5 Jebakan Pengelolaan Uang dan Cara Menghindarinya
Friday, July 18, 2025       14:59 WIB

Dalam artikel kali ini kita akan membahas tentang lima jebakan dalam pengelolaan uang yang umum terjadi pada orang-orang yang kurang memahami pentingnya memiliki kecakapan keuangan (literasi keuangan). Untuk setiap pembahasan jebakan keuangan, kami juga menyajikan cara menghindari jebakan tersebut, yang dapat Anda praktekkan dalam hidup sehari-hari.
1. Terus menunda menabung untuk Dana Pensiun
Jebakan pertama dalam pengelolaan uang yang sering dihadapi orang yang bekerja adalah terus menunda menabung untuk Dana Pensiun. Padahal setiap orang yang bekerja, pada suatu saat nanti pasti akan pensiun juga (tidak bekerja lagi).
Olehkarena itu, menabung untuk Dana Pensiun merupakan kewajiban setiap orang yang bekerja, di mana sebagian dari gaji yang diterimanya harus disisihkan untuk bekal Dana Pensiun.
Pada usia 20-an di mana orang mungkin baru lulus kuliah dan mulai berkarir, pensiun merupakan hal yang masih jauh dalam pikiran kita. Anda mungkin lebih berfokus pada menyimpan uang untuk membeli mobil, atau membayar uang muka ( down payment ) pembelian rumah. Pada usia 30-an, kemungkinan besar pensiun juga belum menjadi prioritas Anda, karena fokus Anda adalah menikah dan membangun keluarga.
Demikian seterusnya, sampai usia 40-an pun menabung untuk Dana Pensiun masih sering terabaikan karena ada prioritas lain dalam keluarga yang menuntut perhatian kita, seperti biaya Pendidikan Anak (atau pun biaya pendidikan kita sendiri di jenjang S2 atau S3)..
Kalau kita bekerja di perusahaan yang cukup besar, maka gaji yang kita terima setiap bulan pasti sudah dipotong sebagian untuk iuran JHT (Jaminan Hari Tua). Setidaknya, sebagian urusan pensiun kita telah ditangani perusahaan.
Tetapi, jika kita bekerja di perusahaan kecil (memiliki pegawai kurang dari sepuluh orang), yang tidak mengikut-sertakan karyawannya ke dalam program Jaminan Hari Tua (JHT) pada BPJS -TK (Badan Pengelola Jaminan Sosial-Tenaga Kerja), maka urusan Dana Pensiun harus kita pikirkan sendiri karena merupakan masa depan kita. Atau, misalkan kita bekerjasebagai wiraswastawan, kita tidak boleh membiarkan masalah Dana Pensiun ini berlarut-larut tanpa penyelesaian.
 Cara menghindari jebakan :
Jika Anda bekerja pada perusahaan kecil (jumlah pegawai kurang dari 10 orang) atau Anda berwiraswasta, Anda harus menyiapkan menabung sendiri Dana Pensiun untuk bekal Anda nanti, karena majikan Anda tidak mengikut-sertakan pegawai-pegawainya dalam program JHT (Jaminan Hari Tua). Anda misalnya dapat menabung sendiri Dana Pensiun itu dalam rekening TDPP (Tabungan Dana Pensiun Pribadi) yang Anda buka untuk menampung sebagian uang gaji yang Anda terima.
Bahkan, untuk Anda yang bekerja di Perusahaan yang telah mengikut-sertakan pegawai-pegawainya dalam program JHT (Jaminan Hari Tua), kami masih menganjurkan Anda untuk memiliki rekening TDPP karena program JHT hanya menyediakan Dana Pensiun minimal untuk kebutuhan hari tua Anda.
Untuk memastikan bahwa rekening TDPP (Tabungan Dana Pensiun Pribadi) Anda akan terisi, Anda harus disiplin mengisi rekening itu pada setiap tanggal gajian. Berbeda dengan JHT, di mana pada setiap tanggal gajian pihak perusahaan otomatis akan memotong gaji Anda untuk JHT, dan mengirimkannya sisanya kepada Anda. Untuk membuat rekening TDPP otomatis menerima setoran pada setiap tanggal gajian, buatlah  standing instruction  dari rekening gaji Anda sehingga setelah uang gaji masuk akan segera ditransfer ke rekening TDPP . Jadi, tabungan pensiun akan mendapatkan prioritas pertama, sebelum kebutuhan-kebutuhan lainnya.
