Journalism Database & Technology  
 
 
News & Opinions | markets | stocks

Tuesday, August 07, 2012       08:56 WIB
Inilah Indeks Saham Sektoral Paling Prospektif di 2012


(Bloomberg)

Ipotnews – Indeks saham sektor properti, infrastruktur dan perdagangan dan jasa menjadi tiga besar sektor yang mengalami kenaikan terbesar secara persentase dibandingkan indeks saham sektoral lainnya.  Khusus untuk saham sektor properti, kebijakan pemberlakuan kenaikan unag muka untuk kredit perumahan rakyat (KPR) tidak berdampak signifikan terhadap pertumbuhan emitennya.

Indeks sektor properti tetap mampu tumbuh hingga 24,74% dan tercatat sebagai indeks dengan pertumbuhan tertinggi di antara indeks lainnya secara year-to-date. Sementara indeks sektoral infrastruktur berada di posisi kedua sebagai indeks teraktif dengan pertumbuhan 20,935 dibandingkan posisi di akhir 2011.

Padahal, sub sektor telekomunikasi mencatat pertumbuhan yang kurang baik di semester pertama 2012. Sebagai contoh, laba periode berjalan yang diatribusikan ke entitas induk dari lima perusahaan telekomunikasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan 13,64% menjadi Rp 6,33 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 7,35 triliun.

Kelima emiten sub telekomunikasi tersebut adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk [TLKM 2,340 5 (+0,2%)], PT Indosat Tbk [ISAT 3,875 25 (+0,6%)], PT XL Axiata Tbk [EXCL 4,975 -25 (-0,5%)], PT Bakrie Telecom Tbk [BTEL 50 0 (+0,0%)], dan PT Smartfren Tbk [FREN 61 -1 (-1,6%)]

Hanya TLKM dan EXCL yang mendapatkan keuntungan di semester pertama 2012 karena tiga emiten lainnya yakni ISAT, BTEL, dan FREN mengalami rugi bersih.

Laba Telkom sebesar Rp 5,94 triliun dan laba EXCL sebesar Rp 1,46 triliun. Sedangkan rugi bersih ISAT sebesar Rp 131,813 miliar, rugi bersih BTEL sebesar Rp 179,69 miliar  dan rugi bersih FREN sebesar Rp 674,29 miliar. Kerugian yang diterima emiten telekomunikasi tersebut antara lain disebabkan karena penurunan pendapatan juga didorong oleh kerugian selisih nilai tukar.

Sedangkan dua sektor yang mengalami kinerja kurang baik di sepanjang 2012 adalah sektoral tambang dan aneka industri. Level indeks sektor tambang turun 20,94% secara year-to-date dan level indeks sektor aneka industri turun 4,28%  jika dibandingkan posisi di akhir tahun lalu.

Arief Fahruri, Research Analyst PT Mega Capital, mengatakan melemahnya harga rata-rata saham emiten pertambangan karena faktor menurunnya harga komoditas dunia seiring dengan terganggunya perekonomian global akibat krisis utang Eropa.  

Sedangkan turunnya level indeks industri dasar karena adanya kebijakan kenaikan pembayaran uang muka (down payment) kredit kendaraan bermotor.  

“Kebijakan kenaikan DP tersebut memang menekan sektor industri, sehingga berdampak terhadap kinerja saham yang menjadi penggerak indeksnya seperti saham dari PT Astra International Tbk [ASII 7,900 50 (+0,6%)] yang memperngaruhi penurunan level Indeksnya,” tambah Arief, Senin (6/8/2012).

Meski demikian, secara keseluruhan, investasi di pasar saham Indonesia masih akan prospektif sampai dengan akhir tahun, misalnya investasi di saham sektor properti. “Alasannya karena dalam di akhir 2012 dan tahun depan pertumbuhan ekonomi masih akan di atas Produk Domestik Bruto (PDB),” tutup Arief.

 (Rheza)

Tabel Kinerja Indeks Sektoral

No

Sektor

^% YTD

1

Properti

24.74%

2

Infrastruktur

20.93%

3

Perdagangan & Jasa

19.30%

4

Barang Konsumsi

14.71%

5

Industri Dasar

8.09%

6

Perbankan & Keuangan

7.37%

7

Agribisnis

6.87%

8

Aneka Industri

-4.28%

9

Tambang

-20.94%

Sumber : Bursa Efek Indonesia

 


 





loading.. loading.. loading..