5 Kesalahan Pengelolaan Keuangan yang Harus Dihindari
Tuesday, August 05, 2025       16:15 WIB

Topik perencanaan keuangan kita kali ini adalah  kesalahan dalam pengelolaan keuangan yang sering terjadi . Kesalahan yang pertama adalah tidak memiliki perencanaan keuangan. Ini kesalahan yang sangat sering terjadi. Segala sesuatu dibiarkan terjadi begitu saja tanpa perencanaan yang matang. Padahal, kalau kita memiliki perencanaan keuangan yang matang, masa depan tidak akan datang secara acak yang seringkali dapat membuat hidup kita berantakan.
Kesalahan kedua adalah tidak mempunyai Dana Darurat ( Emergency Fund ). Dana Darurat ini diperlukan untuk menutupi biaya-biaya tak terduga yang  jumlahnya tidak terlalu besar . Kejadian tak terduga yang membutuhkan biaya sangat besar, seperti perawatan rawat inap di rumah sakit, atau kasus hilangnya mobil, mungkin sudah kita antisipasi dengan membeli polis asuransi yang sesuai.
Tetapi, untuk kasus-kasus yang 'lebih kecil' seperti biaya perbaikan rumah akibat banjir yang tidak di- cover  asuransi, atau PHK akibat perampingan karyawan di tempat kerja, harus di- cover  dengan Dana Darurat (Emergency Fund).
Kesalahan keuangan yang ketiga yang akan kami bahas di sini adalah menunggu terlalu lama untuk mulai menabung dan berinvestasi. Ini kesalahan yang sangat umum dilakukan karena belum memahami pentingnya pentingnya menabung dan berinvestasi.
Kita mungkin sudah merasa cukup dengan memiliki sedikit uang tabungan yang disisihkan dari gaji. Tetapi, kita belum menjadikan menabung (dan kemudian berinvestasi) sebagai suatu kebiasaan yang baik dan selalu menabung suatu jumlah yang konstan setiap bulan sesuai dengan rencana.
Kesalahan keempat dalam pengelolaan uang yang akan kita bahas di sini adalah tidak melakukan diversifikasi atas portofolio investasi yang kita miliki, atau melakukan diversifikasi yang sangat terbatas.
Misalnya, seseorang berinvestasi hanya pada satu jenis reksadana saja, katakanlah hanya pada reksadana ekuitas saja. Pada waktu terjadi perlambatan pada pertumbuhan ekonomi, reksadana ekuitas secara umum akan mengalami pertumbuhan NAV (Nilai Aktiva Bersih) yang rendah atau bahkan negatif.
Kesalahan yang ke-lima atau terakhir yang akan kita bahas di sini adalah tidak memiliki rencana pengeluaran atas nilai kekayaan yang sudah terkumpul. Untuk orang yang menabung atau berinvestasi Dana Pensiun, tentulah pada suatu saat nanti akan mengambil Dana Pensiun itu.
Dana Pensiun yang ada akan ditarik setiap bulan ibaratnya sama seperti gaji yang diterima ketika masih aktif bekerja. Tetapi, investasi Dana Pensiun sebagian besar tidak berbentuk tunai. Untuk orang yang sudah mendekati usia pensiun, tidak memiliki rencana untuk penarikan Dana Pensiun, akan mengacaukan rencana pensiun yang sudah ada.
1. Tidak memiliki Perencanaan Keuangan ( Financial Planning )
Rencana Keuangan ( Financial Plan ) wajib dimiliki oleh setiap orang yang memiliki sasaran keuangan yang ingin dicapainya di masa depan. Rencana Keuangan ( Financial Plan ) ibaratnya adalah peta jalan yang akan menuntun kita supaya tiba di tujuan sesuai rencana. Ketika kita baru lulus kuliah, mungkin kita belum memikirkan sasaran keuangan yang terlalu jauh, seperti mengumpulkan Dana Pensiun.
Tetapi, kita pasti mempunyai sasaran keuangan yang ingin dicapai dalam jangka waktu lebih pendek. Misalnya, kita mungkin berpikir untuk memiliki mobil dalam waktu tiga tahun sejak mulai bekerja dan menerima gaji tetap. Atau, kita mungkin memiliki rencana untuk mengumpulkan uang muka untuk membeli rumah dalam waktu lima tahun ke depan.
Tanpa memiliki Perencanaan Keuangan ( Financial Planning ), kita tidak tahu apa sasaran keuangan yang ingin kita capai di masa depan. Kita juga tidak bisa mengukur kemajuan ( progress ) keuangan yang telah kita capai.
2. Tidak memiliki Dana Darurat ( Emergency Fund )
Kesalahan berikutnya adalah tidak memiliki Dana Darurat ( Emergency Fund ). Pada waktu Anda baru lulus kuliah, dan mulai menerima gaji tetap setiap bulan, yang harus ada lebih dahulu sebelum berfokus pada sasaran keuangan yang lain adalah memiliki Dana Cadangan ( Emergency Fund ). Jika Anda cukup beruntung untuk bekerja pada perusahaan yang menyediakan jaminan kesehatan untuk karyawan-karyawannya, maka setidaknya kebutuhan Anda akan Dana Cadangan telah berkurang.
