5 Anggapan Keliru tentang Uang (Namun Masih Dipercaya Sebagian Masyarakat)
Thursday, May 07, 2026       14:07 WIB
  • Banyak anggapan keliru soal uang yang masih dipercaya masyarakat, misalnya; uang dianggap sumber kejahatan dan semua orang kaya dianggap jahat.
  • Kemampuan mengelola uang sebenarnya bisa dipelajari, sehingga tidak selalu harus bergantung pada pihak ketiga.
  • Selain kerja keras dan hidup hemat, investasi jangka panjang dinilai penting untuk membangun kekayaan secara konsisten.

Ada banyak anggapan (kepercayaan) tentang uang yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Sebagian dari kepercayaan itu dapat dibuktikan tidak benar, tetapi kepercayaan yang telah berkembang luas di masyarakat tidak selalu mudah untuk dihapuskan.
Di bawah ini kami sajikan lima anggapan atau kepercayaan tentang uang yang keliru, tetapi masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Indonesia.
1. Uang adalah pangkal segala kejahatan
Dulu, sebagian besar masyarakat percaya bahwa uang adalah pangkal dari semua kejahatan. Bahkan ada ungkapan yang terkenal dalam Bahasa Inggris tentang hal itu:  money is the root of all evil . Karena haus akan uang, orang bersedia berbuat kejahatan seperti mencuri, merampok, membunuh, atau mengambil uang yang bukan haknya (korupsi).
Ada banyak contoh keluarga-keluarga yang hancur karena uang. Saudara-saudara kandung berebut uang warisan, atau suami dan istri yang berpisah, sering juga karena uang.
Beberapa hal yang juga melibatkan uang, tetapi tidak secara langsung dikategorikan sebagai tindakan kejahatan, misalnya adalah memberikan uang suap untuk meloloskan salah satu pihak yang bersaing untuk memenangkan proyek.
Jika pemilik proyek adalah pihak pemerintah, seringkali uang itu diberikan karena pemberi suap tahu bahwa pihaknya tidak akan menang jika melalui tender secara normal; umumnya karena kualifikasi produk atau jasanya yang buruk atau di bawah standar. Intinya, uang dijadikan alasan untuk melakukan tindakan yang merugikan pihak lain.
Kekeliruan dari kepercayaan tentang uang ini adalah: uang itu sendiri tidaklah jahat, karena uang hanyalah  alat  untuk melakukan transaksi.  Money is not evil, it is a tool .
2. Semua orang kaya adalah jahat ( evil )
Anggapan yang kedua tentang uang yang juga keliru adalah menganggap bahwa semua orang kaya itu jahat. Kita belum lama ini menyaksikan terpidana kasus tambang timah yang melibatkan kerugian uang negara berjumlah ratusan triliun rupiah. Juga kasus banjir besar di Sumatera yang diakibatkan oleh longsor dan alih fungsi hutan menjadi lahan sawit.
Kasus-kasus besar seperti ini tentu melibatkan orang-orang yang sudah sangat kaya raya. Sebagian masyarakat lalu mengambil kesimpulan bahwa semua orang kaya itu jahat. Mereka tidak peduli akan kerusakan pada lingkungan, mereka juga tidak peduli akan nasib rakyat jelata yang nasibnya merana akibat banjir dan longsor.
Sesungguhnya, orang jahat dan orang baik tidak ditentukan oleh jumlah uang yang dimiliki. Banyak orang miskin yang juga jahat; demikian pula banyak orang kaya yang baik. Uang yang dimiliki seseorang (kekayaan) hanya membuat sifat seseorang itu (baik atau jahat) menjadi lebih menonjol dan mudah dikenali oleh orang lain.  Wealth only amplifies who you already are .
3. Saya tidak pintar mengelola uang (karena itu saya selalu menggunakan jasa pihak ketiga)
Anggapan yang ketiga tentang uang, yang juga keliru, adalah anggapan bahwa karena saya tidak pintar mengelola uang. Oleh karena itu, seluruh uang yang dimiliki diserahkan pengelolaannya kepada perencana keuangan ( financial planner ), penasihat keuangan ( financial advisor ), atau manajer investasi ( investment manager ). Perencana keuangan, penasehat keuangan, dan manajer investasi adalah pihak ketiga yang memiliki ketrampilan keuangan ( skills ) untuk mengelola keuangan. Tetapi, tidak berarti bahwa kita tidak dapat mengelola keuangan kita sendiri.
Pada jumlah tertentu, malah sebaiknya pengelolaan keuangan sebaiknya dilakukan sendiri. Pengelolaan keuangan membutuhkan ketrampilan ( skill ) yang dapat dipelajari dengan cara meningkatkan literasi keuangan. Bagaimana pun juga,  financial literacy is a skill, not a personability trait .
4. Jika saya menghasilkan lebih banyak uang, akan habis terpakai juga
Anggapan keempat tentang uang (yang keliru) adalah bahwa jika saya menghasilkan lebih banyak uang, uang itu akan habis terpakai juga. Ini anggapan yang berbahaya, karena hanya akan menyabot (menggagalkan) usaha kita untuk menghasikan uang lebih banyak. Anggapan ini mirip dengan ajaran para orang tua-tua jaman dahulu, bahwa rezeki sudah ada yang 'ngatur' (manusia tidak perlu berjuang terlalu keras untuk menggapai cita-citanya).
Sesungguhnya, setiap orang pada waktu mudanya harus berusaha menghasilkan uang sebanyak mungkin, karena setelah masa muda itu lewat, maka masa menghasilkan uang tidak akan kembali lagi.
5. Saya harus terus bekerja lebih giat untuk menghasilkan lebih banyak uang
Terakhir, anggapan yang keliru tapi masih banyak dipercaya orang dalam masyarakat kita adalah bahwa untuk menghasilkan lebih banyak uang, orang harus terus bekerja dengan lebih giat. Sewaktu kecil kita diajari bahwa rajin bekerja dan hemat pangkal kaya. Rajin (giat) bekerja memang penting, karena tidak ada orang malas yang bisa menghasilkan banyak uang.
Tetapi, kita tidak boleh hanya mengandalkan rajin saja untuk menghasilkan banyak uang. Kita harus pandai mengatur waktu kita yang terbatas untuk dapat menghasilkan lebih banyak uang. Kemudian, kita harus hidup hemat (tidak berfoya-foya) supaya uang yang telah kita kumpulkan tidak terbuang percuma.
Selain giat bekerja dan hidup hemat, hal lain yang dapat ditempuh oleh semua orang untuk menghasilkan lebih banyak uang adalah berinvestasi. Berinvestasi adalah menunda keinginan untuk menggunakan ( consume ) uang yang ada hari ini demi manfaat yang lebih besar di kemudian hari. Berinvestasi tidak berarti bahwa kita boleh bertindak ceroboh dengan uang yang kita miliki dan mengambil semua tawaran investasi yang menjanjikan imbal hasil ( return ) segera.
Salah satu cara berinvestasi yang sering dianggap sebagai cara cepat untuk menjadi kaya adalah 'bermain' saham (atau  forex, crypto, derivative,  dan sebagainya). Kami tidak menganjurkan 'investasi' seperti itu.
Sebaliknya, kami menganjurkan para pembaca setia IPOTNEWS untuk berinvestasi pada ETF ( Exchange Traded Fund ) yang mengikuti indeks pasar secara global (keseluruhan). ETF (pasif) seperti ini tidak menjanjikan imbal hasil ( return ) segera, tetapi ETF (pasif) menjanjikan imbal hasil ( return ) yang perlahan tapi konsisten sesuai dengan perkembangan pasar modal.
 Oleh : Fredy Sumendap, CFA  

Sumber : IPS