2. Tidak memiliki Dana Cadangan
Jebakan pengelolaan uang yang ke-dua adalah tidak memiliki Dana Cadangan (Reserve Fund) untuk kebutuhan darurat ( emergency ). Keadaan darurat, seperti misalnya sakit berat pada anggota keluarga, kecelakaan, kendaraan rusak karena tabrakan, atau PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), adalah hal-hal yang tidak kita inginkan tetapi sangat mungkin terjadi. Tanpa adanya Dana Cadangan (Emegency Fund), maka dalam setiap kejadian darurat, kondisi keuangan kita menjadi terancam.
Jika Anda masih bujangan, maka kemungkinan terjadinya keadaan darurat (sakit atau kecelakaan) hanya atas satu orang saja. Tetapi, jika Anda telah berkeluarga, maka kemungkinan terjadinya keadaan darurat (sakit atau kecelakaan) itu akan meningkat sesuai dengan jumlah anggota keluarga (istri dan anak-anak).
Kondisi keuangan Anda mungkin masih cukup kuat jika keadaan darurat hanya menimpa satu orang saja. Tetapi, kondisi keuangan Anda akan sangat buruk jika keadaan darurat itu terjadi sekaligus pada beberapa anggota keluarga.
 Cara menghindari jebakan :
Segera mulai menabung untuk Dana Darurat jika Anda belum memilikinya. Jumlah minimal Dana Darurat yang kami anjurkan adalah sebesar enam bulan pengeluaran rutin Anda, tetapi kami lebih suka jumlah yang lebih besar sampai sembilan bulan atau setahun pengeluaran rutin Anda mengingat kondisi ekonomi yang sangat tidak pasti sekarang ini. Dana Darurat ini harus Anda simpan dalam rekening tabungan atau deposito bank (atau reksadana pasar uang) yang mudah dijangkau dan nilainya stabil jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
3. Bereaksi berlebihan atas perubahan mendadak pada harga pasar
Jebakan pengelolaan uang berikutnya yang sering terjadi, ketika mengelola dana jangka panjang seperti Dana Pensiun, adalah bereaksi berlebihan atas perubahan harga pasar yang tiba-tiba. Dana Pensiun yang kita kelola sendiri sering ditempatkan, sebagian atau seluruhnya, ke dalam berbagai instrumen keuangan, seperti saham-saham, atau dalam reksadana ekuitas dan reksadana pendapatan tetap.
Walau pun investasi dalam aset-aset tak berwujud ( intangible assets ) itu bagus (terutama bagi pemodal kecil, karena investasi dalam surat-surat berharga mudah dilakukan walau pun jumlahnya terbatas), namun investasi dalam aset tak berwujud memiliki kelemahan yaitu nilai investasi dapat berubah cepat setiap saat (bahkan menjadi nihil apabila emiten saham atau emiten surat berharga itu menjadi bangkrut).
Kepailitan emiten seakan-akan menjadi momok yang sangat menakutkan bagi pemodal di pasar modal yang berinvestasi pada instrumen keuangan. Seringkali terjadi bahwa pemodal bereaksi berlebihan atas suatu berita (berita buruk) yang muncul dan tiba-tiba membuat harga pasar (terutama harga saham) emiten tersebut turun drastis.
Dalam kebanyakan kasus, kebangkrutan emiten bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Jika Anda berinvestasi dalam instrumen saham, tentu Anda sudah harus meneliti terlebih dahulu kapabilitas emiten tersebut dalam menghasilkan keuantungan.
Dengan kata lain, Anda hanya berinvestasi pada saham-saham yang baik saja ( blue chip ). Penurunan harga emiten saham blue chip yang drastis, seringkali akan diikuti dengan kenaikan kembali ( rebound ) harga saham tersebut. Artinya, pemodal yang bereaksi berlebihan (buru-buru menjual) ketika harga-harga saham emiten tiba-tiba tertekan akan mengalami kerugian, dan ketika harga-harga saham emiten kembali naik, pemodal seringkali terlambat untuk membeli.
 Cara menghindari jebakan: 
(1) Investasi pada saham hendaknya memperhatikan kualitas emiten. Hindari emiten yang kapitalisasi pasarnya terlalu kecil, karena harga saham emiten tersebut akan cenderung sangat fluktuatif.
(2) Investasi pada saham harus terdiversifikasi dengan baik, sehingga penurunan harga pada satu atau sekelompok saham akan dapat terimbangi dengan kenaikan pada harga-harga saham lainnya.
(3) Investasi pada aset-aset keuangan ( financial assets ) harus terdiversifikasi antara investasi pada instrumen ekuitas dan investasi pada instrumen berpendapatan tetap. Dalam kondisi normal penurunan pada harga saham umumnya tidak menyebabkan penurunan pada harga-harga instrumen pendapatan tetap.
(4) Investasi secara keseluruhan harus terdiversifikasi ke dalam aset-aset tak berwujud ( financial assets ) dan aset-aset berwujud (aset riil seperti emas batangan dan properti). Harga aset-aset tak berwujud bisa turun hingga nol tetapi harga-harga aset riil tidak mungkin turun hingga nol.
4. Membiarkan seluruh tabungan dana pensiun dalam bentuk tunai
Jebakan dalam pengelolaan uang berikutnya yang akan kita bahas adalah membiarkan seluruh tabungan Dana Pensiun ada dalam bentuk tunai. Pada kondisi ekonomi yang luar biasa, seperti pada waktu gejolak ekonomi pada waktu krisis moneter tahun 1998, atau pada waktu ekonomi mengalami fenomena deflasi (disinflasi), maka ada istilah tunai adalah raja ( cash is king ).
Akan tetapi, kondisi krisis adalah kondisi pengecualian, bukan kondisi yang terjadi terus menerus, atau kondisi yang akan berlangsung dalam jangka panjang. Membiarkan seluruh tabungan Dana Pensiun Anda ada dalam bentuk tunai tentulah bukan pilihan yang baik.
Bahkan, untuk pemodal yang sudah pensiun pun, kami tetap menyarankan sebagian kecil aset Dana Pensiun (10% sd 15%) tetap ada dalam istrumen ekuitas (sebagai lindung nilai terhadap inflasi) mengingat bahwa umur harapan hidup manusia makin bertambah sehingga Dana Pensiun juga harus bertahan terhadap resiko inflasi.
5. Berinvestasi terlalu banyak dalam satu jenis aset saja
Jebakan pengelolaan uang (Dana Pensiun) terakhir yang akan dibahas di sini adalah berinvestasi terlalu banyak dalam satu jenis aset saja. Suatu jenis aset mungkin telah sangat berjasa karena nilainya pernah naik tinggi sekali. Tetapi, dalam berinvestasi (Dana Pensiun), ada satu prinsip yang harus selalu ada, yaitu diversifikasi.
Artinya, Anda tidak boleh hanya berinvestasi dalam satu atau beberapa jenis aset saja. Misalnya, Anda tidak boleh hanya berinvestasi di dalam saham-saham saja, tetapi harus berdiversifikasi juga ke dalam instrumen berpendapatan tetap.
Demikian pula, investasi Dana Pensiun yang Anda lakukan sebaiknya tidak hanya ada pada instrumen keuangan saja tetapi juga pada aset riil seperti emas dan properti. Berinvestasi hanya pada satu jenis aset saja, walau pun investasi itu telah memberikan banyak keuntungan di masa lalu, tetaplah bukan investasi yang bijaksana. Setiap investasi harus terdiversifikasi dengan baik.
Jika kita hanya mempunyai Dana Pensiun yang terbatas, kita mungkin baru bisa membeli satu atau beberapa jenis saham saja. Kami menganjurkan Anda, dalam hal ini, untuk mulai berinvestasi di reksadana konvensional (ekuitas) atau reksadana Bursa (ETF). Setelah Dana Pensiun Anda telah cukup besar, Anda sebaiknya melakukan diversifikasi ke dalam reksadana ekuitas dan juga reksadana berpendapatan tetap.
Jika Dana Pensiun Anda telah lebih besar lagi, Anda sebaiknya melakukan diversifikasi lebih lanjut ke aset-aset riil ( tangible assets ), seperti properti dan emas batangan.
 Cara menghindari jebakan: 
Investasi Anda tidak boleh terpaku hanya pada satu kelas aset saja. Demikian pula, investasi pada beberapa kelas aset yang berbeda pun harus ditinjau bobotnya secara berkala dengan melakukan  rebalancing . Untuk investasi hanya di dalam aset-aset keuangan,  rebalancing  mudah dan cukup murah untuk dilakukan. Tidak demikian halnya jika kita sudah pada tahap diversifikasi antara aset keuangan ( intangible assets ) dan investasi pada aset riil ( tangible assets ).
Aset riil seperti properti praktis tidak dapat diikutsertakan dalam program  rebalancing  Anda. Demikian pula, aset riil berbentuk emas batangan tidak perlu diikutsertakan dalam program  rebalancing  karena menjual dan membeli aset emas akan menimbulkan biaya transaksi yang terlalu besar.
 Oleh : Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS