5 Resiko yang Harus Diambil, Jika Tak Ingin Tetap Hidup Miskin
Thursday, April 23, 2026       15:19 WIB

Bermain aman dapat menghindarkan Anda dari kemungkinan gagal atau rugi. Tetapi, sebaliknya, bermain aman lambat laun juga akan membuat Anda tidak dapat maju. Untuk maju, kita harus berani mengambil resiko.
Mengambil resiko bukan berarti melangkah dengan ceroboh. Sebaliknya, mengambil resiko harus dilakukan secara terukur. Kekayaan dan kemakmuran ( wealth ) tidak akan berpihak kepada orang yang menolak untuk mengambil resiko.
Bermain aman itu baik, tetapi rasa aman yang terlalu besar sesungguhnya hanya membuat kita tetap miskin. Banyak orang terlahir dalam keluarga miskin, dan tetap hidup miskin, bukan karena mereka malas, tetapi karena mereka menghindar dari mengambil resiko keuangan yang ada. Mereka selalu ingin mendapatkan jaminan akan berhasil sebelum melangkah.
Tetapi, kemakmuran ( wealth ) tidak akan datang kalau Anda tidak mau keluar dari zona nyaman ( comfort zone ). Jika Anda ingin untuk keluar dari kemiskinan, maka Anda harus bersedia mengambil resiko-resiko ini.
1. Resiko mempelajari hal baru
Banyak orang yang melakukan kesalahan ketika mereka berhenti belajar setelah lulus kuliah. Terus belajar di sini bukan berarti kita harus melanjutkan kuliah ke tingkat master, kemudian ke tingkat doktoral, setelah lulus sarjana S-1.
Dunia kerja saat ini jarang yang selalu mencari pekerja dengan kualifikasi lebih tinggi seperti S-2 dan S-3, kecuali pada bidang-bidang riset. Dunia kerja saat ini lebih menghargai pekerja yang menguasai ketrampilan kerja ( skill ) yang berguna, daripada sekadar gelar.
Uniknya, ketrampilan kerja yang berguna itu tidak selalu diperoleh di bangku kuliah. Karena itu, Anda harus selalu siap untuk belajar hal baru, harus selalu siap untuk menjadi pemula ( junior or beginner ) lagi. Karena, setiap ketrampilan kerja yang baru itu akan menciptakan kesempatan baru untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar.
Dua puluh tahun lalu, bermodalkan ilmu S-1 mungkin sudah cukup untuk dapat bersaing di tempat kerja. Tetapi sekarang, dengan gelar S-2 pun seringkali sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Bukan karena gelar itu buruk, tetapi karena sarjana baru umumnya tidak memiliki ketrampilan kerja ( skill ) yang baik.
Dalam sepuluh tahun ke depan, ketrampilan kerja yang baik itu dapat berupa kemampuan untuk memanfaatkan AI ( artificial intelligence ) yang akan memangkas biaya dan jumlah tenaga kerja. Atau mungkin hanya sekadar kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing saja.
2. Resiko memulai dari hal kecil
Tindakan mengambil resiko seringkali dikaitkan dengan kegiatan berwirawasta ( entrepreneurship ). Tetapi sesungguhnya, dalam bekerja sebagai karyawan di perusahaan pun, seringkali kita harus mengambil resiko.
Ketika kita pertama kali diterima bekerja, kita tentu ingin ditempatkan di kantor pusat, dan bekerja di kantor yang nyaman, dengan fasilitas yang lengkap. Tetapi hal seperti itu jarang terjadi pada karyawan baru di Perusahaan besar dengan banyak cabang atau anak usaha.
Jika kita melamar pekerjaan pada perusahaan besar dengan banyak cabang di kota-kota di luar Jakarta, atau bahkan di luar pulau Jawa, kita harus siap untuk ditempatkan di kantor-kantor cabang di luar Jakarta. Memulai karir dengan bekerja di kantor cabang tidak akan membuat karir kita mandek.
