Journalism Database & Technology  
 
 
News & Opinions | tips

Tuesday, January 24, 2017       20:26 WIB
`Beli Murah, Jual Mahal`: Bukan Soal Gampang
Dari sekian banyak nasihat dalam industri keuangan, ungkapan yang paling populer adalah “beli ketika harga rendah dan jual saat harga mahal” (buy low, sell high). Meskipun terkesan sederhana, namun kenyataannya sangat rumit.

Jangan Sekedar Ikut-ikutan 

Dalam filosofi investasi, membeli ketika harga rendah dikenal sebagai value investing (berinvestasi berdasarkan nilai). Konsep dasar dari value investing adalah membeli instrumen ketika sedang terjadi “obral”. Itu berarti, membeli ketika orang lain sedang banyak menjual (dan harganya turun), begitu sebaliknya. Seorang investor pemburu nilai murah (bargain-hunting value) akan mencari perusahaan yang dinilai sehat - apapun alasannya -  yang nilainya sudah sangat jauh di bawah harga wajarnya (undervalue). Seorang investor cerdas (smart value investor) akan membeli instrumen investasi ketika harga rendah, dan kemudian dengan sabar menunggu “kawanan” investor lain untuk memburu instrumen yang sama yang harganya dinilai murah. Sayangnya, sebagian besar investor cenderung bertindak sebaliknya. Kita cenderung mengikuti tren dan ikut-ikutan “kawanan” itu.

Terkesan Mudah, Mengapa Begitu Sulit?

Bagian terbesar dari berinvestasi cerdas bersifat psikologis, grafik di bawah ini mengilustrasikan salah satu dari banyak aspek psikologis yang kerap menghalangi investor. Mungkin kita menginginkan untuk membeli ketika harga sedang murah dan menjualnya kembali ketika harga menjadi mahal, tapi hal itu seringkali berlawanan dengan insting kita dan terlihat bias. Ketika harga saham sedang jatuh, kita justru membuangnya. Ketika harga saham sedang tinggi, kita malah membelinya. Kita menjual saham perusahaan ketika harganya sedang jatuh karena kita takut merugi; kita membeli saham ketika harganya sedang naik karena kita khawatir akan kehilangan kesempatan. Artinya, banyak investor yang tidak cukup piawai untuk menyadari kapan suatu instrumen investasi itu berharga “cukup” tinggi atau rendah.

Adakalanya, berinvestasi seperti terasa seperti terperangkap ke dalam pasir hisap: semakin banyak yang kta lakukan dan semakin kuat kita berusaha, semakin dalam kita terbenam. Perlu upaya untuk mengatasi bisa psikologis yang sering mencegah kita untuk bertindak berdasarkan kepentingan kita yang terbesar. Sudah sifat manusia, contohnya, untuk terus berbuat kesalahan yang sama berulang-ulang, atau tidak mau melepaskan saham-saham yang dimiliki ketika kita harus harus mengabaikan bias kedekatan atau efek disposisi.

Sasaran dan Toleransi Risiko

Jadai apa yang bisa dilakukan untuk menghindari perangkap ketika mencoba membeli ketika harga rendah dan menjual saat harga tinggi?

  1. Memahami sasaran dan toleransi risiko: sebelm memulai berinvestasi, sangat penting untuk memahami apa yang ingin Anda capai dan seberapa besar risiko yang masih bisa membuat Anda tetap merasa nyaman. Setelah mengetahuinya, Anda bisa memulai denga membuat rencana investasi yang tepat untuk Anda dan cukup nyaman untuk menjaga Anda dari dorongan untuk membeli ketika harga tinggi dan menjual dengan panik ketika harga rendah.
  2. Hindari penetapan target waktu: daripada mencoba untuk menetapkan waktu investasi dengan sempurna dan menghabiskan setiap sen dengan target waktu tertentu, lebih baik berfokus pada diversifikasi portofolio saham dan obligasi yang memberi peluang untuk mendapatkan hasil terbaik dalam jangka panjang.
  3. Mendayagunakan sumber daya: mempunyai rencana keuangan yang bagus dan portofolio yang terdiversifikasi menjadi tidak relavan jika Anda tidak menaati rencana tersebut. Mewaspadai kemungkinan adanya perangkap adalah langkah awal yang baik. Mempunyai penasihat keuangan yang bagus, juga merupakan langkah yang baik. Pastikan bahwa mereka hanya berhak mendapatkan upah sehingga hanya kepentingan Anda lah yang seharusnya ada dalam setiap nasehat mereka.
Jika semua orang membeli ketika harga rendah dan menjual saat harga tinggi, maka tidak akan ada harga tinggi atau rendah karena harga pasar akan mengalami koreksi secara berkelanjutan. Pemburu harga murah memang ada dan kadangkal pilihan paling bijak adalah memastikan adanya pendapatan. Rencana keuangan jangka panjang paling aman, adalah memehami sasaran dan toleransi risiko, kemudian membuat rencana investasi yang dibangun berdasarkan keuntungan dalam jangka panjang, ketimbang secara terus menerus berusaha mengantisipasi pasar.

Sumber : www.investopedia.com


 





loading.. loading.. loading..