5 Langkah untuk Membantu Anda Memegang Kendali Kehidupan Keuangan
Friday, August 01, 2025       19:04 WIB

Hal apakah yang paling menyita waktu dan pikiranmu akhir-akhir ini? Bergantung pada situasi dan usia setiap orang, mungkin Anda akan mengatakan masalah pekerjaan di kantor (karir), masalah hubungan dengan keluarga, atau masalah kesehatan adalah masalah Anda yang paling berat saat ini.
Tetapi, menurut survey Asosiasi Psikolog Amerika Serikat pada tahun 2023, masalah terberat yang dihadapi oleh penduduk AS pada dua golongan usia ini (18 thn sd 34 thn, dan usia 35 thn sd 44 thn), adalah  masalah keuangan . Menurut Asosiasi Psikolog AS, masalah keuangan sangat menyita pikiran dua dari tiga orang penduduk pada usia yang paling produktif tersebut.
Lalu, apa yang dapat kita lakukan untuk dapat tetap memegang kendali atas masalah keuangan kita? Solusi yang ditawarkan oleh Asosiasi Psikolog AS adalah mengubah pola pikir kita untuk lebih  berfokus pada masa depan . Tetapi, asosiasi juga mengingatkan bahwa masalah persoalan keuangan yang ada tidak dapat diselesaikan hanya dengan memiliki lebih banyak uang saja. Menurut mereka, jalan untuk mencapai kehidupan keuangan yang lebih terkontrol dapat dimulai dari:
(a) Berpikir jernih dan realitis terhadap sasaran-sasaran keuangan yang ingin dicapai,
(b) Memahami pola-pola perilaku yang dapat menghalangi pencapaian sasaran keuangan tersebut,
(c) Mengambil langkah-langkah yang perlu untuk merancang masa depan, baik secara emosi, fisik, mau pun keuangan.
Di bawah ini, kami sajikan lima langkah yang dapat Anda tempuh untuk kembali memegang kendali atas masalah kehidupan keuangan Anda:
1. Identifikasi dan tuliskan sasaran-sasaran keuangan yang ingin Anda capai
Identifikasi apa sasaran keuangan yang ingin Anda capai dalam satu tahun, lima tahun, dan dalam jangka waktu yang lebih panjang lagi. Menuliskan sasaran keuangan yang Anda buat akan membuat Anda lebih fokus terhadap sasaran tersebut. Jangan lupa menuliskan pula, untuk setiap sasaran yang Anda buat, taksiran jumlah uang yang menjadi target Anda, dan target jangka waktu pencapaian.
Misalkan Anda baru lulus kuliah dan saat ini berusia 25 tahun, target keuangan yang ingin Anda capai adalah mengumpulkan biaya untuk pesta pernikahan sebesar Rp150 juta dalam lima tahun ke depan. Atau, Anda mungkin telah berusia 40 tahun, Anda telah melunasi KPR (Kredit Perumahan Rakyat) Anda, dan target keuangan yang ingin Anda capai kemudian adalah mengumpulkan Dana Pensiun sebesar Rp1 miliar dalam waktu 20 tahun ke depan.
Dengan mengidentifikasi target (sasaran) keuangan yang ingin Anda capai dan menuliskan sasaran-sasaran tersebut, Anda dapat mengambil langkah-langkah yang perlu untuk mencapai sasaran itu, serta mengukur kemajuan yang Anda capai dari waktu ke waktu. Anda juga akan dapat mengetahui apabila Anda sudah ada dalam jalur yang benar atau belum, dan dapat memperbaharui tindakan-tindakan untuk mencapai sasaran-sasaran yang ada.
2. Pelajari sasaran keuangan Anda: tetapkan target lebih tinggi dari yang ingin Anda capai
Setelah Anda mengidentifikasi sasaran keuangan yang ada, menentukan taksiran Anda atas jumlah Rupiah yang harus terkumpul, dan target jangka waktu pencapaian sasaran keuangan tersebut, Anda sekarang dapat menyusun langkah-langkah untuk mencapai sasaran keuangan itu. Kita ambil contoh seorang pemuda berusia 23 tahun, baru lulus kuliah 2 tahun lalu, dan memiliki sedikit tabungan hasil bekerja dalam dua tahun ini. Pemuda ini memiliki target keuangan yang cukup ambisius, yaitu mengumpulkan uang untuk membiayai pesta pernikahannya sebesar Rp150 juta dalam waktu lima tahun.
Mungkin Anda akan berkata bahwa target keuangan itu terlalu ambisius. Bukankah pemuda itu masih harus membeli rumah juga? Saya juga dapat berargumen bahwa 5 tahun lagi, pemuda itu sudah berusia 30 tahun, dan dia harus menikah pada usia tersebut. Target keuangan itu memang sangat ambisius, tak apa.
Seorang pemuda harus dipacu dengan target yang ambisius supaya semua kemampuannya keluar. Dengan adanya target yang hampir mustahil dapat dicapai itu, pemuda itu akan lebih rajin bekerja, rajin meningkatkan keahliannya di tempat kerja, tidak pernah menolak perintah-perintah yang sulit dari atasan, dan selalu berusaha untuk mendapatkan penghasilan lebih untuk dibawa pulang.
NB: Sebenarnya, contoh pemuda yang saya sebut di atas adalah gambaran diri saya dulu. Saya lulus kuliah pada usia 23 tahun, dan pada usia 29 tahun jabatan saya adalah seorang manajer umum ( general manager ) di sebuah perusahaan keuangan yang besar. Pada usia 30 tahun saya sudah mampu membiayai pesta pernikahan saya yang cukup mewah di sebuah hotel berbintang. Sebelum itu saya juga telah mampu membeli rumah (lunas) dengan uang sendiri.
3. Mulai melunasi utang-utang dan menyiapkan dana darurat
Berutang seringkali tidak dapat kita hindari. Misalnya, pada tahun-tahun pertama bekerja, kita hanya dapat membeli rumah dengan cara mengambil kredit KPR di bank. Demikian pula, jika kita ingin membeli mobil baru untuk transportasi pergi pulang kantor. Tetapi, tidak memiliki utang akan membuat Anda memegang kendali atas masa depan keuangan Anda sendiri. Sebaliknya, banyak utang membuat Anda kehilangan kebebasan finansial.
Saran saya, segera setelah Anda memiliki lebih banyak uang daripada yang dibutuhkan untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan yang bersifat wajib ( essential or needs ), maka bandingkan dengan uang yang Anda gunakan untuk memanjakan diri Anda dengan membeli barang-barang yang tidak wajib Anda beli ( discretionary or wants ), mulailah melunasi utang-utang yang ada lebih dahulu.
Jika Anda belum menyiapkan Dana Darurat (Emegency Fund), sekarang juga merupakan saat yang tepat untuk itu. Saat gaji Anda sudah berada cukup jauh lebih besar daripada kebutuhan-kebutuhan wajib ( essential ), saat itulah Anda harus mulai memikirkan hal-hal yang sebelumnya masih bersifat kemungkinan saja. Bagaimana jika Anda atau keluarga dekat Anda sakit? Bagaimana jika kendaraan Anda mogok atau mengalami tabrakan? Bagaimana jika Perusahaan tempat Anda bekerja bangkrut dan Anda mengalami PHK?
4. Jadikan pembayaran biaya-biaya wajib sebagai sesuatu yang berjalan otomatis
Menjadikan pembayaran biaya-biaya yang wajib Anda keluarkan sebagai sesuatu yang berjalan secara otomatis merupakan cara yang baik untuk menghindari stress dan tetap memegang kendali atas kehidupan keuangan Anda. Pengeluaran-pengeluaran wajib ( essential or needs ) merupakan kebutuhan yang mau tidak mau harus Anda keluarkan. Jadi, Anda tidak perlu membuang banyak waktu untuk mempertimbangkannya.
Pada urutan pertama prioritas pengeluaran wajib yang harus Anda lakukan adalah menyimpan uang tabungan setiap bulan. Jadikan "pembayaran biaya tabungan" sebagai  top priority  ( pay yourself first ). Urutan prioritas berikutnya adalah biaya perumahan, biaya transportasi, biaya makan, dan biaya kebutuhan hidup wajib lainnya. Jika Anda sudah mempunyai perencanaan keuangan yang baik, Anda tentunya sudah menyiapkan dana untuk pembiayaan pos-pos pengeluaran itu.
Setelah pos pembiayaan kebutuhan simpanan (tabungan) setiap bulan (masuk ke dalam rekening investasi atau TDPP =Tabungan Dana Pensiun Pribadi) terpenuhi, dan pos-pos pengeluaran wajib telah dialokasikan dengan baik, barulah sisa gaji dapat Anda pakai untuk membeli barang-barang yang tidak wajib dibeli ( discretionary atau wants ).
5. Jadikan edukasi keuangan ( Financial Literacy ) sebagai suatu keharusan
Langkah terakhir yang kami sarankan untuk membantu memegang kendali atas kehidupan keuangan Adna adalah tetap belajar tentang masalah keuangan. Artinya, tetap menjadikan edukasi keuangan ( financial literacy ) sebagai suatu keharusan, apa pun latar belakang pendidikan Anda.
Edukasi Keuangan membuat kita paham atas berbagai kejadian ekonomi sehari-hari (inflasi, suku bunga, pergerakan indeks harga saham, dan sebagainya), memahami untung rugi berinvestasi pada berbagai produk investasi dan asuransi (deposito, obligasi, ekuitas, reksadana,  unit-linked ), dan tentu saja membantu kita mengetahui tentang perencanaan keuangan ( financial planning ).
Dengan memiliki edukasi keuangan ( financial literacy ) yang cukup, kita tidak akan mudah tertipu oleh berbagai tawaran investasi yang diajukan orang. Artinya, untuk setiap rupiah uang yang kita miliki sudah seharusnya kitalah yang memegang kendali akan dikemanakan uang itu akan diinvestasikan. Jika Anda sudah memegang kendali atas kehidupan keuangan Anda, maka Anda tidak akan terlalu  stress  memikirkan hal-hal seputar eknomi yang terjadi setiap hari.
 Oleh : Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS

berita terbaru