5 Langkah untuk Menurunkan Tingkat Stres Keuangan
Tuesday, March 03, 2026       17:13 WIB

Pernahkah Anda berpikir tentang hal apa yang paling membuat tertekan ( stress )? Kalau kita bertanya pada kaum muda yang tinggal di kota-kota besar di Indonesia saat ini, kita akan mendapatkan beragam jawaban.
(1) Tuntutan karir (atau mendapatkan pekerjaan yang cocok dengan latar belakan pendidikan), (2) masalah hubungan antar manusia (misalnya masalah hubungan antara atasan dan bawahan di kantor, atau (3) ancaman PHK akibat kondisi ekonomi yang buruk, tantangan dalam hubungan keluarga, atau (4) masalah gangguan kesehatan mungkin akan diajukan sebagai hal yang bisa membuat orang merasa paling stres.
Tetapi, secara umum, apa sesungguhnya hal yang paling sering menyebabkan stres pada diri kita? Menurut penelitian di AS (American Psychological Association's 2023:  Stress in America ), hal yang paling sering menimbulkan stres saat ini adalah  masalah keuangan .
Masalah keuangan mengganggu pikiran banyak orang, tidak hanya pada golongan muda saja (18-34 tahun), tetapi juga golongan yang lebih tua yang seharusnya sudah lebih mapan hidupnya (35-44 tahun).
Jika Anda juga merasa bahwa saat ini masalah-masalah tentang uang sering membuat stres, Anda tidak sendirian. Hal yang penting untuk diingat adalah bahwa selalu ada cara untuk keluar dari masalah stres tentang uang ini dan kembali memegang kendali atas kehidupan keuangan Anda.
I. Mengerti mengapa Anda terperangkap dalam masalah stres keuangan
Pertama-tama kita harus mengerti dahulu mengapa sampai terperangkap dalam masalah stres keuangan. Misalnya, Anda saat ini merasa stres karena mempunyai utang yang terlalu banyak (KPR, KKB, KK, dan lain-lain). Mengapa Anda sampai terperangkap ke dalam masalah ini?
Anda mengalami stres karena masalah uang, dan hal itu tidak terjadi dalam sekejap mata. Langkah pertama yang harus diambil untuk kembali memegang kontrol atas masalah keuangan Anda adalah dengan memahami asal-usul masalah (dan sadar bagaimana Anda sampai terperangkap ke dalamnya).
Masalah keuangan jarang sekali yang hanya bersumber dari besarnya jumlah uang itu sendiri. Masalah keuangan seringkali terkait dengan masalah kebutuhan ( needs ) emosi kita yang paling dalam (masalah keamanan, kesuksesan, dan kenyamanan finansial), dan ketakutan ( fears ) akan kegagalan, kemiskinan, dan kebutuhan yang tidak terpenuhi ( failure ,  poverty , dan  inadequacy ).
Jika kita telah memahami mengapa kita terperangkap ke dalam masalah keuangan, kita pun akan lebih mudah untuk meahami tentang sikap kita sehari-hari dan keputusan keuangan yang telah kita ambil.
Untuk mengetahui mengapa Anda terjebak ke dalam masalah stres keuangan, ada beberapa pertanyaan penting yang berhubungan dengan uang yang perlu Anda jawab, yaitu:
  • Bagaimana masalah uang dibicarakan dalam diskusi pertemuan keluarga?
  • Apakah Anda tumbuh dalam lingkungan yang berkecukupan, ataukah sebaliknya dalam lingkungan yang serba kekurangan?
  • Apakah orangtua Anda mengajarkan tentang hal-hal dasar mengenai pentingnya uang dalam hidup?
  • Apakah perilaku orangtua Anda tentang uang mempengaruhi tindakan Anda saat ini?

Dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, Anda mungkin dapat memahami mengapa Anda terperangkap dalam masalah utang KPR, KKB, atau KK seperti yang Anda hadapi saat ini.
II. Alihkan kerangka berpikir Anda agar fokus pada masa depan
Tidak mudah untuk merubah sudut pandang Anda atas masalah-masalah keuangan yang Anda hadapi saat ini. Tindakan Anda saat ini cerminan dari pendidikan dan pengalaman Anda sejak kecil. Anda mungkin dibesarkan dalam lingkungan yang serba terbatas secara keuangan.
