Journalism Database & Technology  
 
 
News & Opinions | economy

Monday, July 17, 2017       17:32 WIB
Target Penurunan Gini Ratio Dan Kemiskinan Sulit Dicapai, Bila....

Ipotnews - Pemerintah akan sulit mencapai target penurunan gini ratio dan menurunkan angka kemiskinan bila tidak memperhatikan beberapa faktor penghambat yang telah membuat ketimpangan pengeluaran masyarakat beberapa tahun ini relatif stagnan.

Peneliti Institute for Development on Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, di Jakarta, Senin (17/7) berpendapat untuk menurunkan tingkat gini ratio memang tidak mudah dan ada beberapa kendala yang harus dihadapi pemerintah.

Kalau dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS), kata dia, total penduduk miskin secara nasional pada bulan Maret 2017 naik 9.900 orang. Dengan kenaikan yang signifikan jumlah orang miskin di perkotaan yang mencapai 188,19 ribu, namun di perdesaan menurun 181,29 ribu orang.

"Ini karena lapangan kerjanya di desa berkurang drastis. Ada migrasi kemiskinan ke kota. Faktor berikutnya adalah soal pelemahan daya beli yang dirasakan masyarakat menengah bawah," kata Bhima.

Jika gini ratio Maret 2017 ini sebesar 0,393 atau rekatif tidak terlalu ada perubahan dibanding September 2016 yang sebesar 0,394, artinya terjadi stagnansi. Faktor utama stagnasi gini rasio, kata dia, ada pada upaya penurunan angka kemiskinan belum maksimal.

"Ini sebabnya soal anggaran artinya program belanja sosial dampaknya belum dirasakan. Sementara itu pada awal tahun 2017 perindistribusian beras sejahtera (rastra) mengalami hambatan sehingga konsumsi masyarakat miskin rendah," kata Bhima.

Lebih lanjut Bhima menyatakan, di sisi lain inflasi dari komponen listrik memukul daya beli. Untuk itu perlu evaluasi penyaluran dan waktunya dalam pemberian jaring pengaman berupa bantuan sosial sangat penting, jangan terlambat seperti kasus rastra.

"Padahal angkanya naik (penyaluran rastra) secara signifikan. Kondisi ini kalau dibiarkan maka target kemiskinan bisa 10 persen dan gini rasio 0,38 di 2018 sulit tercapai," ujarnya.

Bhima menjelaskan, pemerintah juga harus menjaga harga pangan tetap stabil dan administered prices harus diusahakan jangan sampai naik dulu hingga akhir tahun ini sebagai upaya menjaga inflasi agar daya beli masyarakkat tidak tergerus dan masyarakat miskin tidak semakin terkena dampaknya.

"Saya khawatir dari sisi daya belinya memang rendah tahun ini terutama di menengah ke bawah. Jadi paling realistis sampai akhir tahun kalau pun turun di angka 10,6 persen," tuturnya.

(Fitriya)






 





loading.. loading.. loading..