- Kemiskinan dinilai bukan sekadar soal nasib atau gaji kecil, tetapi dipengaruhi pola pikir, disiplin, dan kemampuan mengelola uang sejak kecil.
- Artikel ini menekankan pentingnya menunda kenikmatan, terus meningkatkan kemampuan diri, serta membangun lingkungan pergaulan yang optimistis dan produktif.
- Perbedaan utama orang kaya dan miskin terletak pada cara memperoleh uang: orang miskin bekerja demi uang, sedangkan orang kaya membuat uang bekerja.
Di bawah ini kami akan tunjukkan 5 fakta tentang uang yang harus dimengerti oleh semua orang, terutama oleh mereka yang sedang berjuang untuk lepas dari kemiskinan. Anda mungkin terlahir bukan di keluarga kaya. Terlahir di keluarga miskin bukanlah salah Anda. Tetapi, tetap hidup dalam kemiskinan sepanjang hidup adalah kesalahan Anda.
Lima fakta yang akan kami tunjukkan di bawah akan menjelaskan mengapa banyak orang (miskin) telah bekerja keras seumur hidupnya tetapi tetap saja hidup serba kekurangan. Kemiskinan itu bukanlah masalah keberuntungan (hoki), bukan pula masalah lingkungan keluarga tempat Anda dilahirkan.
Lima fakta tentang uang yang akan kami tunjukkan di bawah ini dapat menjawabnya. Jika Anda melewatkan satu saja dari antaranya, maka uang Anda akan selalu lepas dari genggaman, dan Anda akan tetap hidup miskin.
Kesampingkan lebih dulu nasehat kuno yang dulu mungkin pernah diajarkan sewaktu Anda masih kecil, bahwa (1) rejeki manusia sudah ada yang mengatur . Yakinlah bahwa jika memang rejeki Anda sudah ada yang mengatur, maka Anda lah orangnya; (2) rejeki manusia akan datang secara tak terduga, asal kita rajin berdoa dan percaya kepada-Nya . Tidak ada doa yang dapat menggantikan pandangan yang bijak tentang uang ( no prayer replaces wisdom ). Tidak ada keajaiban yang akan terjadi dalam mengelola uang selain disiplin ( no miracle replaces discipline ).
Jika Anda tidak belajar tentang bagaimana mengelola uang, Anda selamanya akan tetap hidup dalam kemiskinan. Tetapi, jika Anda mau belajar, maka hidupmu dan hidup keluarga Anda selanjutnya akan berubah.
1. Fakta No 1: Uang tidak mengubah siapa dirimu
Uang tidak akan mengubah diri Anda. Uang hanya akan mengungkapkan siapa diri Anda yang sesungguhnya. Anda mungkin akan mengatakan bahwa jika suatu saat nanti aku sudah kaya, maka aku akan lebih disiplin mengelola uangku.
Itu tidak akan terjadi. Jika Anda ceroboh dalam mengelola uang pada waktu Anda masih miskin, Anda akan ceroboh juga pada waktu Anda memiliki banyak uang.
Memiliki banyak uang tidak akan membuat Anda bijaksana dalam mengelola uang. Memiliki banyak uang hanya akan menonjolkan kebiasaan-kebiasaan Anda yang sudah ada. Kalau Anda terbiasa memboroskan uang Rp10 ribu waktu Anda masih miskin (misalnya uang itu cuma dipakai untuk membeli rokok), dapat dipastikan bahwa Anda akan memboroskan Rp10 juta waktu Anda sudah memiliki banyak uang.
Orang miskin tetap hidup miskin, bukan karena mereka tidak memiliki penghasilan ( earning ) yang cukup, tetapi lebih karena mereka tidak belajar ( learning ). Anda harus belajar mengelola uang kecil, sebelum Anda terampil mengelola uang besar.
2. Fakta No 2: Anda tidak akan menjadi kaya sebelum belajar menunda kenikmatan
Banyak orang miskin yang tetap terjebak hidup dalam kemiskinan, walau pun gaji atau penghasilan mereka sudah bertambah, karena mereka tidak belajar untuk menunggu. Belajar menunggu di sini adalah belajar untuk menunda kenikmatan ( gratification ). Contohnya adalah ketika seorang karyawan menerima uang bonus, atau uang THR (Tunjangan Hari Raya). Pada umumnya, mereka ingin menikmati sekarang ( enjoy now ), membeli sekarang ( buy now ), dan pamer sekarang ( show off now ).
Bandingkan dengan kehidupan orang kaya, yang telah lepas dari kemiskinan. Mereka tidak menghabiskan uang bonus atau THR itu. Kadang-kadang malah uang bonus tidak mereka belanjakan sama sekali. Tetapi, uang bonus itu diinvestasikan lebih dahulu. Orang kaya akan menunda kenikmatan hari ini untuk dapat menikmati kebebasan keuangan di masa depan.