Akibatnya, ketika Anda tumbuh besar, Anda ingin memberikan banyak hal kepada keluarga Anda (yang dulu tidak Anda peroleh ketika masih kecil). Akibatnya, Anda terjebak mengambil utang-utang kredit konsumsi yang berbunga tinggi (KK dan KKB), atau bahkan utang KPR yang berbunga rendah tapi sifatnya mengambang ( floating rate ).
Saya tidak berusaha untuk membuat bahwa kesulitan-kesulitan dalam mengatasi masalah keuangan Anda terlihat kecil. Untuk kembali memegang kendali atas masalah keuangan Anda, Anda perlu mengubah kerangka berpikir lebih dulu.
Mengubah kerangka berpikir, yang telah tertanam sejak kecil, adalah sangat mungkin. Dari pada berfokus pada kekurangan dan ketakutan, Anda harus berani menatap masa depan dan hasil-hasil positif yang Anda impikan.
Kembali ambil contoh kehidupan seseorang di masa kecil yang serba kekurangan. Ketika orang ini tumbuh dewasa, ia ingin dapat memberikan kehidupan yang lebih baik kepada keluarganya. Akibatnya, mungkin saat ini dia terjebak ke dalam perangkap berbagai utang kredit konsumsi yang berbunga tinggi (KK dan KKB).
Hal yang penting untuk diingat di sini adalah kesalahan di masa lalu adalah pengecualian, bukan tindakan yang boleh diulangi. Tindakan kita tetap harus terfokus pada memberikan hidup yang lebih baik untuk keluarga kita.
III. Solusi stres keuangan tidak sesederhana dengan memiliki uang lebih banyak
Jalur yang harus ditempuh untuk kembali memegang kontrol atas masalah keuangan Anda (dan mengurangi tingkat stres keuangan yang dihadapi) dapat dimulai dengan:
  • Menyusun sasaran keuangan yang lebih jelas dan realistis.
  • Memahami pola-pola perilaku yang dapat menghalangi stres keuangan
  • Mengambil langkah-langkah untuk mengamankan diri Anda pada masa sekarang dan di kemudian hari - secara keuangan dan secara emosional

Dengan melakukan hal ini, Anda akan merasa lebih kompeten, lebih percaya diri, dan tetap memegang kendali atas masalah-masalah keuangan yang Anda hadapi.
IV. Lima langkah untuk membantu Anda kembali memegang kendali kehidupan keuangan
Setelah Anda memahami masalah-masalah yang ada terkait uang, di mana Anda tumbuh besar dengan pengalaman dan pemahaman tentang uang tersebut, dan hal-hal yang memicu Anda terperangkap ke dalam masalah keuangan yang menimbulkan stres, maka sekarang adalah saat untuk membuat perencanaan keuangan ( financial planning ) untuk menata masa depan keuangan yang lebih baik.
1. Identifikasi dan tuliskan semua sasaran keuangan yang ingin Anda capai
Pikirkan sasaran-sasaran keuangan yang ingin Anda capai untuk satu tahun, tiga tahun, lima tahun, dan untuk jangka waktu yang lebih panjang lagi:
  • Anda ingin membeli rumah?
  • Anda ingin pindah kerja dan re-lokasi tempat tinggal?
  • Atau Anda ingin memulai usaha sebagai wiraswastawan?
  • Ataukah Anda ingin melangsungkan pernikahan yang berkesan seumur hidup?
  • Ataukan Anda hanya ingin untuk bisa pensiun dengan nyaman (tanpa khawatir kehabisan uang pada masa pensiun)?

Tuliskan semua sasaran keuangan yang ingin Anda capai, tuliskan mana yang paling penting bagi Anda, jangka waktu pencapaian sasaran, besarnya jumlah uang yang harus dimiliki, dan tingkat prioritas sasaran itu (" must-have " atau semata-mata " nice-to-have ").