Hal yang terpenting adalah selalu menunjukkan performa kerja yang baik, di mana pun kita ditempatkan. Tentu saja, kami tidak menginginkan Anda untuk tetap berada di posisi yang sama tahun demi tahun.
Anda mungkin memulai karir di kantor cabang yang kecil, tetapi setelah Anda cukup belajar tentang operasional dan bisnis di Perusahaan tersebut, Anda harus siap untuk menapaki karir lebih lanjut dengan pindah ke kantor pusat. Pergunakan waktu di kantor cabang untuk mengasah kemampuan Anda sebelum bertarung di kantor pusat berkompetisi melawan para karyawan lain untuk mendapatkan posisi manajer.
3. Resiko dipermalukan di depan umum
Dipermalukan di depan umum karena kegagalan seringkali membuat orang tidak berani mengambil resiko. Orang terlalu khawatir akan pendapat orang lain jika proyek yang dia ambil ternyata tidak berjalan dengan baik. Tetapi, sebagai wiraswasta ( entrepreneur ) Anda harus terus melangkah maju.
Bahkan, jika Anda hanya bekerja sebagai karyawan, dan suatu ketika diminta untuk mengerjakan suatu proyek yang rumit, jangan lalu berpikir bahwa Anda hanyalah karyawan saja. Resiko proyek gagal biar menjadi tanggung jawab atasan saja.
Bagaimana pun, orang-orang yang menertawakan Anda bukanlah orang yang membayar biaya atas kegagalan Anda. Jangan mempedulikan mereka. Kegagalan bukanlah lawan kata dari keberhasilan. Kegagalan adalah bagian dari keberhasilan (yang tertunda).
4. Resiko berinvestasi pada diri sendiri
Ketika kita baru pertama kali bekerja, setelah lulus kuliah, pada umumnya kita belum memiliki harta yang banyak. Tetapi, kita sudah dapat mulai berinvestasi. Bukan berinvestasi pada aset keuangan atau aset riil (yang belum kita miliki), tetapi berinvestasi pada diri kita sendiri.
Anda dapat mulai berinvestasi pada diri sendiri, misalnya dengan belajar bahasa asing, seperti bahasa Inggris atau bahasa Mandarin (Chinese). Atau, Anda dapat belajar tentang aplikasi AI ( artificial intelligence ).
Berinvestasi pada diri sendiri, bagi sebagian orang, mungkin dianggap hanya membuang-buang uang karena tidak secara langsung akan menambah penghasilan Anda. Tetapi, berinvestasi pada diri sendiri merupakan suatu cara untuk meningkatkan kemampuan Anda untuk memperoleh penghasilan yang lebih besar di kemudian hari.
Mungkin tidak saat ini, pada Perusahaan Anda bekerja saat ini, tetapi Anda akan membutuhkannya pada waktu Anda melamar kerja pada Perusahaan baru di kemudian hari.
5. Resiko meninggalkan zona nyaman ( comfort zone )
Ada banyak bentuk dari zona nyaman. Ada orang yang mempunyai zona nyaman berupa lingkungan kerja, lingkungan sosial, atau lingkungan keluarga yang sudah dikenal dengan baik ( familiar ). Misalnya, seorang sarjana lulusan PTS (Perguruan Tinggi Swasta) terkenal di Jakarta (tapi berasal dari luar pulau Jawa) yang sudah merasa nyaman dengan lingkungannya di daerah akan cenderung untuk pulang kampung setelah lulus, Akan tetapi kesempatan untuk maju, sesuai dengan ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah, akan jauh lebih terbuka jika ia mulai bekerja menimba pengalaman di Jakarta dulu.
Kemajuan dan pertumbuhan jarang terjadi di tempat-tempat yang sudah dikenal dengan baik. Kadang-kadang untuk tumbuh dengan baik dibutuhkan lingkungan baru, dan kesempatan baru. Jika lingkungan kerjamu sudah tidak menawarkan tantangan baru, mungkin sudah saatnya untuk keluar dan mencari peluang baru.
 Oleh : Fredy Sumnedap, CFA 

Sumber : IPS