Journalism Database & Technology  
 
 
News & Opinions | automotive

Sunday, March 18, 2012       17:38 WIB
Konverter Kit LPG Buatan Koperasi IKM Siap Saingi Produk Impor

Ipotnews – Seiring rencana perapan program konversi bahan bakar minyak ke bahan bakar gas, sekelompok industri kecil menengah (IKM) yang tergabung dalam koperasi IKM otomotif akan memproduksi konverter kit untuk gas cair (LPG/liquified petroleum gas).

Dirjen IKM Kementerian Perindustrian, Euis Saedah mengatakan, anggota koperasi IKM otomotif itu telah menemukan teknologi konverter kit khusus untuk LPG. Mereka siap untuk memproduksi dalam skala besar, yakni 2000 unit pada tahun ini. Konverter kit buatan koperasi IKM ini bisa menjadi alternatif pengganti konverter kit impor yang telah diwacanakan pemerintah.

"Konverter kit itu namanya KIHO, ditemukan oleh sebuah IKM anggota koperasi otomotif, dan akan di-launching 28 Maret nanti. Koperasi ini anggotanya 70-an IKM. Mereka ingin sekali bisa berperan di dalam produksi nasional. Jangan sampai keduluan konverter kit impor. Hasil riset dan segala macam ternyata bagus dan ramah lingkungan," kata Euis, dalam Workshop Pendalaman Kebijakan Industri, di Hotel Aquila, Bandung, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Euis menambahkan, harga konverter kit tersebut sangat kompetitif yakni sekitar Rp7 juta per unit, lebih rendah dibanding harga konverter kit impor yang diwacanakan antara Rp12-15 juta. "Konverter kit itu bisa menggunakan gas LPG tabung 3 kilogram atau 12 kilogram, jadi bisa dibeli dimana saja, tidak harus antri. Selama ini kalau mau mengisi gas, mobil harus antri di SPBG karena tabungnya menempel di mobil,” ujarnya.

Meski masih enggan menyebut nama koperasi IKM otomotif itu, Euis memastikan bahwa konvertir kit buatan koperasi itu menggunakan komponen lokal. "IKM-nya di Jawa, sebagian Jakarta, Bandung, Jawa Tengah, dan lainnya. Jadi nanti IKM-nya yang memproduksi, dan koperasinya yang memasarkan," katanya.

Ke depannya, lanjut Euis, akan dilakukan pengurusan payung hukum produk konverter kit lokal itu, karena sudah dilakukan pengujian, dan tinggal dilakukan uji penggunaan melalui BPPT. “Saya juga akan coba apakah uji itu bisa dilakukan di balai besar yang ada di perindustrian, karena di BPPT antriannya nomor 60. SNI-nya sedang kita coba susun, sambil jalan. Tapi jika dia sudah punya standard sendiri yang mengacu ke standar internasional, ya nggak masalah" jelasnya. (Fitriya)


 





loading.. loading.. loading..