5 Kesalahan Keuangan Terbesar (Membuat Orang Tetap Miskin Walau pun Berpenghasilan Besar)
Thursday, April 16, 2026       14:50 WIB

Pada artikel perencanaan keuangan sebelumnya yang berjudul  '5 Kebiasaan Buruk Dalam Mengelola Keuangan (Yang Menghambat Anda Dalam Mencapai Kebebasan Keuangan) ' kita telah membahas lima  kebiasaan buruk  dalam mengelola keuangan yang menghambat seseorang mencapai kebebasan keuangannya.
Dalam artikel kali ini, kita akan membahas lima  kesalahan  terbesar yang sering dilakukan yang membuat orang tetap miskin walau pun penghasilannya cukup besar.
 Kebiasaan  buruk dalam mengelola keuangan adalah kesalahan kecil yang diulang-ulang, sehingga tidak terasa lagi sebagai kesalahan yang harus diperbaiki. Tetapi, dalam waktu yang lama, kesalahan-kesalahan kecil ini akan menghambat pencapaian sasaran keuangan yang dituju.
Sebaliknya,  kesalahan  keuangan tidak harus selalu berupa hal-hal kecil yang diulang-ulang, tetapi kesalahan-kesalahan keuangan yang terus dilakukan dapat membuat orang tetap hidup dalam kemiskinan walau pun penghasilannya cukup besar.
Keadaan hidup miskin seringkali dikaitkan dengan penghasilan (gaji) yang kecil, atau kehidupan yang ditimpa kemalangan seperti mengalami kecelakaan, atau ditipu orang (misalnya, memberi hutang uang kepada teman dekat dan tidak dibayar kembali).
Dalam artikel kali ini kami akan menjukkan lima kesalahan keuangan ( financial mistakes ) terbesar yang dapat membuat diri Anda tetap miskin, walau pun Anda mungkin telah memiliki penghasilan (gaji) yang besar.
1. Membelanjakan uang (gaji) sebelum menerima uang (gaji) tersebut
Kesalahan terbesar pertama adalah membelanjakan uang atau gaji sebelum uang gaji tersebut masuk ke dalam rekening. Sebagai karyawan, kita menerima gaji secara bulanan. Mungkin ada yang berpendapat bahwa, walau pun belum dibayarkan, gaji sudah kita peroleh ( earned ) sebesar persentase jumlah hari dalam bulan berjalan (prinsip akrual dalam akuntansi) yang telah lewat, sehingga dia merasa berhak membelanjakan uang tersebut.
Dari sudut pandang perencana keuangan, ini adalah cara berpikir yang salah karena uang gaji yang kita terima pada akhir bulan harus cukup untuk dipakai sampai satu bulan sesudahnya. Jika uang gaji itu sudah diambil sebelum gaji itu dibayarkan, berarti bahwa pada saat gaji dibayarkan maka gaji itu telah berkurang jumlahnya, tetapi uang dari gaji itu tetap harus cukup untuk dipakai dalam satu bulan penuh.
2. Membelanjakan uang berdasarkan keinginan ( wants ), bukan kebutuhan ( needs )
Kesalahan keuangan terbesar ke dua yang sering dilakukan orang, yang membuatnya tetap miskin, adalah membelanjakan uang berdasarkan keinginan ( wants ), bukan kebutuhan ( needs ). Keinginan ( wants ) manusia tidak ada ujungnya, tetapi, kebutuhan ( needs ) manusia ada batasnya. Setiap kali satu keinginan ( wants ) telah terpenuhi, akan muncul keinginan ( wants ) lain yang lebih besar.
Sebagai contoh, kita semua membutuhkan rumah untuk tinggal, atau kendaraan sebagai alat transportasi. Tetapi, setelah memiliki rumah untuk tinggal, kita ingin rumah yang lebih besar dan lebih luas. Atau, kita membutuhkan kendaraan untuk berangkat pergi dan pulang kantor. Tetapi, setelah memiliki motor, kita mulai berpikir untuk memiliki mobil dan seterusnya.
Keinginan ( wants ) kita sering bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memenuhi keinginan tersebut. Akhirnya, kita sering terjebak ke dalam tindakan berutang untuk memenuhi keinginan kita. Berutang, jika tidak dilakukan dengan hati-hati, hanya akan membuat hidup kita tetap miskin.
Kita mungkin masih mampu membayar cicilan utang tersebut setiap bulan, tetapi kita tetap hidup miskin karena masih berutang. Mungkin Anda mampu membayar barang yang Anda beli tersebut dengan cara mencicil. Tetapi, membeli secara cicilan berarti Anda membeli dengan harga yang lebih mahal karena bunga ( interest ) yang dibebankan oleh penjual atau bank yang membiayai.
