahkan adalah dari golongan  wants  ( discretionary ), seperti biaya  travelling , biaya-biaya untuk menyalurkan hobbi, dan termasuk juga biaya-biaya untuk perbaikan rumah ( home maintenance ) yang bertujuan untuk membuat rumah lebih indah dan nyaman, biaya untuk mengganti mobil lama dengan mobil model terbaru, atau biaya membeli pakaian ( clothing ) bermerk yang mahal, atau biaya untuk makan dan minum di restoran mahal.
 c. Setelah semua pengeluaran-pengeluaran telah teridentifikasi, bandingkan jumlah total pengeluaran dengan jumlah total pendapatan pada masa pensiun.  
Dari mana sumber pendapatan pada masa pensiun? Hitung jumlah JHT (Jaminan Hari Tua), investasi dari TDPP (Tabungan Dana Pensiun Pribadi) berupa reksadana, saham-saham, atau obligasi-obligasi, dan uang dari investasi yang lain seperti pendapatan sewa rumah. Untuk pekerja (karyawan) yang sebelumnya bekerja di Perusahaan dan akan memasuki usia pensiun, maka karyawan akan mendapatkan uang PHK akibat pensiun. Uang PHK ini bisa berjumlah besar bergantung pada masa kerja karyawan, tetapi tidak kami bahas di sini.
II. Apa yang dapat dipelajari dari daftar belanja bulanan kita?
Mungkin daftar belanja bulanan jarang kita perhatikan sewaktu kita masih aktif bekerja, ketika ada uang gaji yang rutin masuk ke dalam rekening kita setiap bulan. Tetapi, ketika kita telah memasuki masa pensiun, daftar belanja bulanan menjadi sesuatu yang penting untuk dicermati. Ketika sudah pensiun, maka tidak ada lagi uang gaji yang masuk.
Kita perlu mencermati daftar belanja bulanan kita untuk:
  1. Mengetahui rata-rata pengeluaran kita setiap bulan.
  2. Mengetahui jumlah pengeluaran wajib ( essential ) yang akan berulang setiap bulan.
  3. Mengetahui pembelian-pembelian yang hanya terjadi sesekali. Pembelian ini jarang terjadi, tetapi jumlahnya bisa sangat besar. Misalnya pembelian mobil baru untuk menggantikan mobil lama yang telah tua, atau biaya perbaikan rumah seperti atap rumah bocor, atau penggantian perangkat dapur yang usang.
  4. Mengetahui bahwa ada pengeluaran-pengeluaran tertentu yang tidak muncul lagi, tetapi muncul pengeluaran-pengeluaran baru yang tidak ada sebelumnya. Pengeluaran-pengeluaran yang telah hilang misalnya adalah pembayaran biaya kuliah anak-anak. Pengeluaran-pengeluaran yang baru muncul misalnya adalah biaya tamasya ( travelling ) ke luar negeri.

III. Tujuh pengeluaran yang harus diperhatikan
Ada beberapa pos pengeluaran pada masa pensiun yang cukup besar dan membutuhkan perhatian yang serius. Kadang-kadang biaya-biaya itu terlewat dari perhatian karena kita sering beranggapan bahwa biaya-biaya itu masih sama seperti sewaktu kita masih aktif bekerja. Atau, ada biaya-biaya yang dulu belum muncul, tetapi akan muncul setelah kita memasuki masa pensiun. Jika biaya-biaya itu cukup besar, maka kita harus memperhatikan dengan cermat biaya-biaya tersebut ketika menyusun anggaran masa pensiun.
 1. Biaya cicilan rumah (jika masih ada) dan biaya pemeliharaan rumah  
Biaya cicilan rumah biasanya sudah selesai ketika seorang karyawan mulai memasuki usia pensiun. Tetapi, pengecualian tetap bisa terjadi, misalnya jika seseorang mengajukan pensiun dini ( early retirement ), atau dipensiunkan lebih awal oleh Perusahaan tempatnya bekerja karena sesuatu hal (misalnya karena efisiensi Perusahaan).
Biaya terkait dengan rumah yang juga cukup besar nilainya adalah biaya pemeliharaan rumah (pengecatan rumah, penggantian kusen kayu atau rangka atap yang dimakan rayap, perbaikan dinding yang rusak karena lembab, penggantian  kitchen set  yang rusak, penggantian mesin cuci, dll). Walau pun pengeluaran-pengeluaran ini tidak sering terjadi, biaya untuk perawatan rumah seperti ini jumlahnya dapat sangat besar sehingga biayanya perlu dialokasikan dalam penyusunan anggaran pada masa pensiun.
 2. Biaya pemeliharaan kesehatan dan biaya polis asuransi kesehatan  
Pada waktu memasuki usia pensiun, biaya-biaya pemeliharaan kesehatan yang sebelumnya ditanggung oleh Perusahaan pemberi kerja, akan beralih menjadi tanggung jawab pensiunan itu sendiri. Kita juga semua tahu bahwa semakin tua usia kita, maka biaya-biaya pemeliharaan kesehatan akan semakin besar.
Sebagai perencana keuangan, kami sangat menganjurkan setiap orang supaya memiliki polis asuransi kesehatan. Biaya pemeliharaan kesehatan pasti akan terjadi, dan lebih baik mengeluarkan biaya itu (sebesar biaya pembelian polis asuransi kesehatan) yang sudah kita ketahui jumlahnya, dari pada bertaruh bahwa kita mungkin hanya akan mengeluarkan biaya pemeliharaan kesehatan yang lebih kecil daripada biaya pembelian polis asuransi kesehatan.
