5 Pertanyaan yang Harus Dijawab Sebelum Melakukan Pembelian Besar
Monday, July 21, 2025       19:09 WIB

Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang lima pertanyaan (keuangan) yang harus dijawab sebelum melakukan pembelian besar. Pembelian besar di sini adalah pembelian barang (atau jasa) yang jumlahnya beberapa kali lipat daripada gaji sebulan. Di sini, kita hanya akan membahas tentang konsekuensi keuangan dari tindakan melakukan pembelian barang yang membutuhkan jumlah uang yang sangat besar (relatif terhadap gaji).
Barang berjumlah besar itu misalnya adalah pembelian rumah (atau biaya renovasi rumah), pembelian mobil, atau pembelian perang kat dapur ( kitchen set ) yang mahal. Pada dasarnya, untuk setiap pembelian besar, ada tiga cara yang dapat dipakai untuk membiayai pembelian tersebut. Pertama, membeli tunai dengan mengambil dari Dana Cadangan ( Cash Reserve ); kedua, melakukan pencairan investasi yang ada; dan ketiga, mengambil pinjaman baru.
Ketiga cara pembelian ini masing-masing membawa konsekuensi keuangan yang berbeda. Kita perlu mengetahui konsekuensi dari masing-masing cara pembiayaan yang kita pilih untuk menghindari berbagai kejutan-kejutan keuangan yang tidak terduga akibat keputusan kita.
1. Apakah sebenarnya saya mampu membelinya secara tunai?
Cara pembiayaan pertama adalah membeli secara tunai. Cara ini merupakan cara yang baik (kalau tidak yang terbaik), tetapi sayangnya (hampir) tidak mungkin diterapkan untuk pembelian barang yang sangat besar nilainya. Ambil contoh pembelian perangkat dapur ( kitchen set ), mungkin sebagian dari antara kita dapat membiayainya dengan mengambil uang itu dari Dana Cadangan ( Cash Reserve ).
Kemudian, kita naik ke pembelian barang yang lebih mahal yaitu mobil. Untuk membiayai pembelian mobil, sebagian besar dari antara kita akan mengalami kesulitan untuk membayar tunai karena harga mobil cukup mahal.
Terakhir, untuk kebutuhan membeli rumah tinggal, hampir tidak ada yang membeli secara tunai karena harga rumah dapat mencapai puluhan kali dari gaji sebulan. Hal yang penting di sini adalah bahwa kita telah menyadari mengapa suatu cara pembiayaan kita ambil, dan apa konsekuensi keuangan dari mengambil cara pembiayaan tersebut.
2. Apakah saya harus mencairkan investasi yang ada untuk membiayainya?
Cara pembiayaan kedua adalah dengan mencairkan investasi yang ada. Investasi yang sudah ada, kalau Anda belum memiliki rumah tinggal, kemungkinan besar adalah saham-saham atau reksadana ( financial assets ), atau emas batangan ( real assets ).
Kekhawatiran terbesar pemodal saham adalah di mana pemodal harus menjual sahamnya pada saat harganya sedang turun ( realized losses ), atau merasa bahwa harga saham-saham masih akan naik setelah dijual (melupakan  potential gain ). Untuk investasi reksadana yang terdiversifikasi dengan baik, kenaikan harga saham individual tidak akan terlalu terasa.
Untuk pemodal saham atau reksadana yang telah cukup lama berinvestasi dalam saham-saham atau reksadana tersebut, jika ditinjau dari harga pada saat ia mulai berinvestasi beberapa tahun yang lalu, maka harga-harga saham atau reksadana pada saat dijual mungkin telah lebih besar daripada harga semula pada waktu pertama kali berinvestasi. Dengan demikian, mencairkan investasi yang sudah ada, barang kali tidak akan terlalu merisaukan hati pemodal.
3. Apakah berutang sekarang untuk membeli barang itu masuk akal?
Cara pembiayaan yang ketiga adalah dengan berutang. Membiayai pembelian rumah atau mobil dengan pinjaman barangkali satu-satunya pilihan yang tersedia bagi kita karena harga rumah atau mobil yang relatif sangat mahal diukur dari jumlah gaji yang kita terima setiap bulan.