Saran kami adalah, jika Anda tidak dapat melunasi utang tersebut dalam 2 atau 3 kali cicilan, maka sebenarnya Anda belum mampu untuk membelinya. Jangan menyamarkan antara kemampuan membayar cicilan ( ability to pay ) dengan kemampuan membeli ( affordability ).
3. Tidak berusaha mengetahui ke mana uang gaji setiap bulan dihabiskan
Mengetahui ke mana uang gaji kita pergi setiap bulan adalah salah satu bentuk kontrol yang dapat kita lakukan untuk menghindari kemiskinan. Bayak orang yang memiliki penghasilan cukup besar, tetapi karena tidak mengetahui ke mana uang gajinya dihabiskan setiap bulan, akhirnya tetap hidup miskin dari gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya.
Salah satu cara untuk mengetahui ke mana uang gaji kita dibelanjakan adalah dengan melacak semua pengeluaran kita dari tagihan kartu kredit (KK) bank. Dari situ, kita dapat mengetahui mana pengeluaran yang penting ( non-discretionary ) dan mana pengeluaran yang tidak penting ( discretionary ).
Pengeluaran yang tidak penting ( discretionary expenses ) kemudian dapat kita alihkan untuk mencapai sasaran-sasaran keuangan ( financial goals ) yang akan membuat hidup kita terbebas dari kemiskinan.
4. Tidak menyimpan uang untuk kebutuhan darurat
Kesalahan keuangan terbesar berikutnya, yang seringkali membuat orang tetap hidup miskin, adalah tidak menyiapkan Dana Cadangan ( Reserve Fund ) untuk berjaga-jaga jika terjadi keadaan darurat ( emergency ). Anda mungkin merasa bahwa hidup Anda sudah berjalan dengan baik karena semua kebutuhan telah terpenuhi.
Tetapi, keadaan yang tidak terduga dapat terjadi setiap saat. Keluarga Anda dapat jatuh sakit dan harus dilarikan ke Rumah Sakit, mobil Anda dapat mengalami tabrakan sehingga masuk bengkel untuk beberapa hari, atau bahkan Anda sendiri dapat mengalami PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).
Tidak menyimpan Dana Cadangan ( Reserve Fund ) seringkali tidak dianggap sebagai suatu kesalahan, sampai ketika terjadi keadaan tak terduga ( emergency ) dan kita tidak memiliki tabungan Dana Cadangan ( Reserve Fund ) yang cukup.
Tidak memiliki Dana Cadangan ( Reserve Fund ) yang memadai adalah bagaikan setiap saat berada di tepi jurang. Setiap kali terjadi keadaan yang buruk secara keuangan, kita akan terjerambab ke dalam situasi berutang. Berutang pada situasi darurat adalah berutang karena terpaksa, dan kita harus membayar beban biaya bunga yang besar. Misalnya, berutang lewat kartu kredit (KK).
5. Memberi hutang kepada orang yang salah
Kesalahan keuangan terbesar terakhir yang akan kami bahas di sini adalah kesalahan karena memberi utang kepada orang yang salah. Kesalahan ini akan membuatmu hidup miskin karena dua hal ini. Pertama, memberi utang kepada orang yang salah akan membuatmu kehilangan uang. Kedua, memberi utang kepada orang yang salah akan membuatmu kehilangan teman (berupa  partner  bisnis atau hanya rekan kerja saja).
Memberi utang (dan juga sebaliknya, berutang uang kepada orang lain) adalah tindakan yang berbahaya. Kita bukanlah bank atau perusahaan pembiayaan yang khusus berbisnis dengan cara meminjamkan uang. Jika seseorang datang kepadamu untuk meminjam uang, pastikan dulu bahwa orang itu sudah mencoba untuk meminjam uang ke bank.
Saat ini meminjam lewat kartu kredit dapat dengan sangat mudah dan cepat dilakukan, dengan bunga yang sangat masuk di akal untuk situasi yang ada. Pertanyaannya, mengapa ia tidak tidak berusaha meminjam dari bank saja? Apakah ia hanya ingin meminjam uang kepada kita karena gratis?
Jika orang itu sudah lebih dahulu mencoba untuk meminjam uang lewat bank dan ditolak, tanyakan lagi kepadanya mengapa bank tidak mau meminjamkannya uang ? Jawaban atas pertanyaan ini akan membuka sisi kelam tentang orang yang hendak meminjam uang tersebut yang seringkali tidak Anda sadari.
Kesalahan karena meminjamkan uang kepada orang yang salah adalah kesalahan besar yang akan membuatmu Anda tetap hidup miskin (tidak dapat mencapai sasaran keuangan yang diinginkan), meskipun penghasilan (gaji) Anda cukup besar.
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS