Journalism Database & Technology  
 
 
News & Opinions | economy

Wednesday, November 09, 2016       18:56 WIB
Amerika Memilih Trump, Investor Global Kehilangan Harapan

Ipotnews - Kekhawatiran sebagian besar investor global menjadi kenyataan. Indeks harga saham di pasar global berguguran, diikuti rontoknya kurs dolar dan sebagian besar harga komoditas setelah Donald Trump terpilih sebagai presiden AS ke-45 hari ini.

Dalam sejumlah kesempatan Trump mengancam akan merobek kesepakatan perdagangan besar dan membentuk hambatan impor terhadap sejumlah negara seperti Meksiko dan China. Langkah tersebut dinilai akan menurunkan arus perdagangan, memperlambat pertumbuhan global yang sudah berat melaju, dan menyulut ketegangan geopolitik.

“Kampanyenya didasarkan pada tiga pilar - imigrasi, hambatan perdagangan dan restorasi sektor manufaktur. Tapi dia tak pernah benar-benar memberikan rencana yang jelas dan pesannya berubah-ubah,” kata Michael Purves, kepala strategi global di Weeden & Co. “Anda tak akan tahu bagaimana dia akan menjalankan rencananya,” imbuhnya, seperti dikutip Reuters (9/11).

Jack Ablin, kepala pejabat investasi BMO Private Bank, Chicago, meramalkan harga saham akan anjlok hingga 10 persen selama 10 hari mendatang, setelah Trump terpilih. “Pasar luar negeri, terutama emerging markets akan menanggung beban terberat,” ujarnya. “Pasar tersebut [emerging markets] banyak bergantung pada AS untuk menjual produknya, ketimbang AS menjual ke mereka,” Ablin menambahkan.

Kekacauan pasar juga bisa menggagalkan rencana Federal Reserve AS untuk menaikkan suku bunga pada Desember mendatang, dan mendorong bank sentral negara lain untuk semakin memperlonggar kebijakan moneternya.

“Ekuitas dan ekonomi sejatinya adalah tentang kepercayaan, yang mudah rapuh ... pergerakan ekuitas akan terpengaruh oleh Trump, kepemimpinan [Republiken],  the Fed dan data - dan apakah faktor-faktor tersebut bisa menimbulkan kepercayaaan atau sebaliknya,” kata David R. Kotok, kepala pejabat investasi Cumberland Advisors, Florida.

Investor kini memburu aset-aset safe haven tradisional, seperti obligasi pemerintah, yen Jepang dan emas. Banyak investor memperkirakan aset-aset emerging market seperti Meksiko, dan perusahaan-perusahaan yang berkorelasi dengannya, seperti saham AS dengan ekposur global, cenderung akan mengalami panic selling.

“Kita akan menyaksikan aksi jual aset-aset berisiko, terutama aset emerging market,” kata Omer Esiner, kepala analis pasar di Commenwealth Foreign Exchange, Washinton DC. “Kita sudah mulai menyaksikannya sekarang dan saya curiga setelah Trump menang kita akan menyaksikan keberlanjutan yang seperti ini,” ujar Esiner.

Beberapa investor menilai, terpilihnya Trump bisa berdampak lebih buruk dibanding dampak kasus Brexit. “Dengan Brexit, hanya ada satu hari buruk, tapi ini berbeda,” kata Donald Selkin kepala strategi pasar National Securities, New York.

“[Rencana] pemotongan pajaknya bisa memicu kenaikan besar-besaran defisit anggaran, dan sanksi dagang [yang ingin diterapkan Trump] bisa mengacaukan perdagangan dunia. Ini bisa menimbulkan resesi,” kata Selkin lagi.

Kalaupun saham global berusaha rebound setelah mengalami aksi jual besar-besaran, gain yang dihasilkan cenderung akan teredam oleh ketidakpastian apakah Trump akan mewujudkan retorika kampanyenya dengan kebijakan yang agresif.

“Kebijakan perdagangan AS yang lebih tertutup akan berdampak negatif pada perekonomian global secara lebih luas, terutama pada negara-negara yang bergantung pada perdagangan seperti Australia,” kata Craig James, kepala ekonom CommSec di Sydney. Kondisinya akan makin runyam jika Trump benar-benar menerapkan kebijakan konfrontasinya dengan China.

“Akan ada periode ketidakpastian yang lama terkait inisiatif kebijakan yang akan ditegakkan, seperti apa respon The Fed, bagaimana respon konsumen, dan apakah pebisnis hanya akan berpangku tangan saja,” kata David Joy, kepala strategi pasar Ameriprise Financial, di Boston.

“Pada akhirnya hal itu akan terbukti, peluang beli [yang muncul] di pasar ketika penurunannya cukup parah, saya ekspektasikan tidak akan pulih kembali dengan cepat,” imbuhnya. (Reuters/kk)    


 





loading.. loading.. loading..