Journalism Database & Technology  
 
 
News & Opinions | industries | Basic Industry

Wednesday, January 25, 2017       13:51 WIB
Presiden: Perhitungan Harga Gas Ciptakan Nilai Tambah

Jakarta - Presiden Joko Widodo meminta agar perhitungan harga gas betul-betul dikalkulasikan kembali secara konkret, termasuk dari sisi dampaknya bagi daya saing produk Indonesia sekaligus penciptaan nilai tambah bagi industri hilir di Tanah Air.

Hal itu disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat membuka Rapat Terbatas dengan Topik Harga Gas untuk Industri di Kantor Presiden Jakarta, Selasa (24/1). "Untuk itu, saya minta soal harga gas ini betul-betul dihitung, dikalkulasi lagi, konkret dampaknya bukan hanya pada peningkatan daya saing produk-produk kita, tapi juga berdampak konkret pada penciptaan nilai tambah bagi pengembangan industri hilir," tuturnya.

Pada kesempatan itu, Presiden juga menyatakan ingin menegaskan kembali hal yang pernah disampaikannya dalam rapat bertopik yang sama pada 4 Oktober 2016. Menurut dia, gas bumi harus dilihat bukan semata-mata sebagai komoditas tapi harus juga dilihat sebagai modal pembangunan yang memperkuat industri nasional di Tanah Air. "Dan mendorong daya saing produk-produk industri kita di dunia," ujarnya.

Presiden pun meminta laporan langsung dari jajarannya termasuk dari Menteri Perindustrian dan Menteri ESDM mengenai pelaksanaan Perpres Nomor 40 Tahun 2016 tentang penetapan harga gas bumi. "Apakah ada kendala-kendala di lapangan? Terutama pada 7 bidang industri yanag ditetapkan sebagai pengguna penurunan harga gas dan saya dapat informasi bahwa sudah ditetapkan penurunan harga gas untuk tiga industri yakni pupuk, baja, dan metrokimia," katanya.

Sementara itu ia menambahkan, untuk empat bidang industri lainnya, "oleochemical" (produk yang dihasilkan dari lemak/minyak nabati maupun hewani), kaca, keramik, dan sarung tangan karet belum terakomodasi.

Pelaku industri keramik yang tergabung dalam Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) tengah menantikan penurunan harga gas tahun ini. "Industri keramik menunggu keputusan pemerintah menurunkan harga gas. Harapan kami bulan depan harga gas turun," kata Ketua Umum Asaki Elisa Sinaga. Elisa menyampaikan, harga gas yang digunakan industri keramik saat ini mencapai 8,1 dollar AS per MMBTU di Pulau Jawa bagian barat dan 9,1 dollar AS per MMBTU di Pulau Jawa bagian timur.

Maka dari itu, Elisa berharap, harga gas untuk industri keramik bisa turun hingga 6-7 dollar AS per MMBTU dengan harga yang sama di seluruh daerah. "Bagusnya memang sama. Karena orientasi pasarnya sama. Kalau terjadi perbedaan, daya saingnya kurang baik," kata Elisa. Ia menyampaikan, gas digunakan industri keramik sebagai energi yang sifatnya prioritas dan tidak dapat digantikan dengan energi lain, karena akan mempengaruhi kualitas produksi.

Adapun penggunaannya berkontribusi sebesar 22-38 persen terhadap seluruh biaya produksi. "Secara umum 33-35 persen. Bahkan ada yang 38 persen. Kalau genteng keramik itu berkontribusi 40 persen," ungkapnya. Ia memprediksi, industri properti akan mulai tumbuh selepas kuartal I/2017 atau pada Bulan April. Sehingga, diharapkan penurunan harga gas dapat terealisasi sebelum April 2017.

Menurutnya, penurunan harga gas untuk industri keramik dapat mendongkrak produktivitas dan daya saing industri di dalam negeri. Sehingga, industri keramik dalam negeri dapat memanfaatkan potensi pasar yang mulai membaik tersebut. "Kalau tidak, ini bisa dimanfaatkan oleh produk asing. Penurunan harga gas membuat semangat produksi bangkit kembali. Karena biaya produksinya bisa turun," ungkap Elisa.

Bagi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, harga gas yang murah mampu menimbulkan efek berganda yang berpengaruh positif bagi perekonomian nasional, demikian disampaikan "Efek berganda tersebut, di antaranya mendorong pertumbuhan industri, peningkatan serapan tenaga kerja, dan penghematan devisa," kata Airlangga, beberapa waktu lalu. Menurut Airlangga, dengan harga gas murah, sektor industri prioritas dapat tumbuh maksimal dan mendukung berkembangnya sektor yang berpotensi sebagai substitusi impor, seperti industri polyethylene dan polypropylene di sektor kimia.

Pada 2015, penggunaan gas bumi untuk sektor industri mencapai 2.280 million metric standard cubic feet per day (MMscfd). Adapun pembagiannya, yakni untuk bahan baku industri pupuk dan petrokimia sebesar 1.086 MMscfd, untuk kontak langsung dengan produk di industri keramik, kaca, dan semen sebanyak 337 MMscfd, serta sebagai energi untuk industri lain sebesar 857 Mmscfd. Airlangga mengatakan, idealnya harga gas untuk industri dipatok pada harga 4-5 dollar AS per million metric british thermal unit (MMBTU). “Namun, kondisinya industri kita membeli gas pada kisaran harga 7-10 dollar AS per MMBTU bahkan ada yang mencapai 12-14 dollar AS per MMBTU,” ungkapnya. bari

http://www.neraca.co.id/article/80298/presiden-perhitungan-harga-gas-ciptakan-nilai-tambah

 

 

Sumber : NERACA.CO.ID


 





loading.. loading.. loading..