Pendapatan (gaji) yang kita terima setiap bulan haruslah menjadi pedoman sebelum mengambil pinjaman baru. Sebagai pedoman awal, kita bisa menggunakan batasan bahwa besarnya cicilan utang pembelian rumah adalah maksimal 30% dari gaji bersih, dan bahwa maksimal seluruh cicilan yang ada tidak melebihi 40% dari gaji bersih setiap bulan. Tentu saja angka-angka dalam batasan ini perlu dikaji lebih mendalam jika kita telah memiliki data yang lebih banyak tentang kondisi keuangan diri kita.
Saat ini banyak orang yang menyuarakan bahwa membeli rumah tinggal tidak menguntungkan lagi, dan kita akan lebih baik untuk mengontrak rumah saja. Alasan yang sering dikemukakan adalah harga rumah yang sudah tidak naik lagi bahkan cenderung turun.
Menurut pertimbangan kami, harga rumah tidak naik lagi (dan cenderung turun pada lokasi-lokasi tertentu) dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor penting yang tidak boleh dilupakan di sini adalah faktor daya beli konsumen perumahan.
Kebutuhan akan rumah memang besar, karena banyak sekali orang yang belum memiliki rumah. Tetapi, dengan besarnya angka pengangguran saat ini (sekitar 8 juta orang usia produktif), pembelian rumah pasti akan tertunda dan orang cenderung untuk menyewa lebih dulu.
Ketika kondisi ekonomi kembali normal, dengan jumlah pengangguran yang turun dan jumlah lowongan kerja yang lebih banyak, maka kemampuan konsumen untuk membeli rumah akan kembali dan harga rumah juga akan kembali naik.
4. Pinjaman seperti apa yang harus saya pertimbangkan?
Setelah membahas tiga cara pembiayaan yang dapat kita pilih, yaitu tunai, mencairkan investasi, dan mengambil pinjaman baru, dan kita telah memutuskan bahwa cara pembiayaan dengan berutang adalah cara pembiayaan yang kita pilih, sekarang kita harus memilih bentuk pinjaman yang paling menguntungkan bagi kita. Tentu saja, dalam memilih jenis utang yang akan kita ambil, pertama-tama kita akan mencari utang yang berbunga paling rendah. Tetapi, bunga pinjaman yang rendah bukan satu-satunya pertimbangan di sini.
Untuk pinjaman pembelian mobil (KKB), perusahaan pembiayaan menghitung bunga pinjaman berdasarkan metode bunga  in-advance . Artinya, pada saat pinjaman diberikan (saat perjanjian pinjaman KKB itu ditandatangani) maka debitur sudah harus membayar angsuran pertama. Jadi, kalau hanya melihat dari suku bunga saja, pinjaman perusahaan pembiayaan terkesan lebih murah dibandingkan dengan suku bunga kredit dari Bank yang menggunakan metode  in-arrear  (artinya bunga hanya dihitung dengan berjalannya waktu pinjaman).
Untuk pinjaman pembelian rumah, ada dua macam metode perhitungan bunga yang dipakai oleh Bank, metode suku bunga tetap ( fixed rate ) dan metode suku bunga mengambang ( floating rate ). Metode suku bunga tetap ( fixed rate ) biasanya hanya diberikan untuk KPR yang tenornya rendah, sekitar satu hingga tiga tahun saja.
Itu pun jika Bank mengganggap bahwa suku bunga yang berlaku saat ini tergolong rendah sehingga Bank dapat mengalami kerugian jika suku bunga perbankan beranjak naik (sumber pendanaan Bank terutama berasal dari simpanan deposito masyarakat yang berjangka waktu maksimal satu tahun).
5. Apakah sebaiknya saya menunda pembelian itu?
Pertanyaan (keuangan) terakhir yang perlu Anda jawab sebelum melakukan pembelian besar adalah apakah pembelian itu sebaiknya ditunda dulu ataukah pembelian itu memang harus dilakukan sekarang?
Membeli barang yang mahal pada waktu suku bunga sedang tinggi dan suku bunga yang berlaku adalah suku bunga tetap ( fixed rate ) tentu bukanlah pilihan yang bijaksana. Perlu diingat bahwa pinjaman pembelian mobil (KKB), selalu berbunga tetap ( fixed rate ). Demikian juga, beberapa Bank ada yang menjual produk KPR miliknya menggunakan suku bunga tetap ( fixed rate ). Berutang pada waktu suku bunga tinggi dan suku bunga itu bersifat tetap tentulah kurang bijaksana.
 Oleh : Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS