Journalism Database & Technology  
 
 
News & Opinions | markets | stocks

Monday, November 14, 2016       17:54 WIB
Sentimen Trump Berpeluang Dongkrak Saham Tambang Lebih Tinggi Lagi

Ipotnews - Rebound harga saham tambang batubara dan nikel, berpeluang semakin menguat, didongkrak sentimen positif terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS ke 45.

Menurut pantauan Bloomberg, sepanjang awal kuartal ini harga saham sektor pertambangan di Indonesia sudah meningkat 22 persen, jauh di atas tren pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru melorot 5 persen. Akhir pekan lalu, IHSG anjlok hingga 4 persen, terbesar dalam 3 tahun, dengan hanya mencatatkan kenaikan di sektor pertambangan dan sektor pertanian.

Aksi jual saham terus berlangsung hingga hari ini (Senin,14/11), IHSG ditutup anjlok 2 persen. Naiknya Trump ke kursi presiden AS memukul harga saham dan mata uang emerging market, karena diikuti spekulasi bahwa Federal Reserve AS akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari ekspektasi, untuk mengimbangi inflasi jika Trump menerapkan rencananya untuk mendongkrak belanja.

Ekspektasi kenaikan The Fed rate yang lebih cepat, mendorong arus keluar dana asing dari negara berkembang sehingga memperkuat dolar. Kenaikan dolar diantisipasi akan menambah pendapatan perusahaan tambang Indonesia yang menjual komoditas tambangnya dalam dolar. Goldman Sachs Group Inc. menilai hasil tambang nikel akan menerima manfaat terbesar dari kenaikan kurs dolar dan pembangunan infrastruktur di AS.

“Kemenangan Trump akan meningkatkan proyeksi komoditas produsen dan risiko geopolitik yang lebih tinggi secara global dapat mendorong harga energi dan komoditas menjadi lebih tinggi,” kata Jemmy Paul, direktur investasi PT Sucorinvest Asset Management, di Jakarta. “Penguatan dolar AS akhir-akhir ini akan memperbaiki dasar perusahaan pertambangan dan komoditas,” imbuh  Paul, seperti dikutip Bloomberg, (14/11).

Harga saham Perusahaan tambanga PT Adaro Energi Tbk. [ADRO 1,630 -50 (-3,0%)] dan penyedia jasa pertambangan PT United Tractors Tbk. [UNTR 21,775 275 (+1,3%)], masing-masing melaju 38 persen dan 27 persen, sejak akhir September lalu. Bahkan ADRO muncul sebagai saham berkinerja terbaik pada indeks MSCI Asia Pacific.

Harga saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk. [ITMG 15,800 0 (+0,0%)] dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. [PTBA 11,550 0 (+0,0%)], yang juga menghasilkan batubara masing-masing melonjak 62 persen dan 36 persen. Sementara itu saham PT Vale Indonesia Tbk. [INCO 3,500 0 (+0,0%)], produsen nikel, naik 15 persen. Data Bloomberg menunjukkan, produsen dua komoditas tersebut mendominasi indeks saham sektor pertambangan di bursa saham Jakarta.

Paul mengekspektasikan, harga rata-rata batubara akan mencapai di atas US$70 per ton pada 2017. Sebelumnya, Bob Kamandanu, bos perusahaan perdagangan komoditas, Trafigura Group memperkirakan harga batubara Newcastle akan bertahan di kisaran US$80 - US$90 pada tahun depan. Namun ia memperingatkan, harga tersebut akan tergantug pada kebijakan China, yang saat ini masih mengontrol ketat produksi batubaranya.

Alan Richardson, manajer investasi Samsung Asset Management Ltd., Hongkong, menilai para penambang batubara Indonesia akan “menghadapi koreksi” dalam satu-dua bulan mendatang. “Harga batubara sudah jauh melebihi target harga batubara jangka panjang pemerintah China,” ujarnya.

Aberdeen Asset Management menilai reli harga saham pertambangan akan berlanjut karena kenaikan harga membutuhkan waktu untuk dapat mendongkrak pendapatan perusahaan. Meskipun mengalami kenaikan pada tahun ini, indeks harga saham pertambangan masih mempunyai rasio harga terhadap pendapatan (price-to-earning ratio [PER]) selama 12 bulan terakhir hanya sebesar 4,8, jauh di bawah PER IHSG yang mencapai 14,3.

“Masih ada ruang untuk meningkat sedikit lebih tinggi setelah terlihat pada penerimaan [perusahaan],” kata Bharat Joshi, direktur Aberdeen Asset, Jakarta. Ia mengaku masih menambah koleksi UNTR, ITMG, dan INCO, yang menurutnya mempunyai valuasi yang tetap menarik. (Bloomberg/kk)


 





loading.. loading.. loading..