Journalism Database & Technology  
 
 
News & Opinions | Company News

Wednesday, October 12, 2011       09:11 WIB
Harga Membaik, Timah Siap Ekspor Lagi

JAKARTA (IFT) PT Timah Tbk (TINS) [1,390 10 (+0,7%)], badan usaha milik negara di bidang pertambangan, siap mencabut penghentian ekspor seiring membaiknya harga logam timah dunia. Sejak produsen timah di Indonesia sepakat menghentikan ekspor pada 1 Oktober, harga logam timah dunia menunjukkan tren naik dan mendekati level US$ 23 ribu per ton.

Abrun Abubakar, Sekretaris Perusahaan Timah, mengatakan dampak penghentian ekspor ternyata cukup signifikan untuk mengembalikan harga ke posisi yang diinginkan. "Itu terbukti dari terus naiknya harga timah dunia," ujarnya, Selasa.

Timah berencana kembali melakukan ekspor ketika harga di pasar internasional mencapai US$ 24 ribu per ton, level yang dinilai memiliki margin yang diinginkan perseroan. "Produksi timah itu menimbulkan dampak lingkungan yang cukup besar. Jadi kalau marginnya kecil, kebutuhan rehabilitasi dari area bekas tambang sulit terpenuhi," kata Abrun.

Timah, eskportir terbesar di dunia, juga akan melakukan renegosiasi kepada konsumen yang sempat membeli dengan harga di bawah ekspektasi perseroan. Abrun tidak menjelaskan lebih detail mengenai harga maupun volume penjualan yag akan direnegosiasi. Dia hanya mengatakan peran para spekulan yang menyebabkan harga turun akibat maraknya spekulasi harga di pasar spot.

Timah sebelumnya mengindikasikan akan menjual kembali produksinya jika harga timah dunia berada di kisaran US$ 23 ribu-US$ 24 ribu.

Rudy Irawan, Wakil Ketua Asosiasi Industri Timah, mengatakan beberapa pengusaha sepakat melepas timah kembali ke pasaran ekspor saat harganya telah menyentuh level US$ 24 ribu per ton. Setiap perusahaan sebenarnya memiliki patokan yang berbeda untuk melepas ekspor timah.

"Bagi perusahaan besar seperti Timah US$ 23 ribu per ton sudah cukup. Namun, untuk kebanyakan perusahaan kecil US$ 25 ribu per ton itu level yang aman, semua bergantung pada biaya produksi," ujarnya.

Menurut Rudy, dampak dari penghentian ekspor ini cukup berpengaruh, harga timah di London Metal Exchange beranjak naik. "Saat pasar mengetahui tidak ada kapal yang mengantarkan timah, maka responnya positif. Harga timah kembali mengarah ke US$ 23 ribu-US$ 24 ribu," katanya.

Rudy mengakui penghentian sementara ekspor timah menyebabkan penumpukan di stockpile. Jika penghentian ekspor telah dihapus, pengusaha timah tidak akan menjual seluruh persediaan yang ada di stockpile karena akan berpengaruh terhadap harga. "Kami akan jual secara berkala dengan jumlah yang sesuai dibutuhkan. Kalau dilepas semua, harga akan kembali jatuh," ujarnya.

Berdasarkan data Bloomberg, harga timah dunia turun 13% selama Agustus dan 17% pada September sehingga sempat menyentuh US$ 17 ribu per ton, terendah sejak Juli 2010. Padahal, harga rata-rata logam timah dunia di semester I mencapai US$ 29.337, dengan harga tertinggi US$ 33.600 per ton dan terendah US$ 24.600 per ton. Penurunan tajam harga timah dalam dua bulan terakhir membuat produsen di Indonesia sepakat menghentikan ekspor sampai harga kembali ke level yang menguntungkan.

Ekspor timah Indonesia pada September turun karena eksportir sengaja mengurangi penjualan akibat turunnya harga. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, volume ekspor timah batangan pada September turun 38,8% menjadi 5.233,06 ton dari bulan sebelumnya 8.559,61 ton. Nilai ekspor timah juga turun 41,5% menjadi US$ 115,61 juta dibandingkan Agustus sebesar US$ 197,74 juta.

"Mereka (eksportir) menunggu sampai harga US$ 24 ribu-US$ 25 ribu per ton baru melepas stoknya untuk dijual," kata Sri Nastiti Budiarti, Direktur Ekspor Barang Tambang Kementerian Perdagangan.

Menurut Departemen Riset IFT, harga komoditas logam termasuk nikel dan timah, menunjukkan kenaikan sejak awal Oktober seiring kenaikan harga minyak mentah sebesar 9,12% dari US$ 77,61 per barel menjadi US$ 84,69 per barel. Namun, kenaikan harga timah lebih signifikan, yaitu 12,3% dan harga nikel hanya menguat 1,85%. Hal ini mengindikasikan kenaikan harga timah juga dipicu oleh langkah produsen di Indonesia menghentikan ekspor.

Indonesia tercatat sebagai pengekspor timah terbesar dunia dengan porsi sekitar 80% sehingga terhentinya pasokan akan berdampak signifikan terhadap pasar timah global. Langkah Timah dan produsen lainnya menghentikan ekspor relatif berhasil mencegah penurunan lebih dalam serta menjaga kestabilan harga agar tidak dipengaruhi aksi spekulan.

Ekspor timah Indonesia tahun lalu mencapai 92.486 ton senilai US$ 1,71 miliar atau meningkat 1,88% dibandingkan 2009 sebanyak 90.779 ton.

Wednesday, 12 10 2011

(INDONESIA FINANCE TODAY : Harga Membaik, Timah Siap Ekspor Lagi )

 





loading.. loading.. loading..