Journalism Database & Technology  
 
 
News & Opinions | industries | Basic Industry

Wednesday, November 02, 2016       09:51 WIB
Daya Saing Industri Menguat

JAKARTA. Penurunan harga gas industri diyakini dapat meningkatkan daya saing produk lokal dari hantaman barang impor berharga murah karena ongkos produksi yang jauh lebih rendah.
 
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan harga jual pupuk akan turun sekitar US$70 per ton jika harga gas US$4 per million metric british thermal unit (MMBtu). “Apakah harga gas berpengaruh terhadap daya saing, jawabannya iya. Kalau harga gas PT Pusri Palembang US$6 per MMBtu, biaya produksinya US$250 per ton, padahal harga urea impor US$200 per ton,” ujarnya dalam acara Rakernas Kadin, Selasa (1/11).
 
Namun jika harga gas US$4 per MMBtu, lanjutnya, biaya produksi yang dikeluarkan hanya US$180 per ton. Dia meyakini dengan adanyapenurunan harga gas di  sektor pupuk akan meringankan pengeluaran subsidi bagi pemerintah. Surplus penerimaan Negara akan bertambah dengan pengurangan subsidi dari Pupuk urea dan PLN minimal sebesar Rp11,8 triliun.
 
Industri pupuk dan industri petrokimia dengan harga gas US$6,28 – US$16,7 per MMBtu menyebabkan pertumbuhannya negatif pada 2015 karena sebesar 70% biaya produksi termakan oleh biaya gas. Adapun untuk industri baja, harga gas yang tidak kompeti- tif telah memaksa PT Krakatau Steel Tbk. menghentikan fasilitas
produksi baja slab dan billet .
 
“Kalau harga gas US$4 itupun harga pokok pas-pasan, bagi Krakatau Steel harga US$3 baru bisa jalan lagi. Kemudian pulp dan kertas, walaupun pulp nomor 6 di dunia dan kertas nomor 9, kita sebetulnya punya potensi lebih dari itu. Dengan harga gas US$10 masih berat meski dikompensasi dengan hutan tanaman industri,” ujarnya.
 
Di samping itu, industri keramik sebagai industri dengan banyak pemain di kelas menengah, harga gas sekitar US$8,62 per MMBtu tidak akan bersaing dengan baja impor dari China kualitas rendah sekalipun. Airlangga menyatakan saat ini produksi sarung tangan karet nasional mencapai 1 miliar unit,sementara Malaysia bisa 14 miliar unit. Dengan harga gas yang lebih murah di sana, industri dalam negeri langsung memindahkan pabriknya ke sana.
 
BAHAN BAKU
Ketua Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI) Dadang Heru Kodri mengatakan harga gas yang paling tepat untuk industri yang menggunakan gas sebagai bahan
baku tersebut adalah US$3 per MMBtu. Jika itu tercapai, dia yakin pendapatan negara akan bertam- bah karena anggaran subsidi akan berkurang. Menurutnya, penu-
runan harga gas sudah mendesak karena saat ini pasokan pupuk impor dari China ke Indonesia sudah mencapai 500.000 ton hingga Oktober lalu.
 
“Harga pupuk China US$161 –US$190 per ton urea, jadi mereka bisa jual sampai US$200 per ton dari FOB, kalau kita masih rata- rata US$250 per ton dengan harga
gas US$6 – US$7 per MMBtu,” terangnya. Sementara itu, Ketua Asosiasi Kaca Lembaran Indonesia (AKLI) Yustinus Gunawan mengatakan kebutuhan gas industri kaca men- capai 10,3 juta MMBtu pada 2016.
 
Menurutnya, dampak penurunan harga gas pada sektor terse- but akan meningkatkan kapasitas produksi kaca lembaran menjadi hampir 1,5 juta ton per tahun yang
sebelumnya hanya 600.000 ton per tahun. Dia optimistis penurunan harga gas akan menciptakan iklim investasi yang lebih positif seiring meningkatnya kepercayaan inves- tor lokal dan asing sehingga mau bangun tungku yang baru.
 
Menurut Kementerian Perindustrian, jika harga gas diturunkan menjadi US$4 per MMBtu, maka potensi penerimaan negara sebe- sar Rp53,86 triliun akan diganti- kan oleh penerimaan dari kinerja industri yang tumbuh hingga Rp85,84 triliun

http://koran.bisnis.com/read/20161102/447/598221/daya-saing-industri-menguat

 

 

Sumber : BISNIS.COM


 





loading.. loading.. loading..