3. Fakta No 3: Anda tidak akan menjadi kaya jika lingkungan pergaulan Anda adalah orang-orang pesimis
Fakta ketiga, bahwa orang-orang yang hidupnya makmur (kaya) seakan-akan hanya mau bergaul dengan sesama orang kaya. Kami tidak mengatakan bahwa orang kaya tidak perlu bergaul dengan orang-orang miskin yang hidupnya tidak seberuntung mereka. Faktanya adalah orang-orang kaya hanya bergaul dengan orang-orang yang optimistis menatap masa depan, dan orang-orang yang optimis itu adalah orang-orang yang akan berhasil menjadi kaya.
Sebaliknya, orang-orang yang akan tetap hidup dalam kemiskinan, adalah orang-orang yang pesimistis dalam menatap masa depannya. Jadi, kita harus selektif dalam memilih lingkungan pergaulan kita, bukan berarti kita hanya bergaul dengan orang-orang kaya, tetapi kita harus bergaul dengan orang-orang yang optimistis (walau pun dia mungkin belum kaya).
4. Fakta No 4: Gaji Anda yang kecil saat ini bukan inti masalah, tapi kerangka berpikir
Fakta keempat tentang uang yang harus dimengerti oleh setiap orang, terutama oleh mereka yang sedang berjuang untuk keluar dari kemiskinan, adalah mengenai kerangka berpikir ( mind-set ) tentang uang dan bagaimana menghasilkan uang lebih banyak. Orang miskin sering berkata bahwa dia hidup miskin karena dia hanya bergaji UMR (Upah Minimum Regional), kalau upahnya lebih besar lagi dia tentu akan hidup makmur.
Ini cara berpikir yang salah. Gaji kecil yang Anda terima saat ini bukan inti masalahnya, tetapi kerangka berpikir yang salah adalah sumber masalah.
Semua orang yang baru mulai meniti karirnya tentu harus siap untuk menerima gaji yang lebih rendah dari pekerja yang telah lama bekerja, yang mampu memberikan nilai ( value ) lebih besar bagi Perusahaan. Tetapi, tidak semua pekerja yang telah lama bekerja bisa memberikan nilai ( value ) yang sama kepada Perusahaan tempatnya bekerja.
Jika nilai ( value ) yang Anda berikan tidak berubah dari tahun lalu, tentu saja Anda tidak dapat mengharapkan gaji tahun ini akan lebih besar daripada gaji tahun lalu.
Bagaimana caranya menumbuhkan nilai ( value ) yang dapat kita berikan kepada Perusahaan? Caranya adalah dengan terus berinvestasi pada diri kita sendiri. Misalnya, kalau tahun ini kita mulai bekerja dengan kemampuan berbahasa asing (Inggris dan China) minimum, maka dua tahun lagi Anda harus mampu menjadi penerjemah setiap kali ada tamu asing yang datang berkunjung ke kantor.
Kemudian, Anda juga sepulang kerja harus tetap mengasah kemampuan baru sesuai perkembangan zaman. Anda harus menyadari bahwa perkembangan teknologi saat ini sudah sangat cepat sehingga pengetahuan tentang AI (Artificial Intelligence) menjadi sangat bermanfaat karena dapat mempercepat pekerjaan.
5. Fakta No. 5: orang miskin bekerja untuk uang, uang bekerja untuk orang kaya
Fakta terakhir tentang uang yang wajib dimengerti oleh setiap orang yang ingin keluar dari jerat kemiskinan adalah bahwa orang miskin bekerja untuk mendapatkan uang, tetapi orang kaya membuat uang bekerja untuk mereka.
Anda mungkin tergoda untuk mengatakan bahwa orang kaya bisa membuat uang bekerja untuk mereka karena memang mereka sudah kaya sejak lahir. Anda lalu menyodorkan bukti-bukti bahwa bos Anda, misalnya, adalah anak seorang kaya (pebisnis), mengenyam pendidikan bisnis (MBA) di universitas top di luar negeri, dan bisa langsung memimpin Perusahaan besar yang didirikan orangtuanya. Sedangkan Anda? Anda hanya anak seorang karyawan kecil, yang hidup dari gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya ( living pay-check to pay-check ).
Saya tidak ingin masuk ke dalam polemik antara cara pandang anak seorang pebisnis dan anak seorang karyawan tentang masalah uang di sini. Para pembaca IPOTNEWS yang tertarik dengan topik ini dapat membaca artikel kami sebelumnya yang berjudul ' 3 Perbedaan Cara Seorang Pebisnis dan Cara Seorang Karyawan Mendidik Anak-Anaknya Tentang Uang '.
Hal penting yang ingin kami kemukakan di sini adalah fakta bahwa orang miskin bekerja untuk mendapatkan uang, sementara orang kaya membuat uang bekerja untuk mereka. Orang miskin harus terus bekerja agar mendapatkan uang, sementara itu orang kaya tetap memiliki banyak uang walau pun sedang tidur. Perbedaan ini dapat dijelaskan dengan mempelajari sumber uang orang kaya ( investment ) dan sumber uang orang miskin ( labour ).
Oleh: Fredy Sumendap, CFA
Sumber : IPS