Tetapi, Anda tetap membutuhkan Dana Cadangan untuk menutupi biaya-biaya lain yang tidak terduga. Misalnya, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena adanya perampingan organisasi atau bahkan karena Perusahaan tempat bekerja mengalami pailit.
3. Menunggu terlalu lama untuk mulai Menabung dan Berinvestasi
Kesalahan keuangan yang ketiga yang seringkali dilakukan adalah menunggu terlalu lama untuk mulai menabung dan berinvestasi. Kadang-kadang orang sudah merasa cukup jika telah memiliki Dana Darurat ( Emergency Fund ) sebesar 6 X dari biaya hidup sebulan.
Padahal, setelah mencapai sasaran keuangan jangka pendek seperti memiliki Dana Darurat ( Emergency Fund ), kita masih memiliki sasaran keuangan lain yang harus kita capai. Misalnya, sasaran keuangan jangka menengah untuk memiliki mobil sendiri dalam tiga tahun, atau mengumpulkan uang muka pembelian rumah (sebesar 30% dari harga rumah) dalam lima tahun ke depan.
Biasanya, ada banyak sasaran keuangan yang harus dicapai dalam jangka menengah ini. Karena ada tarik menarik dari berbagai sasaran keuangan yang ingin kita capai, kita seringkali mengabaikan sasaran keuangan yang lebih panjang pencapaiannya.
Misalnya, ketika kita harus mencapai sasaran (1) membeli mobil dalam tiga tahun, (2) mengumpulkan biaya untuk pesta pernikahan dalam tiga tahun, dan (3) mengumpulkan uang muka pembelian rumah sebesar 30% dari harga rumah dalam lima tahun, dan (4) menabung Dana Pensiun dalam tiga puluh tahun ke depan. Jelas di sini bahwa hampir semua orang akan mengabaikan sasaran keuangan nomor (4) ini.
4. Tidak melakukan Diversifikasi Portofolio Investasi
Kesalahan pengelolaan keuangan yang keempat yang akan kami bahas di sini adalah tidak melakukan diversifikasi atas portofolio yang ada. Anda mungkin hanya memiliki dana investasi yang terbatas, tetapi Anda tidak dapat menggunakan dana yang terbatas sebagai alasan untuk tidak melakukan diversifikasi.
Jika dana untuk investasi terbatas, Anda dapat berinvestasi melalui instrumen reksadana, terutama untuk investasi dalam obligasi yang sangat mahal harganya jika harus dibeli secara langsung. Hal yang lebih mungkin terjadi adalah Anda tidak melakukan diversifikasi karena adanya bias-bias kognitif dalam pemilihan instrumen investasi yang ada.
Misalnya, jika Anda dahulu pernah untung besar dari suatu jenis saham, Anda lalu cenderung berpikir bahwa investasi dalam saham tersebut akan kembali memberi Anda keuntungan besar.
5. Tidak memiliki Rencana Pengeluaran ( Spending Plan )
Kesalahan dalam pengelolaan keuangan yang terakhir akan kami bahas adalah kesalahan karena tidak memiliki rencana pengeluaran ( spending plan ). Kesalahan ini berkaitan dengan pengelolaan Dana Pensiun yang kita miliki. Suatu saat nanti, ketika pensiun, kita akan mengambil Dana Pensiun milik kita untuk dipergunakan sebagaimana waktu kita masih bekerja dulu.
Ingatlah bahwa Dana Pensiun kita ada dalam bentuk bermacam-macam investasi, baik berupa investasi portofolio, maupun investasi dalam bentuk aset-aset riil seperti emas batangan dan properti (tanah dan bangunan). Sementara itu, penarikan dana yang kita lakukan tiap bulan adalah tunai.
Rencana pengeluaran juga harus memperhitungkan besarnya Dana Pensiun yang boleh kita tarik, tanpa mengakibatkan Dana Pensiun itu habis sebelum hidup kita berakhir. Idealnya, Dana Pensiun kita habis pada waktu bersamaan dengan kita meninggal. Tapi kejadian itu, kalau benar terjadi, tentu hanya kebetulan saja.
Jadi, di sini kita harus mengatur investasi mana saja yang akan ditarik lebih dahulu dan berapa banyak dari investasi itu yang kita tarik. Investasi berupa aset-aset tak berbentuk ( intangible assets ) mudah untuk dipecah-pecah menjadi jumlah yang kecil dan dijual untuk mendapatkan tunai tanpa banyak kesulitan atau pun biaya.
Tetapi, investasi berupa tanah dan bangunan tentu tidak mudah untuk dijadikan tunai. Di samping ada berbagai biaya seperti biaya pajak, dan biaya pengalihan hak atas tanah dan bangunan, masih ada pula biaya komisi untuk agen properti yang membantu menjualkan properti milik kita.
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS