- Pebisnis dan karyawan umumnya memiliki cara berbeda dalam mendidik anak soal uang dan masa depan.
- Anak pebisnis diajarkan memanfaatkan sistem, membangun kepemilikan usaha, dan memahami strategi pajak secara legal.
- Sementara anak karyawan lebih sering dididik untuk bekerja keras, patuh pada sistem, dan mencari keamanan kerja.
Kali ini kita akan membahas tentang perbedaan cara pebisnis ( entrepreneur ) dan cara karyawan ( employee ) dalam mendidik anak-anaknya tentang uang. Cara seorang pebisnis mendidik anak-anaknya tentang uang akan menghasilkan generasi baru pebisnis muda yang unggul sebagai wiraswasta pula.
Sementara itu, cara seorang karyawan mendidik anak-anaknya tentang uang seringkali hanya menghasilkan generasi muda yang mengikuti langkah kaki orang tuanya menjadi karyawan pula. Tidak berarti bahwa setiap orang harus menjadi pebisnis (wiraswasta), atau bahwa menjadi karyawan itu buruk.
Setiap orang bebas memilih jalan hidupnya sendiri-sendiri. Tetapi, banyak anak muda yang cenderung memilih jalan hidup seperti yang diajarkan oleh orangtuanya.
Sebenarnya, hal yang ingin kami sampaikan di sini hanyalah bahwa menjadi pebisnis ( entrepreneur ) seringkali dianggap sebagai jalan hidup yang lebih baik daripada menjadi karyawan ( employee ). Hal yang sering dijadikan alasan adalah bahwa berbisnis akan membuatmu kaya ( wealthy ), sementara menjadi karyawan hanya membuatmu menjadi orang yang patuh ( compliant ) pada perintah atasan.
Tidak semua orang berbakat menjadi pebisnis. Seorang pebisnis mendidik anak-anaknya untuk menjadi pebisnis unggul. Seorang karyawan mendidik anak-anaknya untuk menjadi karyawan yang patuh pada atasan; patuh pada sistem yang dibuat yang dibuat oleh perusahaan atau pemerintah.
Di sini akan kami jelaskan tiga perbedaan antara cara pebisnis dan cara karyawan dalam mendidik anak-anaknya. Jika Anda dulu adalah anak seorang karyawan, Anda akan menjadi tahu mengapa cara mendidik anak tentang uang akan menentukan kehidupan seorang anak.
Misalnya, Anda akan menjadi tahu mengapa Anda sekarang mungkin hidup miskin, sementara bos Anda pemilik Perusahaan hidup jauh lebih makmur. Hal ini terjadi sebagai akibat dari permainan yang dulu diajarkan kepada Anda untuk dimainkan.
Sementara Anda diajarkan untuk bekerja keras, hidup hemat dan rajin menyimpan uang, serta bermain aman dan menghindari resiko, bos Anda pemilik Perusahaan dulu diajarkan oleh orangtuanya hal-hal tentang uang yang sama sekali berbeda.
Di bawah ini kami sampaikan tiga ilmu yang kemungkinan telah dipelajari bos pemilik perusahaan sejak kecil, tetapi Anda mungkin baru mengetahuinya sekarang.
1. Memanfaatkan sistem, karyawan, dan kapital (prinsip leverage )
Kita tahu bahwa ada banyak sekali gerai Starbuck, MacDonald, KFC. Atau mungkin gerai-gerai waralaba lokal seperti kopi Kenangan. Ada ribuan cabang di seluruh dunia, tapi tak ada satu pun gerai yang dikelola sendiri oleh para pendiri ( founder ) waralaba tersebut. Sementara para pebisnis memanfaatkan sistem ( system ), orang lain ( people ), dan modal ( capital ), Anda sebagai karyawan selalu diajarkan untuk melakukan semuanya sendiri.
Anda, yang saat ini menjadi karyawan, dulu mungkin sejak kecil diajarkan untuk rajin belajar, rajin menghapalkan rumus-rumus matematika, atau hukum-hukum fisika yang rumit di sekolah. Tujuannya adalah supaya Anda bisa melanjutkan kuliah di universitas yang baik, lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) tinggi, lalu mendapatkan pekerjaan di Perusahaan besar. Tetapi, Anda tidak pernah belajar tentang prinsip pengungkit (prinsip leverage ).
2. Mengutamakan kepemilikan usaha, bukan bekerja keras sendiri ( ownership over labour )
Sementara anak-anak dari seorang karyawan diajarkan untuk rajin belajar, lulus kuliah dengan nilai (IPK) yang bagus, mendapatkan pekerjaan yang baik, lalu meniti karir di perusahaan besar, anak-anak dari seorang pebisnis diajarkan untuk memiliki Perusahaan itu sendiri, dan menyediakan karir untuk karyawan-karyawannya; tetapi, pebisnis tidak perlu belajar untuk meniti karir itu sendiri.
Hal ini sunguh benar, karena biar bagaimana pun, seorang karyawan hanya mendapat upah (gaji) satu kali saja setiap bulan, selama ia masih terus bekerja; tetapi, seorang pemilik perusahaan akan mendapat penghasilan untuk seterusnya.
3. Memainkan celah perpajakan ( playing the tax game like a pro )
Sebagai seorang karyawan, Anda diajarkan untuk selalu taat dalam membayar pajak penghasilan. Membayar pajak penghasilan adalah tugasmu sebagai warga negara yang baik, demikian Anda diajari sejak kecil.
Tetapi, apakah yang diajarkan oleh seorang pebisnis kepada anak-anaknya? Anak-anak pebisnis diajarkan untuk mempelajari aturan-aturan perpajakan. Aturan pajak bagi mereka adalah buku manual untuk memperoleh insentif . Hal itu tidak berarti bahwa orang kaya selalu berusaha mengakali pajak yang harus dibayarnya. Orang-orang kaya tidak berusaha mengakali pajak ( evade taxes ). Mereka tahu cara-cara untuk menghindari pembayarann pajak ( avoid taxes ).
Orang-orang kaya menggunakan aturan-aturan pajak dan tata cara perpajakan yang sepenuhnya valid dan legal. Anda yang dididik untuk menjadi karyawan tidak akan pernah menemukannya dalam kurikulum sekolah atau univesitas.
Mengapa? Karena kurikulum sekolah tidak dirancang untuk membuat lulusannya menjadi kaya ( wealthy ); kurikulum sekolah hanya dirancang untuk menjadikan lulusannya patuh ( compliant ).
Oleh: Fredy Sumendap, CFA
Sumber : IPS