Journalism Database & Technology  
 
 
News & Opinions | markets | stocks

Sunday, March 17, 2013       10:46 WIB
CPRO Akui Adanya Konflik Di Anak Usahanya

Ipotnews – Manajemen PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) akan segera mengklarifikasi peristiwa konflik horizontal antar petambak plasma di kawasan operasional anak perusahaannya, PT Centralpertiwi Bahari (CBP). Perseroan juga mengaku saat ini suasana di lokasi budidaya udang nasional ini menjadi tidak kondusif.

Corporate Secretary Central Proteinaprima [CPRO 50 0 (+0,0%)], Armand Ardika, membenarkan pemberitaan bahwa telah terjadi konflik yang mengakibatkan sedikitnya tiga orang tewas dan belasan lainnya luka-luka. Ia menyayangkan terjadinya peristiwa yang berujung fatal dan membuat suasana di lokasi budidaya udang nasional tersebut menjadi sangat tidak kondusif.

"Kami menilai hal ini akan berdampak langsung terhadap kelangsungan budidaya para petambak di lokasi. Sekaligus kami menyerukan agar perlindungan terhadap hak asasi para petambak maupun para karyawan di lokasi CBP dapat tetap dipertahankan," ujar Armand, seperti dikutip dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Minggu (17/3). Manajemen CPRO berharap agar proses penegakan hukum dapat dijalankan dengan seksama agar peristiwa yang memilukan ini tidak terulang kembali.

Ketegangan terjadi menyusul tindakan petambak plasma dari Ketua Forum Silaturahmi Bratasena yang berinisiatif mengeluarkan sejumlah peralatan bekas di areal tambak untuk dijual. Hal itu dilakukan petambak untuk bertahan hidup menyusul dihentikannya pinjaman bulanan dari CBP senilai Rp1,5 juta berikut kebutuhan pokok.

Hambat Restrukturisasi
Bagi CPRO, kabar ini dinilai akan sedikit menganggu proses perbaikan kinerja operasionalnya. Sebelumnya, manajemen CPRO memang berniat memperbaiki kinerja operasionalnya dan merestrukturisasi utang jangka pendeknya senilai US$325 juta melalui anak usahanya Blue Ocean Resources Ltd.

Restrukturisasi utang jangka pendek itu dilakukan dengan menerbitkan surat utang dengan bunga lebih rendah dan jatuh tempo lebih lama. Surat utang itu dijaminkan dengan jaminan aset perseroan (corporate guarantee) dan anak usahanya yakni PT Central Panganpertiwi, CBP, dan PT Centralwindu Sejati. Pelunasan surat utang berbunga 2%-8% itu, akan dicicil setiap enam bulan setelah tahun kelima, sebanyak lima kali cicilan sebesar US$ 16,25 juta, sedangkan sisanya baru dibayarkan di 2020 mendatang. Upaya merestrukturisasi utang tersebut  harus mendapatkan persetujuan dari RUPSLB karena lebih dari 50% ekuitas. Hinga akhir Maret 2012, perseroan mencatatkan ekuitas sebesar Rp 381,47 miliar.

Pada 2007 silam, CPRO menerbitkan surat utang sebesar US$ 325 juta dengan tenor lima tahun dan tingkat suku bunga sebesar 11% per tahun yang dibayarkan setiap enam bulan. Sayangnya, sejak semester kedua 2009, pembayaran bunga obligasi tengah tahunan yang jatuh tempo pada 28 Desember 2009 hingga 30 Juni 2012 bernilai US$ 107,2 juta belum dibayarkan. Hal tersebut membuat pemegang obligasi mempunyai hak untuk menyatakan utang obligasi dalam kondisi gagal bayar (default) dan meminta seluruh jumlah pinjaman obligasi menjadi utang segera yang wajib dibayar.

Kinerja operasional CPRO, khususnya di bidang produksi tambak udang perseroan, terganggu. Produksi di salah satu anak usahanya, PT Arjuna Wijaya Sakti, pada Mei 2011 terhenti akibat serangan virus Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV) sejak kuartal kedua 2009. Perdagangan saham CPRO telah dihentikan sementara (suspend) oleh otoritas BEI sejak 28 Juni 2010. (Rheza/kk)


 





loading.. loading.. loading..