Biaya pemeliharaan kesehatan lainnya adalah biaya perawatan jangka panjang ( long term care ), di mana seseorang tidak harus mengalami sakit, tetapi ia butuh perawatan jangka panjang karena kondisi fisiknya yang sudah menua.  Long term care  merupakan satu jenis manfaat dari asuransi, tetapi di Indonesia asuransi kesehatan hanya mengganti biaya-biaya apabila tertanggung mengalami sakit.
Perawatan untuk orang-orang tua biasanya diserahkan kepada anggota keluarga tertanggung. Biaya-biaya perawatan jangka panjang ( long term care ), bisa cukup besar berupa obat-obatan, vitamin-vitamin, makanan yng bergizi, serta tenaga perawat harian.
 3. Biaya hidup sehari-hari  
Biaya hidup sehari-hari pada masa pensiun dapat berbeda jauh dengan biaya hidup sehari-hari pada masa aktif bekerja. Mungkin pensiunan tidak akan mengeluarkan banyak biaya untuk makan di luar atau membeli kopi di kafe seperti ketika masih aktif bekerja. Tetapi, setelah pensiun, biaya-biaya lain akan meningkat, seperti biaya berlangganan Netflix, biaya pulsa, sambungan internet, dan lain-lain karena pensiunan memiliki lebih banyak waktu di rumah.
 4. Biaya tamasya dan berlibur  
Pada waktu masih aktif bekerja, tamasya dan berlibur hanya dilakukan sekali-sekali karena keterbatasan waktu luang. Tetapi, pada masa pensiun, waktu merupakan sumberdaya yang berlimpah bagi sebagian besar orang . Jika Anda memutuskan untuk tidak lagi bekerja paruh waktu ( part time ) pada masa pensiun, maka setiap hari adalah liburan bagi Anda.
Kebanyakan orang akan lebih sering berlibur pada masa pensiun, terutama pada masa-masa awal pensiun. Biaya-biaya tamasya ( travelling ) Anda mungkin akan melonjak sangat tinggi dibandingkan dengan sewaktu masih aktif bekerja. Jika hal ini terjadi, Anda harus memperhitungkannya baik-baik pada waktu menyusun anggaran pengeluaran pada masa pensiun.
 5. Biaya untuk menyalurkan kegemaran (hobbies) 
Pada waktu masih aktif bekerja, banyak kegemaran ( hobbies ) yang tidak bisa disalurkan karena keterbatasan waktu yang ada. Setelah memasuki usia pensiun, orang akan memiliki banyak waktu untuk menyalurkan kegemaran ( hobbies ) yang disukainya. Seseorang mungkin memiliki kegemaran untuk beternak ayam, maka ia mungkin harus membeli lahan yang cukup luas di luar kota (butuh biaya besar). Atau ia memiliki kegemaran untuk bermain selancar angin di pantai (butuh biaya besar). Atau ia memiliki kegemaran untuk bermain golf (juga butuh biaya yang relatif besar).
Kami tidak bermaksud membatasi kegemaran-kegemaran dari pensiunan, tetapi kami ingin mengingatkan bahwa kegemaran-kegemaran ( hobbies ) tersebut membutuhkan bayak uang, dan karenanya harus diperhitungkan dalam penyusunan anggaran pada masa pensiun.
 6. Biaya transportasi atau pembelian mobil baru  
Ada satu lagi pos pengeluaran pada masa pensiun yang cukup besar tetapi sering terlewatkan karena hanya terjadi sekali-sekali saja, yaitu pos pembelian mobil baru. Mobil merupakan alat transportasi yang berusia panjang, tetapi tetap saja mobil yang dipakai harus diganti setiap lima tahun atau tujuh tahun sekali. Harga pembelian satu mobil baru cukup mahal, dan harus diperhitungkan pada waktu menyusun anggaran pengeluaran pada masa pensiun.
 7. Biaya mengisi kembali dana cadangan (reserve fund) 
Satu lagi biaya yang sering terlewatkan pada waktu kita menyusun anggaran pengeluaran pada masa pensiun yaitu biaya untuk mengisi kembali Dana Cadangan ( Reserve Fund ). Dana Cadangan ( Reserve Fund ) dipakai untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran tak terduga. Pada waktu kita masih aktif bekerja, Dana Cadangan ( Reserve Fund ) mungkin akan terpakai pada waktu kendaraan yang kita pakai untuk pergi ke kantor mengalami kerusakan serius dan harus masuk bengkel. Dana Cadangan mungkin juga akan terpakai ketika kita mengalami PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).
Tetapi, ketika kita sudah memasuki usia pensiun, Dana Cadangan (Reserve Fund) mungkin akan terpakai ketika kita harus membantu anggota keluarga atau teman dekat yang sedang mengalami musibah. Mungkin kita cukup beruntung karena kita memiliki polis asuransi untuk menutup risiko-risiko besar, dan kita memiliki Dana Cadangan ( Reserve Fund ) untuk menutup risiko-risiko kecil yang terjadi. Tetapi, kita juga tidak ingin menutup mata atas musibah yang terjadi pada orang lain.
Dana Cadangan yang terpakai itu, apa pun alasannya, harus diisi kembali. Dalam menyusun anggaran pada masa pensiun, selalu ada kemungkinan kita harus menyiapkan pos biaya untuk mengisi kembali Dana Cadangan yang terpakai itu.
 Oleh : Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS