-
5 Kebiasaan Buruk dalam Mengelola Keuangan (yang Menghambat Pencapaian Kebebasan Finansial)
Tuesday, April 14, 2026 14:57 WIB
Para perencana keuangan ( financial planners ) telah berusaha untuk menjelaskan hal-hal apa saja yang telah menghambat seseorang dalam mencapai bebebasan keuangan ( financial freedom ). Kebebasan keuangan adalah kondisi terbebas dari semua utang yang membatasi kebebasan kita. Pada umumnya, kebebasan keuangan telah dapat dicapai ketika seseorang memasuki usia pensiun ( retirement ).
Ternyata, hal-hal yang menghambat tercapainya kebebasan keuangan itu bukanlah semata-mata gaji (penghasilan) yang terlampau kecil. Di Indonesia, ada standar gaji minimum (UMR) yang harus dibayarkan oleh pemberi kerja kepada karyawan-karyawannya.
Gaji kecil akan membuat kecepatan Anda dalam mencapai kebebasan keuangan lebih lambat. Namun gaji kecil tidak berarti bahwa Anda tidak akan dapat mencapai kebebasan keuangan tersebut.
Hal yang sering terjadi sesungguhnya adalah kebiasaan kita sendiri yang buruk dalam mengelola keuangan, tetapi kita sering menyalahkan hal lain. Misalnya, kita sering menyalahkan gaji kita yang hanya UMR, sehingga berapa pun gaji yang kita miliki akan selalu dirasa tidak cukup.
Daripada sibuk menyalahkan hal-hal lain di luar kontrol kita, lebih baik kita berfokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan untuk mencapai kebebasan keuangan tersebut. Uang gaji yang kita terima tidak lenyap begitu saja, tetapi uang gaji kita seringkali bocor melalui kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita abaikan.
1. Tidak membuat anggaran pengeluaran ( spending budget )
Kebiasaan buruk terbesar yang sering dilakukan orang adalah tidak membuat dan mematuhi anggaran ( budget ). Untuk seorang karyawan, sangat mudah untuk menyusun anggaran, karena pendapatan ( income ) seorang karyawan hanya berasal dari satu sumber. Perhatian seorang karyawan dalam menyusun anggaran hanya terpusat pada pengeluaran ( expense ).
Jika karyawan tidak membuat anggaran, ia akan sangat mudah untuk berbelanja lebih besar dari semestinya. Bagaimana orang dapat mencapai kebebasan keuangan jika ia bahkan tidak dapat mengelola uang yang dipegangnya saat ini?
Menyusun anggaran, dan patuh terhadap anggaran yang dibuat, akan membantu Anda mengetahui bagian-bagian pengeluaran yang dapat Anda potong dan mengalihkan pengeluaran itu kembali menuju sasaran keuangan Anda yang lebih penting.
2. Berbelanja lebih banyak daripada gaji yang kita terima
Kebiasaan Keuangan yang buruk berikutnya adalah membelanjakan uang lebih banyak daripada gaji (penghasilan) yang diperoleh. Kebiasaan ini adalah cara yang pasti untuk membawa Anda masuk ke dalam jebakan utang dan stress keuangan.
Jika Anda saat ini terus menerus mengandalkan kartu kredit (KK) atau utang Kredit Tanpa Agunan (KTA) untuk memenuhi kebutuhan hidup, maka saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi kembali kebiasaan buruk Anda dalam berbelanja, dan mencari cara untuk mengurangi pengeluaran serta menambah penghasilan.
Jika Anda adalah pengguna Kartu Kredit (KK), cara yang mudah untuk mengetahui apakah Anda sering berbelanja lebih banyak daripada gaji yang Anda terima adalah dengan melacak pengeluaran-pengeluaran Anda melalui lembar tagihan Bank dari penerbit kartu kredit Anda tersebut. Anda mungkin akan kaget ketika melihat total tagihan dari kartu kredit Anda setiap bulan yang seringkali lebih besar daripada gaji Anda.
3. Mengabaikan utang-utang yang buruk
Kita bedakan dulu antara utang yang baik ( good debts ) dan utang yang buruk ( bad debts ). Tentu saja akan ada orang yang tidak setuju dengan cara ini, karena menurut mereka, semua utang adalah buruk dan harus dihindari.
