- Kekayaan bukan soal gaji besar atau gaya hidup mewah, melainkan kemampuan membangun aset dan kebebasan finansial.
- Tanda jebakan kemiskinan terlihat dari ketergantungan pada gaji, utang konsumtif, tidak punya dana cadangan, dan harta yang tidak menghasilkan pendapatan pasif.
- Orang kaya membangun aset yang bertumbuh, sementara orang yang hanya tampak kaya sering menghabiskan uang untuk mempertahankan citra.
Setiap orang punya cita-cita untuk menjadi kaya dan sukses, dan setiap orang akan berusaha untuk menghindari terjebak dalam kemiskinan. Dalam artikel sebelumnya kita telah mendefinisikan bahwa, bagi seorang karyawan, miskin adalah jika ia hanya hidup mengandalkan gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya ( living from pay-check to pay-check ).
Jadi, seorang karyawan bisa saja memiliki jabatan yang tinggi dan gaji yang besar. Tetapi, jika hidupnya hanya bergantung pada gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya, maka kita tetap akan menganggapnya sebagai orang miskin.
Selanjutnya, kami mendefinisikan orang kaya sebagai orang yang bebas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya tanpa ada pihak lain yang memaksanya. Seorang karyawan yang terpaksa bangun pukul enam pagi setiap hari untuk berangkat kerja, dan pulang pukul lima sore pada saat jalanan dipenuhi kemacetan, berdasarkan definisi ini bukanlah orang kaya.
Seorang karyawan yang lain, mungkin tinggal dekat dari kantor dan dapat bangun jam tujuh setiap pagi. Tetapi, jika ia tetap harus bekerja setiap hari karena masih mempunyai banyak utang (KPR, KKB, KK), maka karyawan ini pun tidak dapat digolongkan sebagai orang kaya.
Kita mungkin akan kagum melihat orang yang memamerkan foto-foto rumahnya yang megah di komplek perumahan elite, atau foto-fotonya di depan mobil-mobil mewahnya, atau barangkali foto-foto dirinya sedang berlibur ke luar negeri. Tetapi, apa yang Anda lihat di permukaan, mungkin sekali bukan gambaran kondisi keuangan orang itu yang sesungguhnya.
Kita tidak tahu, misalnya, bahwa orang itu telah menunggak pembayaran angsuran KPR selama dua bulan. Atau, mungkin juga pemakaian semua kartu kreditnya sudah mencapai limit, dan setiap bulan kartu kreditnya hanya dibayar sejumlah minimumnya. Orang itu kelihatan kaya, tetapi kenyataannya ia sudah hampir bangkrut ( he looks rich on paper, but in reality, he is almost broke ).
Hal yang mengkhawatirkan di sini adalah, masalah orang-orang yang ingin tampil sebagai orang kaya, tetapi sesungguhnya adalah orang miskin, ini tidak terjadi hanya pada satu atau beberapa orang saja.
Di kota-kota besar seperti Jakarta, banyak orang yang berpandangan bahwa penampilan luar lebih penting daripada kenyataan di dalamnya. Ini adalah jebakan kemiskinan yang dapat membuat Anda tetap miskin untuk waktu yang lama.
Mengetahui adanya jebakan kemiskinan itu adalah langkah awal untuk menghindari tetap hidup miskin selamanya.
Pertanda 1 : Gaji terlihat mengagumkan, tetapi tidak tercermin pada Net-Worth
Apa perbedaan antara gaji ( salary ) yang besar dengan kekayaan bersih ( net worth ) yang besar? Barangkali ini adalah satu pertanyaan yang orang lain tidak pernah membayangkannya: jika besok saya dipecat, berapa lama saya akan mampu bertahan?
Pada situasi perekonomian yang baik, di mana lapangan kerja tersedia luas, mungkin dalam waktu tiga bulan saja Anda sudah akan mendapatkan pekerjaan baru. Tetapi, kondisi ekonomi saat ini sangat berbeda dibandingkan dengan kondisi perekonomian 5 atau 10 tahun yang lalu.
Gaji yang besar, puluhan juta rupiah per bulan, mungkin terasa aman bagi Anda, jika tidak ada risiko PHK. Tetapi, perlu diingat bahwa gaji hanyalah aliran uang masuk dan aliran uang keluar saja.
Sebaliknya, kekayaan bersih ( net-worth ) adalah berapa banyak uang yang berhasil Anda kumpulkan dari aliran uang masuk setelah dikurangi dengan aliran uang keluar itu. Banyak orang yang bergaji besar, puluhan juta rupiah per bulan, tetapi hanya hidup bergantung pada gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya ( living pay-check to pay-check ). Artinya, jika gaji bulan ini terhenti karena PHK, maka kondisi hidupnya akan berubah drastis.
Pertanda II : Gaya hidup yang mewah berasal dari utang, bukan milik sendiri
Ada perbedaan besar antara membeli secara tunai ( funding ) dan membeli secara kredit ( financing ). Ketika Anda membeli sesuatu secara tunai, maka Anda adalah pemilik ( you are the owner ) dari barang itu. Sebaliknya, jika Anda membeli secara kredit, maka sebelum kreditmu lunas, pemilik barang itu adalah Bank atau Perusahaan pembiayaan ( bank is the owner ).
Ambil contoh, rumah yang Anda beli secara KPR. Anda mungkin tercatat dalam sertifikat sebagai pemilik rumah. Tetapi, sertifikat kepemilikan rumah itu masih disimpan oleh pihak bank sampai semua kredit lunas. Sebelum kredit itu lunas, Anda hanya berstatus sebagai penyewa saja, walau pun Anda mungkin merasa sebagai pemilik.
Hal ini juga berlaku juga berlaku untuk barang-barang yang lain (walau pun secara hukum ada beberapa perbedaan dalam ketentuan penyitaan barang-barang jaminan): mobil yang Anda beli dengan KKB, furniture yang Anda beli dengan KTA, atau baju bermerk yang Anda beli dengan menggesek KK (dan hanya membayar jumlah minimum saja pada setiap tanggal tagihan).
Hal yang berbahaya di sini adalah: membeli secara kredit ( financing ) terasa tidak berbeda dengan membeli secara tunai ( funding ) ... hingga ketika pada suatu saat Anda sudah tidak mampu lagi untuk membayar cicilannya, dan segala sesuatu berubah dengan cepat.
Perbedaan antara orang yang kaya ( wealthy people ), dan orang yang hanya tampak kaya (tetapi sesungguhnya miskin) ( looking wealthy ) adalah: orang kaya menggunakan utang (secara strategis) untuk mendapatkan aset (harta) yang bertumbuh, sementara orang yang hanya tampil kaya menggunakan utang (secara emosional) supaya terlihat kaya.
Pertanda III : Anda tidak mempunyai dana cadangan
Para Perencana Keuangan umumnya mengatakan bahwa Dana Cadangan ( Reserve Fund ) yang dibutuhkan adalah senilai 3 sampai 6 bulan dari pengeluaran rutin Anda. Angka ini diambil dari buku-buku teks perencanaan keuangan yang diterbitkan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat.
Tetapi, kita tahu bahwa kondisi di Indonesia dan di Amerika Serikat sangat jauh berbeda. Pada kondisi sekarang ini, jika seseorang terkena musibah PHK di Indonesia misalnya, kemungkinan terbesarnya adalah ia akan membutuhkan waktu 6 sampai 12 bulan sebelum mendapatkan pekerjaan yang setara.
Kita kesampingkan lebih dulu resiko PHK. Fungsi dana cadangan lainnya adalah sebagai Dana Darurat ( Emergency Fund ), untuk membiayai kejadian-kejadian darurat seperti kecelakaan yang dialami anggota keluarga yang lain.
Berapa besar Dana Darurat ( Emergency Fund ) yang dimiliki keluarga Anda? Katakanlah keluarga Anda membutuhkan biaya tak terduga ( emergencies ) senilai Rp.50 juta. Apakah Anda memiliki cukup dana (tabungan) untuk membiayai kondisi darurat itu tanpa harus berutang?
Menurut satu survei di AS ( Bank Rates 2026 Emergency Savings Report ), 53% keluarga di AS tidak memiliki dana tabungan untuk membiayai kondisi darurat senilai USD 1,000. Artinya, lebih dari separuh keluarga di AS sebenarnya berada sangat dekat dengan bencana keuangan ( financial disaster ).
Sebenarnya, hampir semua orang sudah tahu tentang pentingnya mempunyai tabungan berupa Dana Cadangan ( Reserve Fund ) atau Dana Darurat ( Emergency Fund ). Mereka mungkin sudah pernah mendengarnya puluhan kali. Tetapi, kebanyakan orang tetap membelanjakan uangnya sampai habis setiap bulan.
Pertanda IV : Anda hanya memamerkan kekayaan, bukan membangun kekayaan
Setiap hari kita diserbu berbagai macam tawaran berbelanja melalui berbagai media sosial. Tawaran berbelanja dikemas dengan cara yang sangat menarik, membuat siapa pun yang melihatnya pasti tertarik. Tawaran belanja melalui media sosial itu akan menyasar kebutuhan Anda akan status sosial yang tinggi, kebutuhan Anda akan barang-barang mewah, dan semua kebutuhan Anda akan identitas sebagai anggota dari kelompok elite dalam masyarakat.
Penjual akan mengemas barang dagangannya sedemikian rupa sehingga orang yang yang tidak membeli akan merasa ditinggalkan dan tidak merupakan bagian dari kelompok elite dalam masyarakat.
Jangan salahkan mereka yang menawarkan belanja barang-barang mewah itu kepadamu. Mereka hanya melakukan apa yang harus dilakukannya supaya barang dagangannya laku.
Anda harus mengetahui perbedaan antara dua hal ini: terlihat kaya ( looking wealthy ) dan menjadi kaya ( being wealthy ), karena kedua hal ini dibangun berdasarkan logika yang saling bertolak belakang.
Supaya kelihatan kaya ( looking wealthy ), Anda harus membelanjakan uang terus menerus, membeli barang-barang mewah keluaran terbaru, memamerkannya kepada orang lain; dan seringkali barang-barang itu tidak memiliki nilai investasi sama sekali.
Sebaliknya, untuk menjadi kaya ( to be wealthy ), Anda harus mengarahkan semua uang tadi ke dalam aset-aset yang bertumbuh ( growth assets ). Setiap Rupiah yang Anda pakai hanya untuk terlihat kaya ( looking wealthy ) adalah Rupiah yang tidak tersedia untuk membangun kekayaan ( building wealth ).
Pertanda V : Harta Anda tidak menghasilkan uang ketika Anda tidur
Orang yang hanya terlihat kaya, tetapi sesungguhnya miskin, menukarkan waktu miliknya dengan uang. Setiap Rupiah yang dihasilkannya diperoleh dengan menukarkan sejumlah tertentu waktu dalam hidupnya.
Sebaliknya, seseorang yang benar-banar kaya, tidak harus menukarkan waktu (usia) miliknya dengan uang setiap hari. Uang tetap mengalir ke rekening miliknya, tanpa harus ditukarkan dengan jam kerja aktif setiap hari. Ini yang kami sebut dengan pendapatan pasif ( passive income ).
Pendapatan pasif dapat berupa properti yang menghasilkan pendapatan sewa, saham-saham yang menghasilkan pembayaran deviden, atau bisnis lain yang bisa berjalan sendiri tanpa harus melibatkan campur tangan pemiliknya setiap hari.
Bahkan, memiliki ETF (Exchange Traded Fund) pasif yang hanya mengandalkan pertumbuhan indeks saham nasional bisa dianggap sebagai passive income (bandingkan misalnya dengan membeli beberapa saham individual yang setiap hari harus dipantau secara seksama).
Orang yang hanya terlihat kaya, tetapi sesungguhnya masih miskin, akan menukarkan waktu (umur) miliknya dengan uang gaji. Setiap Rupiah gaji yang diterimanya, harus ditukar dengan sekian hari atau bulan dari usianya. Sekali dia berhenti bekerja, maka pendapatannya (gaji) akan berhenti pula.
Jika penghasilanmu masih bergantung pada kehadiranmu secara fisik, maka sesungguhnya Anda belum memiliki kemerdekaan keuangan ( financial freedom ). Anda mungkin memiliki pekerjaan yang dibayar mahal (bergaji besar), tapi Anda tidak boleh keluar dari pekerjaan itu, atau uang gaji Anda akan lenyap.
Oleh: Fredy Sumendap, CFA
Sumber : idx.co.id