Journalism Database & Technology  
 
 
News & Opinions | markets | asuransi

Friday, February 17, 2017       07:32 WIB
Kredit Konsumsi Primadona 2017

Apa langkah strategis bank dalam menghadapi tantangan 2017? Segmen apa yang bakal menjadi primadona pada industri perbankan nasional pada 2017?

Pemerintah telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi 5,1% pada 2017 tidak jauh berbeda dari target pada 2016. Sementara Bank Indonesia (BI) menetapkan target pertumbuhan ekonomi berkisar antara 5,0% dan 5,4%.

Ekonomi belum akan berubah secara signifikan. Mengapa? Karena ekonomi global masih belum pulih benar. Terlebih setelah terpilihnya Donald J Trump dengan janji dalam kampanye yang controversial seperti proteksionisme perdagangan global terutama terhadap Tiongkok. Belum lagi rencana kenaikan suku bunga acuan AS alias The Fed Fund Rate (FFR) pada Sidang Dewan Gubernur Bank Sentral AS (Federal Open Market Commitee/FOMC) pada 13-14 Desember 2016. Padahal, efek keluarnya Inggris (Brexit) dari Uni Eropa belum usai.

Itu semua akan memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi pada 2017. Apa efeknya bagi industri perbankan? Sejatinya, pertumbuhan kredit perbankan nasional merupakan cermin pertumbuhan ekonomi nasional. Adalah benar bahwa bank papan atas masih menorehkan laba di tengah perlambatan ekonomi sampai kuartal III/2016. Coba kita amati kinerja mereka.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi bank nomor wahid secara kuantitatif dalam perolehan laba bersih Rp 18,62 triliun per September 2016 sekalipun hanya naik 1,84%. Kinerja unggul itu disusul Bank Central Asia (BCA) yang mampu meningkatkan laba menjadi Rp 14,65 triliun (naik 13,38%), Bank Mandiri dengan laba Rp 11,63 triliun (turun 19,50%) dan Bank Negara Indonesia (BNI) Rp 7,40 triliun atau naik 27,38% dibandingkan dengan periode sebelumnya September 2015.

Kemudian, Bank Danamon Indonesia mampu meningkatkan laba menjadi Rp 1,88 triliun atau naik 8,11%, Bank Tabungan Negara (BTN) Rp 1,62 triliun (32,65%), dan Bank Panin Rp 1,57 triliun (42,47%). Tak mau kalah, Bank CIMB Niaga sanggup meraih laba Rp 1,27 triliun (432,77%), Maybank Indonesia Rp 1,08 triliun (167,99%) dan sayangnya Bank Permata merugi Rp 1,24 triliun (turun 231,46%) Data itu merupakan gambaran keperkasaan bank papan atas.

Langkah Strategis

Lantas, langkah strategis apa bagi bank dalam menghadapi tantangan 2017? Tegasnya, segmen apa saja yang bakal disasar? Pertama, pendapatan non bunga atau pendapatan dari komisi. Dapat dipastikan hingga kuartal I/2017, ekonomi masih terkendala oleh kondisi ekonomi global yang sarat dengan ketidakpastian (uncertainty).

Padahal sebaliknya, pelaku bisnis senantiasa menghindari ketidakpastian. Akibatnya, pelaku bisnis masih belum berani melakukan ekspansi habis-habisan atau tetap melakukan bisnis seperti biasa (as usual). Coba kita tengok kinerja kredit menurut penggunaannya. Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang terbit 14 November 2016 menunjukkan bahwa kredit modal kerja naik 4,23% dari Rp 1.891,54 triliun per September 2015 menjadi Rp 1.971,58 triliun per September 2016.

Sementara itu, kredit investasi naik lebih tinggi 9,13% dari Rp 985,35 triliun menjadi Rp 1.075,27 triliun mengalahkan kredit modal kerja. Data tersebut merupakan simbol bahwa pelaku bisnis mulai melakukan ekspansi bisnis yang cukup kencang. Ini pertanda baik bahwa bisnis akan semakin melaju pada 2017. Harapan kita, 2017 merupakan tahun titik balik bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas.

Tentu saja bank tidak mau mati langkah dalam melakukan bisnis. Untuk menyeimbangkan pendapatan bunga (interest income), maka bank terus menggebrak pendapatan non bunga (non interest income) atau pendapatan dari komisi (fee-based income). Apa saja? Lirik saja, bank rajin memberikan bukan hanya bunga yang menguntungkan bagi penabung dan deposan tetapi juga mengenakan biaya administrasi. Itu disebut pendapatan CASA [436 8 (+1,9%)] (current account and saving account).

Sarinya, bank terus menggeber pendapatan dari rekening giro, tabungan dan deposito yang memberikan pendapatan yang gurih. Namun kalau saldo tabungan Anda minimal dan pasif, maka saldo itu lama kelamaan akan habis tergerus biaya adminsitrasi sekitar Rp 10 ribu per bulan. Pendapatan non bunga itu juga ditambah dengan pendapatan dari komisi. Sebagai contoh konkret, cash management, wealth management, internet banking, phone banking, SMS banking, mobile banking dan ATM. Itu semua membawa pendapatan yang manis bagi bank dewasa ini.

Bukan hanya itu. Bank juga menyasar bancassurance (produk asuransi yang dipromosikan dan dijual melalui bank), transaksi perdagangan internasional (ekspor, impor, bank garansi) yang dikenal dengan trade finance. Belum lagi remitansi (remittances) atau kiriman uang terutama dari tenaga kerja Indonesia (TKI) yang sedang mendulang devisa di manca negara.

Ketiga jasa perbankan ini sungguh mengucurkan rezeki yang basah. Terutama remitansi yang akan makin mengucur deras pada masa Natal dan tahun baru 2017 apalagi menjelang Lebaran. Kelak, portofolio kredit dan non kredit bakal menjadi hampir sama 50-50%. Oleh karena itu, meskipun sedang musim kering kredit nasional, sebagian besar bank tetap mampu meraup laba tinggi.

Kedua, selain itu, bank juga mau tak mau wajib meningkatkan kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Karena Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 14/22/PBI/2012 mewajibkan bank untuk menyalurkan UMKM minimal 20% dari kredit produktif, yakni kredit modal kerja dan kredit investasi secara bertahap. Pada 2013-2014, persentase kredit sesuai dengan kemampuan, 2015 minimal 5%, 2016 minimal 10%, 2017 minimal 15% dan 2018 minimal 20%.

Target tersebut tampaknya mudah digapai. Tetapi itu bagi bank yang selama ini sudah akrab dengan segmen UMKM. Bagi bank papan atas, target itu justru bisa menjadi kendala tersendiri. Persentase 15% kredit UMKM pada 2017 bagi bank papan bawah tampak kecil. Namun bagi bank papan atas, jumlah itu besar mengingat portofolio kreditnya juga besar.

Lalu, apa yang akan terjadi? Bank papan atas lebih memilih tidak terjun langsung melainkan menggandeng bank papan bawah dan atau Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dalam bentuk kredit channeling. Namun model itu tidak berlaku bagi BRI yang menjadi pemimpin pasar (market leader) di segmen UMKM. Jangan lupa segmen itu menjanjikan margin yang tebal terlebih kredit mikro. Dengan bahasa lebih bening, baik bank kelas kakap dan bank kelas teri sama-sama meraih untung.

Harap catat terutama bank papan atas seperti bank umum kelompok usaha (BUKU) IV yang meliputi tiga bank pemerintah (Bank Mandiri, BRI, BNI) dan BCA akan mengerek kredit infrastruktur melalui sindikasi. Model kredit sindikasi itu bertujuan untuk mitigasi risiko dengan berbagi risiko (risk sharing) lantaran kredit infrastruktur menuntut dana tinggi dan bertenor jangka menengah dan panjang.

Ketiga, bank juga akan terus menggarap kredit konsumsi. Katakanlah, kartu kredit, kredit pemilikan rumah (KPR), kredit pemilikan apartemen (KPA), kredit kendaraan bermotor (KKB) dan kredit tanpa agunan (KTA). Lihat saja, kredit konsumsi naik 7,97% dari Rp 1.079,50 triliun per September 2015 menjadi Rp 1.165,53 triliun per September 2016.

Kenaikan kredit konsumsi itu hampir dua kali lipat kenaikan kredit modal kerja yang “hanya” 4,23%. Data itu menegaskan kredit konsumsi tak “mempan” terhadap perlambatan ekonomi. Maka, kredit konsumsi bakal menjadi primadona pendapatan, sebab kurang sensitif terhadap suku bunga. Artinya, meski kredit konsumsi menawarkan suku bunga tinggi, tetapi tetap saja laris manis. Namun ingat, bank wajib lebih selektif dalam menyalurkan kredit untuk mengerem laju kredit bermasalah (non performing loan/ NPL) yang mencapai 3,11% per September 2016.

http://id.beritasatu.com/home/kredit-konsumsi-primadona-2017/156656

 

 

Sumber : INVESTOR DAILY


 





loading.. loading.. loading..