Di sini, kami menggolongkan suatu utang sebagai utang yang baik jika utang itu akan menambah nilai ekuitas Anda setiap kali Anda membayar angsuran utang. Utang dianggap sebagai utang yang buruk jika utang tersebut dipakai untuk konsumsi.
Utang baik contohnya adalah utang KPR (Kredit Perumahan Rakyat) untuk rumah pertama yang dibeli secara kredit, atau hutang KKB (Kredit Kendaraan Bermotor) untuk membeli kendaraan yang dipakai pergi dan pulang dari kantor. Contoh utang buruk ( bad debts ) adalah utang Kartu Kredit (KK), dan semua utang dari KTA (Kredit Tanpa Agunan).
Utang KK atau KTA adalah buruk, bukan hanya karena dipakai untuk keperluan konsumsi, tetapi terutama karena beban bunga dari utang itu yang sangat besar. Mengabaikan utang yang buruk yang ada, hanya akan membuat kita tetap miskin dan menjauhkan kita dari Kebebasan Keuanganyang kita inginkan.
Jika Anda memiliki utang-utang KK atau utang KTA, segeralah menyusun langkah-langkah untuk melunasinya (dan tidak membuat utang baru). Anda dapat mulai dari KK atau KTA yang berbunga tertinggi sebagai permulaan, dan seterusnya hingga semua utang tersebut lunas.
4. Tidak menyimpan Dana Darurat
Kebiasaan buruk berikutnya dalam mengelola keuangan yang menghambat pencapaian kebebasan keuangan adalah tidak menyimpan dana yang cukup untuk kebutuhan darurat ( emergencies ). Kita tidak pernah tahu kapan hal buruk yang tidak terduga akan terjadi pada keluarga kita. Tetapi, kita selalu dapat berjaga-jaga dengan memiliki Dana Darurat yang cukup.
Tidak memiliki Dana Darurat dapat dipersamakan dengan kondisi keuangan yang selalu berada di tepi jurang. Setiap kali muncul keadaan darurat, maka kita akan terjebak ke dalam utang berbunga tinggi. Hal ini tentu saja akan membuat kita semakin sulit mencapai kebebasan keuangan yang kita impikan.
5. Tidak berinvestasi
Kebiasaan buruk yang terakhir yang menghambat tercapainya kebebasan keuangan, adalah karena Anda tidak berinvestasi. Anda dapat mengajukan berbagai alasan mengapa Anda tidak berinvestasi. Anda mungkin merasa tidak cukup mengerti tentang berinvestasi, Anda tidak memiliki cukup waktu untuk berinvestasi, atau bahkan karena jumlah uang milik Anda masih terlalu kecil untuk diinvestasikan.
Sesungguhnya, tidak berinvestasi, akan menghambat Anda dalam mencapai kebebasan keuangan Anda mungkin sudah merasa cukup dengan hanya menyimpan uang dalam bentuk deposito saja, atau bahkan hanya menyimpan uang dalam bentuk tabungan yang dapat diambil sewaktu-waktu.
Tabungan dan deposito memang penting, tetapi setelah jumlah tabungan dan deposito Anda melewati jumlah Dana Darurat yang diperlukan, Anda perlu berinvestasi. Investasi akan membantu Anda menumbuhkan uang di atas tingkat inflasi. Lebih penting lagi, investasi yang baik akan membuat uang bekerja untuk Anda, dan bukan sebaliknya Anda yang harus bekerja terus menerus untuk mendapatkan uang.
Anda dapat mulai berinvestasi dalam jumlah kecil dengan membeli reksadana Bursa ( Exchange Traded Fund = ETF ) yang pasif berdasarkan Indeks pasar yang berlaku umum, misalnya ETF R-LQ45X. Anda tidak harus menjadi ahli dalam memilih saham-saham, karena saham-saham yang ada dalam ETFadalah semua saham yang membentuk Indeks LQ45, yaitu indeks atas 45 saham paling likuid yang diperdagangkan di BEI (Bursa Efek Indonesia).
Oleh: Fredy Sumendap, CFA.
Sumber : IPS