2. Tinjau ulang sasaran-sasaran keuangan yang sudah Anda tulis
Sekarang Anda sudah tahu apa ( what ), kapan ( when ), dan di mana ( where ), yang ingin Anda capai di masa depan. Persoalannya sekarang terletak pada kemampuan keuangan Anda  saat ini  untuk mewujudkannya.
Hitunglah pengeluaran-pengeluaran Anda pada  saat ini  untuk mengetahui jika ada pengeluaran-pengeluaran yang dapat menyisakan cukup dana untuk ditabung demi mencapai sasaran-sasaran keuangan tadi.
Bagi Anda yang bekerja sebagai karyawan, ambil jumlah penghasilan bersih Anda setiap bulan, dan kurangkanlah semua pengeluaran wajib Anda ( non-discretionary expenses  atau  must have expenses ), seperti: biaya perumahan (biaya cicilan KPR atau biaya sewa rumah), biaya hidup sehari-hari, biaya transportasi (biaya kendaraan umum atau biaya angsuran mobil/ motor), biaya pemeliharaan kesehatan, dan biaya-biaya utilitas.
Kemudian, kurangkanlah semua pengeluaran-pengeluaran tidak wajib ( discretionary expenses  atau  nice-to-have expenses ), seperti: biaya perjalanan ( travelling ) dan hiburan ( entertainment ). Apakah masih tersisa dana untuk ditabung untuk memenuhi sasaran-sasaran yang ingin dicapai?
Sampai di sini mulai terlihat bahwa kita memiliki lebih banyak keinginan dibandingkan kemampuan untuk mewujudkannya.  Stres  keuangan bermula dari kesalahan perhitungan antara sasaran keuangan (keinginan yang ingin dicapai) dan kemampuan keuangan yang dimiliki untuk mewujudkannya.
Stres keuangan berikutnya berasal dari kenyataan bahwa pengeluaran-pengeluaran kita tidak statis, tetapi cenderung naik setiap tahun. Sementara itu pendapatan kita (gaji) pada umumnya sama jumlahnya dengan jumlah yang kita peroleh tahun lalu.
Jika pendapatan Anda tidak bisa menutupi semua pengeluaran wajib dan pengeluaran tidak wajib yang ada ( non-discretionary expenses  dan  discretionary expenses ), Anda harus membuat pilihan ( trade-off ).
Pengeluaran tidak wajib adalah pengeluaran yang dapat Anda lupakan  untuk sementara , sambil menunggu kondisi keuangan (pendapatan) Anda membaik.
Untuk jumlah tertentu, pengeluaran wajib per bulan seperti biaya cicilan utang KPR atau KKB bisa diperkecil dengan memperpanjang jangka waktu pembayaran. Tetapi, cara ini hanya meringankan biaya cicilan per bulan, sementara jumlah utang tetap sama besar.
Jika pendapatan (gaji) Anda sudah lebih besar daripada semua pengeluaran wajib ( non-discretionary expenses ) dan pengeluaran tidak wajib ( discretionary expenses ) maka jumlah yang tersisa harus diarahkan untuk tabungan ( savings ).
Tetapi, pada kenyataannya, jarang sekali terjadi pendapatan (gaji) lebih besar daripada semua pengeluaran wajib dan pengeluaran tidak wajib. Hal ini disebabkan oleh sifat manusia itu sendiri sehingga pengeluaran tidak wajib menjadi semakin banyak ketika pendapatan (gaji) naik.
Kesalahan lainnya adalah menggolongkan suatu pengeluaran sebagai pengeluaran wajib ( must have ), ataukah pengeluaran tidak wajib ( nice-to-have ), ketika pendapatan (gaji) kita naik sehingga menjadi lebih besar daripada semua pengeluaran yang ada.
Ambil contoh, biaya pendidikan anak di sekolah menengah. Ketika pendapatan (gaji) masih terbatas, maka menyekolahkan anak dirasakan cukup di sekolah negeri yang bereputasi baik saja. Tetapi, sejalan dengan naiknya pendapatan (gaji), maka menyekolahkan anak sering dianggap harus di sekolah internasional (yang biayanya puluhan juta per bulan).
Uang sekolah anak adalah biaya wajib ( non-discretionary expenses ), tetapi mengeluarkan biaya ekstra besar untuk bersekolah di  International School  adalah pengeluaran untuk biaya tidak wajib ( discretionary expenses ).
Kesalahan dalam menggolongkan biaya wajib dan biaya tidak wajib ini merupakan salah satu sumber stres keuangan juga.
3. Prioritaskan untuk menabung (investasi)
Katakanlah bahwa sekarang Anda telah memiliki pendapatan (gaji) yang lebih besar dari semua pengeluaran wajib dan pengeluaran tidak wajib yang ada. Sisa kelebihan pendapatan (gaji) di atas pengeluaran harus Anda simpan (tabung).
Pertama-tama, masukkan kelebihan pendapatan itu ke dalam rekening Dana Cadangan ( Reserve Fund ) atau rekening Dana Darurat ( Emergency Fund ). Tujuannya adalah untuk berjaga-jaga jika terjadi kecelakaan atau hal-hal tak terduga lainnya.
Besarnya Dana Cadangan ( Reserve Fund ) ini minimum adalah secesar 6 bulan pengeluaran rutin, dan sebaiknya sebesar 9 sd 12 bulan pengeluaran rutin. Keluarga yang tidak memiliki Dana Cadangan ( Reserve Fund ) seringkali terjebak ke dalam pinjaman berbunga tinggi, ketika terjadi hal-hal yang tidak terduga.
Tidak memiliki Dana Cadangan ( Reserve Fund ) dalam jumlah memadai sering menjadi sumber stres keuangan.
4. Lakukan menabung (investasi) secara otomatis
Jika Anda telah menghitung dengan cermat bahwa pendapatan (gaji) Anda tiap bulan sudah lebih besar daripada semua pengeluaran wajib ( must have ) dan semua pengeluaran tidak wajib ( nice-to-have ), maka sebelum Anda tergoda untuk membelenjakan sisa pendapatan tersebut, Anda dapat menjadikan kegiatan menabung sebagai salah satu pengeluaran wajib yang memiliki proritas tertinggi. Cara yang paling mudah adalah dengan memotong jumlah yang akan Anda tabung pertama kali ketika Anda menerima gaji.
Jika Anda telah mencapai jumlah Dana Cadangan (Reserve Fund) sebesar 9 sd 12 bulan pengeluaran rutin, maka kelebihan pendapatan (gaji) jangan Anda simpan dalam rekening tabungan atau deposito lagi. Kelebihan pendapatan itu harus Anda investasikan supaya memberikan imbal hasil yang lebih besar daripada bunga deposito di bank.
Untuk pemodal pemula, kami anjurkan untuk investasi pada surat-surat berharga ( financial assets ) atau investasi pada aset tak berwujud ( intangible assets ). Investasi pada aset tak berwujud mudah dilakukan, dan dapat dimulai dari jumlah yang kecil sesuai kemampuan kita.
Investasi dalam aset tak berwujud itu misalnya dengan membeli reksadana biasa (reksadana ekuitas, reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, reksadana pasar uang), maupun reksadana bursa (ETF atau  Exchange Traded Fund ).
5. Terus belajar
Ketika seseorang melangkah dari penabung ( saver ) yang memperoleh imbal hasil ( return ) tertentu yang terjamin setiap bulan, menjadi pemodal ( investor ) yang memperoleh imbal hasil ( return ) tidak tertentu setiap bulan, maka pemodal tersebut harus terus menerus meningkatkan kemampuan investasinya sehingga dapat memperoleh imbal hasil yang lebih besar dan terhindar dari penipuan investasi ( scam ).
Hal yang pertama harus diingat adalah bahwa setiap investasi tidak boleh menjanjikan suatu tingkat imbal hasil ( return ) tertentu. Semua investasi yang menjanjikan tingkat imbal hasil ( return ) tertentu adalah investasi palsu ( scam ).
Anda dapat mulai belajar konsep-konsep dasar investasi untuk aset finansial (pengertian obligasi, saham, reksadana, dan diversifikasi). Selajutnya Anda juga perlu belajar investasi pada aset berwujud (emas dan properti) karena pada akhirnya semua aset Anda harus terdiversifikasi ke dalam aset finansial ( intangible assets ) dam aset fisik ( tangible assets ).
 Oleh : Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS